Iran Vs Amerika Memanas
Perang AS Vs Iran Diprediksi Lama, Pemerintah Diminta Antisipasi Fiskal dan Jalankan Soemitronomics
Perang berkepanjangan membawa risiko krisis energi dan krisis pangan yang harganya menjadi mahal.
“Pemerintah telah melakukan deal dagang dengan Amerika Serikat, terlepas dari segala kelebihan dan kurangnya, merupakan hal yang harus kita apresiasi, kita review juga dan kita kritisi di saat yang bersamaan, karena ke depannya ternyata memang arahnya dunia ini sepertinya bukan globalisasi lagi,” terangnya
Terkait dengan food security, saat ini Indonesia surplus beras tetapi harus diperhatikan agar surplus ini bisa panjang ke depannya, apalagi di tengah ketidakpastian global.
Heru Indriyanto, Pakar Intelijen dan Analis Pertahanan Keamanan mengapresiasi Pemerintahan Presiden Prabowo yang menggabungkan seluruh BUMN di bawah entitas Danantara.
“Saat ini Danantara sudah mempunyai aset yang luar biasa. Di dalam hitungan awal sekitar 14.000 triliun. Aset yang demikian besar ini tentunya akan menimbulkan suatu permasalahan di dalam pengelolaan. Karena itu diperlukan transparansi dan pengawasan,” jelasnya.
Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, anggota DPR RI dari Partai Gerindra sekaligus cucu dari Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo mengaku sebuah kehormatan setelah seperempat abad meninggalnya Prof Soemitro semangat dan pikiran-pikirannya masih relevan dengan kondisi ekonomi hari ini.
“Kondisi dunia saat ini tidak baik-baik saja, ada banyak perubahan yang terjadi, dan saya sering sebut bahwa ini sedang re-setting. Saya ingatkan teman-teman di IN.RY bahwa melalui Soemitro Economic Forum ini harus menjaga semangat diskursus yang inklusif, bukan untuk mencari pembenaran," ungkapnya.
Satu hal yang saya ingat dari Opa Tjum (Panggilan akrab Prof. Soemitro,red) bahwa diskursus itu sehat, perbedaan pendapat itu sehat, terutama karena saya sering melihat beliau berbeda pendapat dengan anak-anaknya. Jadi, melakukan perdebatan, melakukan diskusi itu positif.
Jadi, tetap dengan semangat itulah yang saya harapkan Soemitro Economic Forum bisa diadakan sebagai wajah yang bisa membuka ruang untuk perbedaan pendapat sehingga dari perbedaan pendapat bisa mencapai sebuah musyawarah mufakat dimana kita dengan semangat ingin membawa negara yang lebih maju,” jelas Ketua Dewan Pembina Indonesia Roundtable of Young Economists.
Sara juga menyinggung tentang perang tarif antara Amerika Serikat kepada Indonesia. “Kita semua sering membicarakan tentang komoditas yang terkena 19 persen tarifnya. Tetapi jarang mengangkat tentang seribu lebih komoditas yang dikenakan tarif 0%.
"Ini juga merupakan tanggung jawab,di mana para ekonom yang tadinya bicara dari segi makro, bagaimana pembahasan makro itu dengan konteks saving the nation dan kedaulatan sebuah negara, negara kita. Bagaimana itu bisa diterjawantahkan dalam bahasa yang dipahami oleh masyarakat awam,” sebutnya.
Menurut ekonom Dr. Harryadin Mahardika, nilai hidup Profesor Soemitro, sebagai begawan yang memberikan contoh kepada generasi muda.
“Seorang intelektual, tidak hanya bisa berada di menara gading, tapi juga harus turun di masyarakat, bahkan turun berjuang di hutan-hutan, bahkan di tempat-tempat yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh seorang intelektual."
"Jadi beliau sangat lengkap sebagai seorang begawan, bisa berjuang secara diplomasi di forum-forum internasional, bisa juga berjuang langsung dengan masyarakat di bawah, dan juga bisa di dunia pendidikan.
Dalam konteks 500 hari pemerintahan Presiden Prabowo, Harryadin melihat adanya political will yang lebih kuat dibandingkan pemerintahan sebelumnya.
Misalnya program MBG, juga Koperasi Merah Putih. Termasuk political will yang kuat untuk memperbaiki sektor pendidikan. Ada Sekolah Garuda, dan Sekolah Rakyat, mungkin Sekolah Terintegrasi nantinya. Jadi terlihat sekali ada upaya yang benar-benar serius untuk mengubah wajah pendidikan menjadi lebih baik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/TANTANGAN-EKONOMI-RI-Acara-diskusi-Soemitro-Economic-Forum-II.jpg)