Tribunners / Citizen Journalism
Iran Vs Amerika Memanas
Perang AS–Israel vs Iran Bisa Bangkitkan Sel Tidur Teroris di Indonesia
Perang AS–Israel–Iran memicu ancaman sel tidur radikalisme di Indonesia, propaganda digital jadi bahan bakar ideologi.
Ancaman terbesar bukan dari kelompok besar terorganisir, melainkan dari individu-individu lone wolf dan sel kecil berkapasitas rendah namun bermotivasi tinggi yang justru paling sulit dideteksi.
Yang memperparah situasi adalah warisan digital. Manual-manual bom peninggalan Bahrun Naim, warga Indonesia yang bergabung ISIS di Suriah dan tewas 2018, kini beredar bebas sebagai e-book di berbagai platform. Ia telah menjadi “bacaan wajib” bagi siapa pun yang berniat melancarkan serangan, tanpa perlu bimbingan langsung dari jaringan manapun.
Pembubaran Jemaah Islamiyah pada 2024 adalah pencapaian penting. Namun Jones memperingatkan, JI memiliki sejarah panjang perpecahan, dan selalu ada kemungkinan munculnya sempalan yang tidak menerima keputusan pembubaran.
Konflik AS–Israel–Iran, dengan simbolisme globalnya yang luar biasa, bisa menjadi justifikasi ideologis bagi mereka untuk bangkit kembali. Di sisi lain, jaringan Jemaah Ansharut Tauhid (JAT) yang berafiliasi ISIS masih eksis. Kapolri pun pernah memperingatkan secara resmi bahwa konflik Palestina telah membangkitkan sel-sel terafiliasi teroris.
Ancaman yang Lebih Dalam, Normalisasi Kebencian
Jones mengemukakan argumen paling orisinalnya: bahaya terbesar bagi Indonesia bukan hanya bom yang meledak, melainkan normalisasi narasi kebencian di ruang publik. Ceramah, media sosial, dan organisasi legal yang beroperasi terang-terangan secara perlahan menggeser batas toleransi masyarakat, dan pada akhirnya menyediakan “reservoir” rekrutmen bagi sel-sel kekerasan. Ideologi radikal mengisi kekosongan makna yang dialami individu, akibat ketimpangan sosial atau disrupsi identitas, dengan narasi kepastian mutlak yang menjanjikan kepahlawanan.
Tren positif dua tahun terakhir, zero terrorist attack dan pembubaran JI, adalah modal yang tidak boleh disia-siakan, sekaligus tidak boleh membuat lengah. Densus 88 dan BNPT perlu memantau secara ketat mantan narapidana terorisme dan memetakan ulang jaringan pesantren afiliasi JI.
Namun pendekatan keras saja tidak cukup. Program deradikalisasi harus direformasi. Bukan sekadar indoktrinasi Pancasila, melainkan pendekatan berbasis komunitas yang menangani pemicu konkret di lapangan, dengan melibatkan NU, Muhammadiyah, dan tokoh agama moderat sebagai garis pertahanan terdepan.
Indonesia tidak boleh menjadi medan resonansi konflik global. Solidaritas terhadap korban adalah sikap moral yang sah, tetapi membiarkan emosi kolektif berubah menjadi pembenaran kekerasan adalah jebakan yang telah berulang kali merenggut nyawa tak berdosa di negeri ini.
Perlu antisipasi komprehensif menghadapi kemungkinan-kemungkinan terburuk dari dampak perang AS-Israel versus Iran yang menghiasi halaman-halaman berita di rumah-rumah kita melalui telfon pintar dan kanal-kanal lainnya. Apakah kita sudah melakukannya?
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.