Imbas Perang Dagang, INDEF Sebut Investor Pindah Investasi ke Mata Uang Selain Dolar AS
dolar AS kini justru melemah di pasar mata uang, jika dibandingkan dengan mata uang lain seperti Euro bahkan Yen.
Penulis:
Nitis Hawaroh
Editor:
Sanusi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listyanto berpendapat, para investor berpindah investasi ke mata uang global selain Dolar Amerika Serikat (AS), dipicu dampak perang dagang Presiden AS Donald Trump.
Menurutnya, dolar AS kini justru melemah di pasar mata uang, jika dibandingkan dengan mata uang lain seperti Euro bahkan Yen.
Baca juga: China Tak Takut Perang Dagang, Tolak Tunduk Meski Trump Permainkan Tarif Impor
"Nah ternyata pilihan mereka kalau dilihat dari sisi ini adalah lebih kepada mata uang global yang lain selain dolar Ada Euro, ada Swiss Franc, ada Yen gitu," kata Eko dalam diskusi Perang Dagang dan Guncangan Pasar Keuangan secara virtual pada Kamis (17/4/2025).
Eko menyatakan, beberapa mata uang tersebut bisa dikatakan sebagai investasi yang aman dibandingkan dengan dolar AS setelah situasi perang dagang Amerika Serikat dengan China memanas.
Baca juga: Utang Luar Negeri Indonesia Februari 2025 Turun, Jadi 427,2 Miliar Dolar AS
"Sehingga kemudian tidak satu-satunya kemudian akan mendorong para investor itu untuk kemudian membeli obligasi Amerika Serikat atau beralih kepada obligasi Amerika Serikat. Justru investor menilai tingkat resiko dari ekonomi Amerika Serikat meningkat," ujar Eko.
"Shingga kemudian mereka meminta imbalan hasil yang lebih tinggi gitu untuk obligasi Amerika Serikat ya terutama yang tenornya jangka pendek gitu. Jadi itu segambaran bahwa ada masalah ini dalam perekonomian dan juga itu sudah diperkirakan oleh para investor gitu. Sehingga kemudian mereka lebih memilih ke yang lain," imbuhnya menegaskan.
Di sisi lain, Eko menyadari bahwa emas juga menjadi salah satu pilihan investor dalam menyimpan asetnya. Terlebih, investasi emas ini tidak mengenal batas ruang sehingga masyarakat kelas menengah dan bawah memiliki tabungan emas.
"Ya emas memang dari dulu ya sudah menjadi safe haven dan salah satu yang memang mudah dicerna dalam konteks investasi ya dibandingkan antara mata uang itu lebih sophisticated," ujar Eko.
Tapi kalau emas kan masyarakat bawah pun atau kelas menengah lah itu juga yang punya tabungan ya itu lebih mudah gitu, yang punya emas harganya bisa naik ya bisa turun juga gitu dalam konteks itu mereka gampang dan memang aksesnya mungkin juga lebih mudah ya lebih banyak lebih familiar lah kira-kira gitu," sambungnya.
Ekonom Pertanyakan Data Pertumbuhan Ekonomi BPS 5,12 Persen, Tidak Ada Momentum Ramadan |
![]() |
---|
Sektor Jasa Keuangan RI Stabil, OJK: Tensi Perang Dagang Reda |
![]() |
---|
INDEF Nilai Tindakan PPATK Blokir Rekening Tidak Aktif Bisa Buat Masyarakat Enggan Menabung |
![]() |
---|
Ekonom INDEF Sebut Tindakan PPATK Blokir Rekening Tidak Aktif Terlalu Ekstrem dan Gegabah |
![]() |
---|
Indef Beberkan Tiga Strategi Hadapi Tarif Trump, Pemerintah Diminta Contoh Vietnam |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.