Jumat, 15 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Belajar dari Masyarakat Asmat, Kendaraan Listrik Lebih Mendesak bagi Daerah Krisis BBM

Masyarakat di Kabupaten Asmat sudah memberikan contoh, ketika menghadapi kesulitan mendapatkan BBM, kendaraan listrik sebagai solusi bermobilitas.

Tayang:
Editor: Choirul Arifin
Tribunnews.com/dok.
JADI SOLUSI MOBILITAS - Kendaraan listrik menjadi solusi bermobilitas bagi sebagian warga di Kabupaten Asmat, Papua, ketika menghadapi kesulitan mendapatkan pasokan bahan bakar minyak (BBM). 

Dengan adanya moda transportasi yang efisien dan murah, mobilitas warga untuk mengangkut hasil bumi atau keperluan logistik harian menjadi lebih lancar. Hal ini mendorong perputaran ekonomi mikro di tingkat kabupaten tanpa harus terbebani biaya transportasi yang tinggi.

Pejabat bahkan bupati juga naik motor listrik. Kalau ditanya kenapa, karena memang itu yang paling nyaman dan aman di Kab. Asmat. Bahan bakar minyak, hanya digunakan untuk kendaraan laut seperti kapal kayu bermotor atau speedboat.

Ada beberapa anggota kepolisian dan tentara yang memiliki motor BBM, tetapi jumlahnya hanya sedikit (Kompas, 13 Mei 2026).

Semua warga menggunakan motor listrik dengan jenis empat hingga enam baterai. Setiap baterai memiliki kapasitas rata-rata 20-22 ampere-hour (Ah).

Sekarang juga sudah ada motor dengan enam baterai. Dulu sempat ada yang buka SPKLU khusus baterai, tapi tidak bertahan lama karena orang lebih memilih cas di rumah. Sekali isi daya bisa 8-10 jam per hari.

Salah satu faktor minimnya kendaraan BBM karena saat itu (2006-2007) harganya masih sangat mahal dan pasokan terbatas.

Sebelum ada kebijakan BBM satu harga, harga BBM bisa mencapai Rp 60.000 per liter. Karena memang dari awal sudah pakai kendaraan listrik, jadi bengkel-bengkel di sini, khusus motor listrik. Onderdil yang dijual juga khusus untuk itu.

Saat yang tepat

Jika masyarakat Agats bisa bertransisi ke kendaraan listrik, tentunya masyarakat di kota-kota lain juga bisa beralih ke kendaraan listrik. Saat ini merupakan saat yang tepat untuk transisi.

Kota Agats, sudah memberikan contoh sebuah wilayah yang mengalami kesulitan distribusi BBM tidak selalu mempertahankan penggunaan kendaraan bermotor bakar.

Mereka mau beralih menggunakan kendaraan bermotor listrik. Seharusnya mereka perlu diberikan penghargaan untuk itu.

Saat ini, Indonesia sedang mengalami krisis energi, terutama BBM. Data yang dikumpulkan dari BPS, Kemenhub dan Kompas, saat ini, populasi kendaraan listrik baru mencapai 333.561 unit atau sekitar 0,19 persen dari total kendaraan (2025).

Pemerintah menargetkan angka ini tumbuh hingga 10 persen untuk menekan konsumsi BBM nasional, sektor transportasi menyumbang 40 persen dari total penggunaan saat ini.

Antrean terjadi di SPBU hampir di semua daerah. Pasalnya, karena ketergantungan pada energi tak terbarukan. Untuk itu, daerah-daerah di Indonesia yang kesulitan distribusi BBM dapat mencontoh Kabupaten Asmat dengan menggunakan kendaraan listrik.

Ongkos angkut distribusi BBM dapat dihemat. Sebaiknya mengembangkan kendaraan listrik di daerah yang kesulitan mendapatkan BBM. Kendaraan listrik dapat digunakan untuk transportasi lokal.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved