Gubernur BI Jelaskan Penyebab Nilai Tukar Rupiah Melemah hampir Rp 17.000 Per Dolar AS
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan, pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik
Ringkasan Berita:
- Perry menyebut terdapat faktor domestik yang turut menekan nilai tukar rupiah
- Perry menyebut bahwa pelemahan nilai tukar ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan di beberapa negara
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan, pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik.
Hal tersebut merespon pelemahan nilai tukar rupiah yang hampir menyentuh Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) beberapa hari belakangan.
Menurut Perry, penyebab pelemahan rupiah ini terdiri dari sisi global dan domestik. Dia bilang, tekanan berasal dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik, kebijakan tarif Amerika Serikat, serta tingginya imbal hasil (yield) US Treasury, baik tenor 2 tahun maupun 3 tahun.
Baca juga: IHSG Naik tapi Rupiah Melemah, Begini Penjelasan Ekonom Bank Permata
"D samping juga kondisi-kondisi lain yang menyebabkan dolar menguat dan terjadi aliran modal keluar dari emerging market ke negara maju termasuk Amerika. Seperti tadi kami sampaikan pada tahun 2026 ini terjadi net outflow 1,6 miliar dolar AS data hingga 19 Januari 2026," ujar Perry saat Konferensi Pers secara virtual, Rabu (21/1/2026).
Perry menyebut terdapat faktor domestik yang turut menekan nilai tukar rupiah. Salah satunya adalah meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) dari sejumlah korporasi besar, seperti Pertamina, PLN, hingga Danantara. Bahkan proses pencalonan Deputi Gubernur BI turut memengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah.
Meskipun Perry menegaskan proses pencalonan Deputi Gubernur BI sesuai undang-undang tata kelola dan tidak memengaruhi pelaksanaan tugas dan kewenangan BI, yang tetap profesional dan tata kelola yang kuat.
"Juga persepsi pasar, ini persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan juga proses pencalonan deputi gubernur," ungkap Perry.
Perry menyebut bahwa pelemahan nilai tukar ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan di beberapa negara. Namun, Bank Indonesia menegaskan siap melakukan langkah stabilisasi nilai tukar rupiah secara tegas dan terukur.
Ia menegaskan, stabilisasi rupiah didukung oleh kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang kuat, seperti imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang membaik.
"Kami tegaskan BI tidak segan-segan kami melakukan intervensi dalam jumlah besar, baik di intervensi non deliverable forward, maupun di dalam negeri non deliverable forward di pasar luar negeri maupun di dalam negeri spot dan DNDF," ucap Perry.
"Kami akan jaga stabilitas nilai tukar rupiah dan akan membawanya untuk menguat didukung oleh kondisi fundamental ekonomi kita yang baik termasuk imbal hasil yg menarik, inflasi yang merendah, demikian juga prospek ekonomi yang membaik," imbuhnya.
Baca juga: Rupiah Kembali Melemah Setelah Sempat Menguat Tipis di Level Rp 16.953 per Dolar AS
Meski begitu Perry meyakini bahwa nilai tukar rupiah akan menguat didukung oleh kecukupan cadangan devisa Indonesia.
"Cadangan devisa kami cukup besar dan lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah," kata Perry.
"Kami meyakini rupiah akan stabil dan bahkan akan cenderung menguat," sambungnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/gubernur-bi-perry-warjiyo__.jpg)