Tribunners / Citizen Journalism
Mengenang 2 Tahun Almarhum Doni Monardo: Balada Nasi Padang
Hari ini, genap 2 tahun Letjen TNI Purn DR (HC) Doni Monardo meninggalkan kita semua (3 Desember 2023 – 3 Desember 2025).
Jony tahu betul, itu akan jadi masalah ketika Doni Monardo tahu. Jony hapal betul perangai bersih Doni Monardo. Akhirnya, Jony berinisiatif membangun instalasi pembuangan limbah. Ia mengatur water treatment.
Mulailah dilakukan pemilahan sampah atau limbah dapur. Setelah itu, persoalan bau dan lalat teratasi. “Air yang keluar ke selokan sudah bersih dan tidak bau,” kata Jony senang.
Taman kantor BPBD yang sempat tergenang air limbah, kini sudah bersih dan kembali asri. Aktivitas masak-memasak juga semakin terkelola dengan baik.
“Saya merekrut 15 pegawai restoran Padang di Mamuju yang menganggur karena restorannya tutup. Mereka semua perempuan, saya kerahkan untuk bagian membungkus,” tambahnya.
Bayangkan, untuk memenuhi kebutuhan 6.000 nasi bungkus per bari, ia memasak 1 ton beras, dengan enam rice cooker ukuran jumbo (kapasitas 32 liter). “Kalau rice cooker bisa ngomong, ia pasti akan bilang ‘aku lelah’,” ujar Jony sambil tertawa.
Kebutuhan sayur berupa kol, kacang panjang, daun singkong pun dipasok dari masyarakat Mamuju. “Masyarakata, utamanya petani sayur merasa terbantu sekali, karena semua sayur-mayur kami beli dengan harga pantas,” ujarnya.
Selain kewajiban memenuhi target 6.000 nasi bungkus, Jony juga kadang memasak lebih. Seperti misalnya untuk keperluan rapat di rumah dinas Gubernur (kantor gubernur luluh lantak), Jony juga menyumbang nasi box. “Pokoknya selama masa tanggap darurat, saya menyumbang tak kurang dari 1.500 porsi nasi padang,” ujar Jony.
Masa tanggap darurat 14 hari pun usai. Karena satu dan lain hal, akhirnya ditambah delapan hari lagi. Ia dan tim pun memperpanjang masa tinggal di sana untuk delapan hari ke depan. Bukan hanya menambah hari, tetapi ia juga mendapat tambahan tugas.
“Jika sebelumnya kami harus menyiapkan 6.000 bungkus, maka pada masa tambahan itu ditambah menjadi 9.000 bungkus. Masing-masing 3.000 bungkus untuk pagi, siang, dan malam,” katanya.
Mari berhitung. Untuk yang masa 14 hari, ia memasak 6.000 nasi bungkus per hari. Sedangkan yang 8 hari, ia menyiapkan 9.000 nasi bungkus per hari. Total, ia telah memasak 156.000 nasi bungkus! Itu belum termasuk 1.500 bungkus sumbangan pribadinya, serta ratusan box untuk keperluan rapat-rapat di rumah dinas Gubernur Sulbar.
Untuk itu, mau-tidak-mau, Jony harus menambah 3 rice cooker lagi. Ia menyuruh salah satu timnya ke Makassar untuk membeli tiga rice cooker besar. “Pagi berangkat, malam sudah tiba di Mamuju, dan besoknya sudah langsung kami pakai memasak,” kenangnya.
Nginap di Sultan
Pendek kisah, tugas 14 hari plus 8 hari di Mamuju pun berakhir. Kondisi Mamuju relatif tertata. Sudah mulai banyak dapur umum, terutama di lokasi-lokasi pengungsian. Para relawan yang bekerja di fase tanggap darurat, juga sudah mulai berkurang jumlahnya.
O ya, ada satu hal yang tak boleh tertinggal. Ini tentang cabai 1,5 ton yang ia bawa di awal kedatangannya dulu. Hingga hari terakhir tugas, ternyata ada sisa cabai 300 kg. “Semua sisa cabai dan bumbu-bumbu kami sumbangkan ke dapur-dapur umum dan masyarakat di Mamuju,” katanya.
Jony dan tim pun kembali ke Jakarta naik pesawat. Dari 15 anak buah, rata-rata belum pernah naik pesawat. Jadi mereka sangat senang. Hanya tiga orang yang pernah naik pesawat, ketika ia berangkatkan umrah.
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/doni-monardo-kds.jpg)