Tribunners / Citizen Journalism
Mengenang 2 Tahun Almarhum Doni Monardo: Balada Nasi Padang
Hari ini, genap 2 tahun Letjen TNI Purn DR (HC) Doni Monardo meninggalkan kita semua (3 Desember 2023 – 3 Desember 2025).
Penulis: Egy Massadiah
*Jurnalis Senior
Catatan Penulis: Hari ini, genap 2 tahun Letjen TNI Purn DR (HC) Doni Monardo meninggalkan kita semua (3 Desember 2023 – 3 Desember 2025).
TRIBUNNERS - Rasanya masih segar dalam ingatan. Hari itu, Jumat 15 Januari 2021. Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo sedia berkunjung ke Sumedang, Jawa Barat bersama sejumlah anggota DPR RI dari Komisi 8, terkait bencana longsor.
Apa daya. Mendadak ia menerima kabar gempa dahsyat yang meluluhlantakkan Mamuju, Sulawesi Barat. Tanggap akan situasi darurat, ia mengalihkan kunjungan dari Sumedang menuju Mamuju.
Bukan hanya itu, sebelum bertolak, Doni masih sempat menginstruksikan staf Tanggap Darurat untuk segera menerbangkan 4 unit helikopter ke Mamuju.
Setiba di sana, miris hati melihat kondisi Mamuju dan nyaris rata tanah. Ibarat kata, tidak ada bangunan yang berdiri tegak. Jika tidak ambruk, ia miring. Kehidupan pun lumpuh. Aktivitas masyarakat terpusat pada kesibukan evakuasi bagi korban yang masih berada di reruntuhan bangunan.
Di sela-sela kesibukan mengkoordinir penanganan bencana, Doni terlintas mengenai pentingnya membuka dapur umum. Maklumlah, pasar-pasar tutup. Rumah makan tidak ada yang buka. Bahkan bangunan toko yang selamat pun tidak berani buka. Masyarakat benar-benar menderita trauma akan datangnya gempa susulan.
Atas arahan Doni, saya segera menghubungi Jony Azro, pengusaha restoran Padang yang masih terbilang kerabat. Saya pun menghubungi Jony, dan minta segera memberangkatkan tim juru masak untuk membuka dapur umum bagi kepentingan korban gempa Mamuju.
Tanggap akan pentingnya tugas kemanusiaan tersebut, Jony sigap menyatakan siap. Ia pun menutup dua restorannya yang ada di Rest Area Jalan Tol Ciakmpek KM 42 dan Km 62. Sebanyak 15 orang diminta segera bersiap-siap terbang ke Mamuju.
Bagian itu, tentu menjadi bagian penting dalam rangkaian kisah penanganan bencana alam di Mamuju. Karena itulah, sosok Jony menjadi menarik untuk kita dengar kisahnya.
Saat saya hubungi, Jony antusias menceritakan pengalamannya. “Sebanyak 15 karyawan saya minta ikut ke Mamuju. Selebihnya saya menghubungi Ikatan Keluarga Minang yang ada di Mamuju untuk siap-siap membantu,” ujar Jony.
Sadar mengenai kondisi Mamuju yang dilanda gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,2 SR, maka Jony pun membawa semua perlengkapan memasak dan aneka bumbu dari Jakarta. “Saya membawa kompor, kuali, peralatan masak, dan aneka bumbu. Saya bahkan membawa cabai seberat 1,5 ton,” ujar Jony, tertawa.
Selain cabai, ia juga membawa kunyit, laos, dan lain-lain. “Sebelum berangkat, pak Egy juga sempat pesan 400 kilogram daging rendang. Jadi, sebelum berangkat kami masak rendang dulu.
Sampai saat itu memang saya belum tahu kondisi yang sebenarrnya di sana. Pak Egy hanya bilang, ‘di sini tidak ada makanan’,” kata Jony menirukan kata-kata saya.
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/doni-monardo-kds.jpg)