Tribunners / Citizen Journalism
Iran Vs Amerika Memanas
Mengupas Tuntas Keberhasilan Operasi Militer Amerika Serikat dan Israel di Iran
Sebuah sinkronisasi apik antara Mossad dan CIA menjadi titik kunci serbuan gabungan AS-Israel ke Jantung Iran yang menewaskan Khamenei
Di tengah kebingungan para operator radar yang mencoba menyalakan kembali sistem mereka yang sudah terlanjur lumpuh, gelombang kedua muncul dari ufuk laut.
Rudal-rudal jelajah Tomahawk yang diluncurkan dari kapal perusak kelas Arleigh Burke dan kapal selam bertenaga nuklir milik armada ke-5 AS di Teluk Oman mulai menghujani pangkalan rudal balistik IRGC di sepanjang pesisir.
Peran Intelijen Manusia
Ini adalah taktik "pembuka jalan" yang cukup cerdik sekaligus brutal. Amerika Serikat memegang peran sebagai penyapu ranjau, menghancurkan infrastruktur fisik, menara komunikasi, dan pangkalan peluncuran rudal yang diperkirakan dapat menghambat manuver Israel untuk merangsek lebih dalam ke jantung kekuasaan di Teheran.
Puncak dari drama berdarah ini terjadi pada pukul 10.30 pagi.
Fokus serangan bergeser secara spesifik ke Distrik Pasteur di Teheran, pusat saraf Korps Garda Revolusi Islam Iran dan kediaman para pemimpin tertinggi negeri Mullah.
Di sinilah intelijen manusia (HUMINT) menunjukkan taringnya. Berdasarkan data posisi yang sangat akurat yang didapat dari penyadapan perangkat mobile dan pengintaian lapangan, jet-jet F-35I melepaskan bom penembus bunker GBU-28.
Beton setebal puluhan meter yang dibangun untuk menahan kiamat nuklir sekalipun ternyata tidak berdaya menghadapi presisi kinetik ini.
Gedung-gedung pemerintahan runtuh seperti susunan kartu, menciptakan lubang menganga di pusat otoritas Iran. Dalam sekejap, komunikasi resmi dari Teheran terputus total, rantai komando dari atas ke bawah berantakan hanya dalam satu hentakan.
Serangan Gabungan dengan Komando Terpadu Multidomain
Keberhasilan serangan sangat bertumpu pada integrasi teknologi yang disebut sebagai Komando Terpadu Multidomain.
Selama serangan berlangsung, para pilot di kokpit jet tempur Israel berbagi layar yang sama dengan pusat komando AS di Al-Udeid, di Qatar.
Jika ada satu baterai rudal Iran yang mencoba bangkit di sudut terpencil Kerman atau Shiraz, kecerdasan buatan (AI) akan segera mengunci target tersebut dan mengirimkan perintah serangan kepada aset terdekat, baik itu drone MQ-9 Reaper milik AS yang berpatroli di ketinggian atau jet F-16I Sufa milik Israel yang sedang berputar-putar mencari mangsa.
Walhasil, tidak ada waktu bagi Iran untuk bernapas, apalagi melakukan reorganisasi pasukan daratnya.
Memasuki tengah hari, pukul 12.00, operasi beralih ke penghancuran aset maritim dan penguncian gerbang ekonomi Iran.
Kapal-kapal perang Iran yang mencoba keluar dari pangkalan Bandar Abbas untuk melakukan sabotase atau sekadar menutup Selat Hormuz justru menjadi sasaran empuk bagi jet tempur F-35C yang lepas landas dari kapal induk USS Abraham Lincoln.
Kapal korvet kelas Jamaran, simbol kedaulatan laut Iran, tenggelam ditelan ombak Teluk Persia setelah dihantam rudal anti-kapal jarak jauh.
Laut yang biasanya menjadi arena gertakan dan provokasi Iran sebelumnya kini berubah menjadi kuburan besi tua dalam hitungan jam. AS memastikan bahwa tidak ada satu pun proksi Iran yang bisa menerima pasokan senjata atau bantuan logistik lewat jalur air selama operasi berlangsung.
Sementara itu, di darat, kepanikan luar biasa melanda publik Iran. Hilangnya akses informasi memperburuk keadaan secara eksponensial.
Stasiun televisi pemerintah dan jaringan internet dilumpuhkan melalui serangan siber lapis kedua.
Sebagai gantinya, siaran propaganda yang dikendalikan oleh unit perang psikologis gabungan memenuhi frekuensi udara, menyebarkan berita tentang jatuhnya para petinggi rezim.
Kabar kematian Ayatollah Ali Khamenei dan Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh menyebar dengan cepat melalui frekuensi radio darurat. Bukti-bukti visual dari drone pengintai yang menyiarkan reruntuhan kompleks Pasteur secara langsung mulai meyakinkan publik bahwa raksasa yang mereka takuti selama ini telah tumbang. Di beberapa sudut kota, terlihat tanda-tanda kerusuhan sipil saat masyarakat menyadari bahwa perisai besi rezim telah hancur.
Melihat kehancuran ini, sisa-sisa pasukan IRGC yang masih memiliki akses ke silo-silo rudal terpencil sempat mencoba melakukan serangan balasan pada pukul 14.00. Mereka meluncurkan sekitar 200 rudal balistik ke arah Tel Aviv dan pangkalan-pangkalan AS di Teluk. Namun, di sinilah salah satu kelebihan teknologi pertahanan Barat menunjukkan kelasnya.
Kombinasi sistem Arrow-3 milik Israel dan baterai THAAD milik Amerika membentuk "kubah besi" yang hampir tidak tertembus. Langit di atas Israel dipenuhi kilatan cahaya saat sistem interceptor menghancurkan rudal Iran sebelum sempat masuk ke wilayah berpenduduk. Kegagalan serangan balasan ini menjadi paku terakhir pada peti mati pertahanan Iran, membuktikan bahwa kemampuan ofensif mereka pun kini terbukti sudah usang di hadapan teknologi abad ke-21.
Menjelang sore hari, pukul 16.00, skala kehancuran menjadi semakin jelas, terutama bagi para pengamat satelit internasional. Lebih dari 500 titik sasaran militer strategis telah dilumatkan. Fasilitas manufaktur drone Shahed yang selama ini menebar teror di Ukraina dan perbatasan Israel kini rata dengan tanah.
Bunker-bunker penyimpanan uranium di bawah pegunungan yang sangat dalam sudah bukan lagi menjadi tempat yang aman. Seluruh operasi besar ini diselesaikan dalam waktu kurang dari enam jam, sebuah durasi yang sangat singkat untuk meruntuhkan kekuatan militer yang dibangun dengan susah payah selama empat dekade sejak Revolusi Islam di Iran pada 1979.
Peneguhan Posisi AS-Israel
Dari kacamata geostrategi, keberhasilan operasi 28 Februari 2026 ini menegaskan kembalinya dominasi mutlak Amerika Serikat di Timur Tengah, sekaligus memposisikan Israel sebagai polisi regional yang masih tidak tersentuh.
Aliansi ini berhasil menunjukkan bahwa batas-batas kedaulatan sebuah negara kini tidak lagi ditentukan oleh luas wilayah atau jumlah tentara, tapi oleh sejauh mana teknologi radar dan intelijen mereka mampu bertahan dari penetrasi siber dan udara.
Iran, yang selama bertahun-tahun membangun strategi "perang asimetris" melalui jaringan milisi di Lebanon, Yaman, dan Irak, tiba-tiba menemukan dirinya lumpuh di pusat kuasanya sendiri. Tanpa komando pusat yang koheren di Teheran, proksi-proksi Iran kini bak anak ayam kehilangan induk, terputus dari pendanaan dan arahan taktis dari Teheran.
Serangan gabungan Amerika Serikat-Israel ini, dalam hemat saya, akan menjadi mahakarya militer yang kontroversial tapi sekaligus sangat efisien.
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Jannus-TH-Siahaan-seorang-pengamat-kebijakan-publik.jpg)