Iran Vs Amerika Memanas
Pilihan Saham Berpotensi Kasih Cuan Saat IHSG Diramal Melemah Akibat Perang Israel-AS Vs Iran
Lonjakan harga minyak berpotensi menopang saham energi, namun tekanan rupiah dan arus modal asing jadi risiko.
Ringkasan Berita:
- Indeks Harga Saham Gabungan berpotensi volatil dengan support 8.031–8.150 dan resistance 8.350–8.437 akibat konflik Israel-Amerika Serikat vs Iran.
- Lonjakan harga minyak berpotensi menopang saham energi, namun tekanan rupiah dan arus modal asing jadi risiko.
- Analis merekomendasikan saham migas dan emas sebagai lindung nilai di tengah sentimen geopolitik.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (2/3/2026) berpotensi melemah, seiring memanasnya kawasan di Timur Tengah setelah serangan Israel-AS ke Iran.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi mengatakan, IHSG pekan ini berpotensi bergerak volatile dengan kecenderungan konsolidasi dengan support di 8.031 dan resistance di 8.437, dipengaruhi meningkatnya risiko geopolitik global dan sentimen fiskal domestik.
"Dengan meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya melibatkan Iran serta potensi gangguan di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20–25 persen distribusi minyak dunia, sektor energi dan komoditas menjadi yang paling sensitif untuk diperhatikan," papar Imam.
Baca juga: Dampak ke Masyarakat Indonesia Adanya Perang Israel-Amerika Vs Iran
Menurutnya, ketidakpastian ini berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan harga komoditas energi, yang biasanya memicu rotasi dana ke aset safe haven dan menekan arus modal ke emerging markets, termasuk Indonesia.
Namun demikian, bagi IHSG, kenaikan harga minyak dan batu bara justru dapat menjadi penopang bagi sektor energi dan pertambangan, terutama jika harga komoditas bertahan tinggi.
"Indonesia sebagai eksportir batu bara dan sejumlah komoditas energi berpotensi diuntungkan dari sisi peningkatan harga jual rata-rata (ASP) dan potensi perbaikan margin emiten sektor terkait," ujarnya.
Dalam kondisi global yang tidak pasti, kata Imam, saham berbasis komoditas sering kali menjadi proxy lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi global.
Di sisi lain, jika eskalasi konflik menyebabkan lonjakan harga energi yang terlalu tajam dan berkepanjangan, risiko inflasi global dan tekanan nilai tukar Rupiah dapat meningkat.
Menurutnya, kenaikan harga minyak yang signifikan berpotensi memperbesar tekanan pada neraca transaksi berjalan melalui kenaikan nilai impor migas, sekaligus meningkatkan volatilitas Rupiah.
"Jika rupiah melemah dan imbal hasil obligasi global naik maka volatilitas IHSG bisa meningkat karena investor asing cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko," papar Imam.
Adapun pilihan saham yang direkomendasikan IPOT yakni, PT Energi Mega Persada (ENRG) beli di level Rp1.820 dengan target Rp2.000, tetapi jual rugi jika berada di bawah Rp1.755 per saham.
Kemudian, PT Archi Indonesia Tbk/ARCI (entry Rp1.900, target Rp2.030, Stop Loss Lalu, HM Sampoerna/HMSP (entry Rp910, target Rp980, Stop Loss
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/IHSG-Kembali-Melemah-Pada-Penutupan-Perdagangan_20260202_204735.jpg)