Tribunners / Citizen Journalism
Respon Kritis Atas Nomenklatur D3/D4 Apoteker Demi Selamatkan Marwah Profesi
FIB menegaskan bahwa terminologi ini merupakan bentuk degradasi kualifikasi yang tidak dapat ditoleransi secara logika pendidikan maupun hukum
Menolak terjebak dalam pasivitas, FIB bergerak taktis melakukan komunikasi dan koordinasi intensif dengan Direktorat Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan (Dirjen SDM Kesehatan) Kementerian Kesehatan RI.
Dalam audiensi tersebut, tercapai kesepahaman bahwa isu degradasi nomenklatur ini memiliki implikasi fatal bagi masa depan profesi. FIB menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Dirjen SDM Kesehatan yang merespons aspirasi ini dengan positif, sigap, dan berpihak pada kebenaran regulasi.
Sebagai tindak lanjut konkret, Dirjen SDM Kesehatan berkomitmen untuk segera mengirimkan surat resmi kepada Kemendikti Saintek. Surat tersebut memuat desakan revisi total terhadap dokumen yang bermasalah. Langkah
taktis ini membuktikan bahwa advokasi yang berbasis data dan keberanian bersuara adalah kunci dari perubahan kebijakan.
Refleksi Kritis: Menampar Ketidakpeduli
Dalam momentum yang sarat urgensi ini, FIB merasa perlu menyampaikan kritik otokritik (self-criticism) yang tajam terhadap fenomena "keheningan" di kalangan elite organisasi profesi lainnya:
Kepada seluruh entitas dan rekan sejawat pemegang mandat organisasi yang masih terbuai dalam keheningan birokrasi: Dimanakah posisi dan suara lantang Anda saat pondasi 'rumah besar' profesi ini sedang digerogoti hingga ke akarnya? Apakah kenyamanan seremonial, rutinitas administratif, dan hiruk-pikuk seminar berbayar telah meninabobokan kewaspadaan hingga menumpulkan nalar kritis kita terhadap ancaman eksistensial yang nyata?
Sungguh sebuah ironi yang menyedihkan jika kita sibuk meneriakkan slogan 'Eksistensi Apoteker' di atas podium megah, namun seketika menjadi 'bisu' ketika kualifikasi profesi ini dikerdilkan menjadi seta diploma di atas kertas negara. Ketidakpedulian di saat genting ini bukan sekadar kelalaian, melainkan bentuk pengkhianatan intelektual terhadap sumpah yang kita ucapkan.
Marwah profesi tidak dijaga dengan tumpukan sertifikat atau retorika panggung, melainkan dengan keberanian menantang kebijakan yang tidak adil. Jangan sampai sejarah mencatat bahwa 'diam' dan 'cari aman' telah menjadi standar kompetensi baru bagi para pemimpin profesi masa kini. Jika Anda tidak marah melihat profesi ini dikecilkan, lantas apa gunanya organisasi yang Anda pimpin?"
Waspada Upaya Terstruktur dan Sistematis
FIB mengingatkan seluruh Apoteker Indonesia bahwa kemunculan terminologi "D3/D4 Apoteker" mengindikasikan adanya upaya yang terstruktur, sistematis, dan masif untuk mendegradasi posisi tawar dan marwah Profesi Apoteker dalam sistem kesehatan nasional.
Kelengahan kita hari ini adalah awal dari reduksi profesi di masa depan.
Oleh karena itu, FIB menyerukan kepada seluruh Apoteker Indonesia untuk bersatu, peduli, dan menajamkan nalar kritis.
Mari rapatkan barisan untuk mengawal proses revisi ini hingga tuntas. Kita membutuhkan persatuan yang nyata, bukan sekadar retorika.
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/apoteker-dkjd.jpg)