Sabtu, 11 April 2026

Percepat Transisi Rendah Karbon, Prinsip ESG Menjadi Keharusan Bagi Dunia Usaha

Semua program industri nasional harus selaras dengan prinsip ESG dan visi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
KESEIMBANGAN BISNIS - Perkantoran dan pemukiman di Jakarta. Prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) kini menjadi keharusan bagi dunia usaha. 

Ringkasan Berita:
  • Prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola menjadi keharusan bagi dunia usaha.
  • Kolabolarasi mempercepat transisi rendah karbon dan memperkuat kesiapan Indonesia menuju ekonomi berkelanjutan.
  • Simposium tahun ini akan memuat tiga sesi utama, yaitu dekarbonisasi, ekonomi sirkular, dan kolaborasi PPPP.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - SCG Indonesia akan menyelenggarakan ESG Symposium Indonesia 2025 pada 2 Desember di Jakarta, untuk mempercepat transisi rendah karbon dan memperkuat kesiapan Indonesia menuju ekonomi berkelanjutan.

Acara tahunan tersebut dirancang sebagai platform kolaboratif yang mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi, lembaga keuangan, dan masyarakat sipil.

President Director PT SCG Indonesia, Pattaraphon Charttongkum, menyampaikan bahwa prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) kini menjadi keharusan bagi dunia usaha.

Baca juga: COP30 Capai Kesepakatan Aksi Iklim, tapi Gagal Singgung Penghapusan Bahan Bakar Fosil

ESG adalah singkatan dari Environmental, Social, and Governance , yaitu tiga faktor utama yang digunakan untuk mengukur keberlanjutan dan dampak etis dari sebuah perusahaan.

Konsep ini digunakan untuk menilai bagaimana perusahaan menyeimbangkan keuntungan bisnis dengan tanggung jawab terhadap lingkungan, masyarakat, serta menerapkan praktik manajemen yang baik, transparan, dan akuntabel.

“ESG bukan lagi pilihan, tapi sebuah keharusan. Ini diperlukan bukan hanya untuk keberlanjutan perusahaan, tetapi untuk dunia dan generasi berikutnya,” ujar Pattaraphon dalam keterangannya, Selasa (25/11/2025).

ESG Symposium Indonesia tahun ini mengangkat tema “Decarbonizing for Our Sustainable Tomorrow” dengan fokus pada percepatan dekarbonisasi, penguatan sirkularitas, dan adopsi teknologi bersih.

Menurutnya, SCG telah menjalankan berbagai program keberlanjutan yang telah dijalankan di Indonesia, antara lain pengembangan masyarakat melalui SCG Mentari, program pemberdayaan pemuda, dan beasiswa yang telah diberikan kepada hampir 5.000 pelajar selama 13 tahun.

“Semua program kami harus selaras dengan prinsip ESG dan visi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045,” kata Pattaraphon.

ESG Steering Committee PT SCG Indonesia, Pathama Sirikul, menekankan pentingnya platform kolaboratif yang mendorong partisipasi publik–swasta–masyarakat.

“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Jika dunia usaha menjadi bagian dari masalah, maka dunia usaha harus menjadi bagian dari solusi,” ujarnya. 

Ia menjelaskan bahwa simposium tahun ini akan memuat tiga sesi utama, yaitu dekarbonisasi, ekonomi sirkular, dan kolaborasi PPPP (Public–Private–People Partnership).

Dalam sesi dekarbonisasi, SCG akan memamerkan teknologi pengurangan emisi dan peningkatan kualitas udara, termasuk paparan dari perusahaan global.

Sementara sesi ekonomi sirkular akan menampilkan berbagai solusi pemanfaatan sampah, mulai dari waste-to-energy.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved