Implementasi Teknologi Penyimpanan Baterai Dibutuhkan di Fase Transisi Energi
Founder Fedora Group Indonesia Felix Cai mengatakan, penyimpanan energi menjadi salah satu komponen penting dalam sistem kelistrikan modern.
Ringkasan Berita:
- Fase transisi energi menuju energi terbarukan membutuhkan sistem penyimpanan energi untuk menjaga stabilitas pasokan, khususnya pada sektor komersial dan industri.
- Pemanfaatan energi terbarukan menghadapi tantangan karena sifatnya yang tidak selalu stabil dan karenanya, membutuhkan sistem penyimpanan agar pemanfaatan energi dapat terkontrol.
- Penggunaan sistem penyimpanan energi baterai atau Battery Energy Storage System (BESS) membutuhkan perencanaan jangka panjang.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Transisi energi di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan penambahan kapasitas pembangkit energi terbarukan, tetapi juga dengan pengelolaan pasokan listrik yang bersifat fluktuatif.
Salah satu isu yang kerap dibahas adalah munculnya kebutuhan sistem penyimpanan energi untuk menjaga stabilitas pasokan, khususnya pada sektor komersial dan industri.
Founder Fedora Group Indonesia Felix Cai mengatakan, penyimpanan energi menjadi salah satu komponen penting dalam sistem kelistrikan modern.
Baca juga: Panas Bumi Jadi Andalan Transisi Energi, Analis Nilai Prospek PGEO Masih Menarik
“Pemanfaatan energi terbarukan membawa tantangan tersendiri karena sifatnya yang tidak selalu stabil. Sistem penyimpanan diperlukan agar energi dapat dimanfaatkan secara lebih terkontrol,” ujarnya dikutip Jumat, 23 Januari 2026.
Menurut Felix, penggunaan sistem penyimpanan energi baterai atau Battery Energy Storage System (BESS) tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga perencanaan jangka panjang.
“Setiap fasilitas memiliki kebutuhan energi yang berbeda, sehingga pendekatan sistem harus disesuaikan dengan kondisi operasional dan proyeksi ke depan,” katanya.
Karena itu, operasi Fedora Group Indonesia di Indonesia fokus pada kegiatan integrasi energi terbarukan dengan sistem penyimpanan energi baterai (BESS).
Sistem tersebut umumnya digunakan untuk membantu pengaturan beban, menjaga kontinuitas listrik, serta menyediakan daya cadangan ketika terjadi gangguan pada jaringan utama.
Dia juga menekankan, implementasi sistem energi memerlukan koordinasi lintas pihak, mulai dari perencanaan teknis hingga pelaksanaan di lapangan.
Dalam praktiknya, hal ini melibatkan kerja sama dengan mitra teknologi dan kontraktor pelaksana untuk memastikan sistem dapat beroperasi sesuai standar keselamatan dan regulasi yang berlaku.
Baca juga: Eddy Soeparno Tegaskan Indonesia Sudah Masuk Fase Krisis Iklim, Transisi Energi Tak Bisa Ditunda
Pengamat energi menilai bahwa keterlibatan pelaku swasta dalam pengembangan teknologi penyimpanan energi dapat menjadi bagian dari ekosistem transisi energi nasional, selama selaras dengan kebijakan dan kebutuhan sistem kelistrikan Indonesia.
Diskusi mengenai efisiensi, ketahanan energi, serta kesiapan infrastruktur diperkirakan akan semakin relevan menjelang target energi bersih 2030.
Felix Cai menambahkan, keputusan adopsi teknologi energi perlu didasarkan pada kajian teknis dan ekonomi yang matang.
“Teknologi hanyalah alat. Yang terpenting adalah bagaimana sistem tersebut benar-benar menjawab kebutuhan pengguna dan kondisi di lapangan,” tegasnya.
Indonesia merupakan salah satu pasar luar negeri bagi Fedora Group yang selama ini berbasis di Australia.
Ekspansi ke Indonesia dilakukan untuk menangkap peluang baru di tengah upaya Pemerintah Indonesia dan pelaku industri dalam mendorong transisi menuju energi yang lebih rendah emisi dan peningkatan keandalan sistem kelistrikan nasional.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/solar-panel-penyimpanan-energi.jpg)