Tribunners / Citizen Journalism
Berkah Ramadan dari Vatikan untuk Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia resmi menjadi bahasa ke-57 yang dipakai oleh portal berita Vatikan (Vatican News)
Ketiadaan kejelasan ini menggelayuti tim PWKI yang dijadwalkan berangkat pada November 2025.
Di saat bersamaan kami mendapatkan amanah untuk mewujudkan buku dwi bahasa tentang 75 tahun hubungan diplomasi Indonesia-Vatikan, lagi-lagi tak mudah karena harus berjibaku dengan lika-liku birokrasi antar dua negara. Tak mudah.
Entah nasib atau kebetulan, keberangkatan saya sebagai salah satu editor buku tersebut ke Vatikan terhalang karena kegagalan mendapatkan visa Schengen.
Terpaksalah, tim PWKI di akhir November 2025 sekadar rombongan umroh. Saya pun bisa lebih fokus pada finalisasi buku yang sepenuhnya tidak menggunakan uang APBN.
Memasuki tahun 2026, keinginan mewujudkan Bahasa Indonesia semakin menguat seiring pidato Presiden Prabowo tentang kebijakan ‘Good Neighbour Policy’ dalam Business Summit di Kamar Dagang Amerika Serikat di Washington pada 18 Februari 2026.
Beruntungnya kami, para wartawan dalam rombongan 2026 mendapatkan dukungan khusus dari Raja Sapta Oktohari, Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) untuk mendapatkan visa Schengen.
Uniknya, rekomendasi visa justru diberikan oleh Dubes kita di Prancis, Mohamad Oemar dan Atase Pertahanan (Athan) RI untuk Prancis, Marsekal Pertama (Marsma) TNI Hendra Gunawan dengan bantuan lobi sahabat di Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI.
Pihak KWI yang paling berkepentingan juga memberikan kabar perihal finalisasi naskah kerjasama. Berkali komunikasi daring dan luring terjadi antara PWKI dan KWI mematangkan rencana keberangkatan ke Roma.
Komunikasi luring tak hanya terjadi di Jakarta, namun di Surabaya karena Uskup Keuskupan Surabaya, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo sehari-harinya tidak berada di Ibu Kota.
Namun, mendadak konflik meletup di Teluk Persia. Rudal balistik dan drone beterbangan. Ruang udara di wilayah Teluk ditutup. Penerbangan kami yang direncanakan dilakukan pada 20 Februari, tepat di malam Ramadan menjadi tidak pasti.
Entah saat nekad bertemu tekad, ruang udara Dubai dibuka. Rombongan PWKI sukses mencapai Roma dan MoU berhasil diwujudkan. Rombongan bahkan bertemu Paus Leo XIV secara langsung.
Namun setelah kebahagiaan penuh syukur ini, pertanyaan besar muncul: bagaimana mewujudkan kesepakatan itu secara konsisten? Akan menjadi preseden buruk jika Bahasa Indonesia tak konsisten hadir di portal berita Vatikan.
Ini yang harus dijawab umat, Gereja dan Pemerintah Indonesia!
///////////////
Penulis: Algooth Putranto
Director of Community Evident Institute
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/dr-algooth-putranto-1.jpg)