Persaingan Industri Baja Kian Ketat, Tata Metal Bertahan Lewat Strategi Kualitas dan TKDN Tinggi
rata-rata TKDN produk Tata Metal berada di kisaran 62-64 persen, termasuk yang tertinggi di industri baja nasional.
Ringkasan Berita:
- Vice President Operations PT Tata Metal Lestari Stephanus Koeswandi, mengakui persaingan industri baja tahun ini tidak mudah
- Saat ini produk Tata Metal sudah diekspor ke 25 negara, termasuk Amerika Serikat dan Kawasan Eropa
TRIBUNNEWS.COM, PURWAKARTA - Industri baja nasional masih menghadapi tekanan berat akibat banjirnya impor baja, khususnya dari Tiongkok, yang mulai terasa sejak 2024 dan berlanjut hingga saat ini.
Tekanan tersebut memaksa pelaku industri nasional untuk mencari strategi baru agar tetap bertahan dan memiliki daya saing.
Salah satu pendekatan yang dipilih adalah tidak lagi bertumpu pada kuantitas, melainkan mengedepankan kualitas produk dan peningkatan nilai tambah.
Baca juga: Investasi CGL 2, Tata Metal Siap Ekspor Baja Rendah Emisi
Vice President Operations PT Tata Metal Lestari Stephanus Koeswandi, mengakui persaingan industri baja tahun ini tidak mudah.
"Persaingannya tentu cukup sulit, karena kalau kita hanya fokus pada peningkatan kuantitas tentu kita tidak bisa bersaing dengan baja dari Tiongkok ataupun dari negara-negara tetangga, karena secara kuantitas sangat besar sekali kapasitas produksi mereka," ungkap Stephanus saat acara Ground Breaking Continuous Galvanizing Line (CGL) 2 PT Tata Metal Lestari di Sadang, Purwakarta, Jawa Barat, Senin (26/1/2026).
Menghadapi kondisi tersebut, Tata Metal memilih masuk dari sisi yang berbeda dengan menitikberatkan pada peningkatan kualitas produk.
Strategi ini diyakini mampu membuka akses ke pasar global yang memiliki standar tinggi seperti Eropa dan Amerika Serikat.
"Kita meningkatkan kualitas karena kami percaya bahwa dengan kualitas ini, dengan bisa masuk ke pasar Eropa, bisa masuk ke pasar Amerika, baja kita akan menjadi baja yang memiliki nilai tambah yang jauh lebih tinggi," terangnya.
Baca juga: Industri Baja Nasional Kian Kuat, Tata Metal Investasi Rp 1,5 Triliun Bangun CGL 2 di Purwakarta
Sebagai informasi, saat ini produk Tata Metal sudah diekspor ke 25 negara, termasuk Amerika Serikat dan Kawasan Eropa.
Selain kualitas, Tata Metal juga memperkuat komitmen terhadap penggunaan produk dalam negeri melalui Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Stephanus menyebutkan, rata-rata TKDN produk Tata Metal berada di kisaran 62-64 persen, termasuk yang tertinggi di industri baja nasional.
"Kami memfokuskan menggunakan baja dalam negeri sebagai bahan bakunya. Kami menggunakan 80-85 persen bajanya menggunakan dari Krakatau Steel dan juga baja produsen-produsen baja yang ada di dalam negeri lainnya," jelas Stephanus.
Direktur Utama PT Krakatau Baja Industri Arief Purnomo menilai adopsi teknologi modern berskala internasional yang dilakukan Tata Metal sejalan dengan arah transformasi industri baja nasional.
"Kami mengapresiasi langkah PT Tata Metal Lestari dalam mengadopsi teknologi modern berskala internasional ini (dari Tenova Italia). Hal ini sejalan dengan upaya transformasi menuju industri yang lebih hijau, berkelanjutan dan efisien energi untuk mendukung Indonesia Emas 2045," kata Arief.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Pabrik-baru-Tata-Metal-Lestari.jpg)