Jumat, 22 Mei 2026

Bukan Lagi Dilema, APBI Ungkap 'Trilema' Berat yang Hantui Industri Batu Bara Nasional

Penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta agenda transisi energi di sektor pertambangan batu bara ternyata jauh lebih pelik

Tayang:
Editor: Dodi Esvandi
HO/IST
Focus Group Discussion (FGD) bertema “Implementasi ESG dan Transisi Energi di Sektor Batu Bara Indonesia” yang digelar di Jakarta, Rabu (20/5/2026). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta agenda transisi energi di sektor pertambangan batu bara ternyata jauh lebih pelik ketimbang industri lainnya.

Jika sektor lain mungkin hanya menghadapi dilema, industri batu bara nasional kini justru dikepung oleh "trilema" atau tiga tantangan besar yang musti diselesaikan secara bersamaan.

Istilah "trilema" ESG ini dilontarkan oleh Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Bidang ESG & Good Mining Practice, Ignatius Wurwanto.

"Kalau bicara batu bara, ini bukan lagi dilema, tapi trilema. Ada kebutuhan menjaga ketahanan energi, ada tuntutan lingkungan, dan ada biaya yang harus ditanggung," ujar Ignatius dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Implementasi ESG dan Transisi Energi di Sektor Batu Bara Indonesia” yang digelar Katadata Green di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Menurut Ignatius, tiga sudut trilema yang menghimpit industri batu bara saat ini meliputi:

  • Ketahanan Energi: Kewajiban memastikan pasokan energi untuk kebutuhan nasional saat ini dan masa depan tetap aman.
  • Tuntutan Lingkungan: Keharusan menjalankan operasional yang berkelanjutan demi mencegah dampak buruk perubahan iklim.
  • Faktor Ekonomi: Memastikan penyediaan energi berbasis komoditas alam ini tetap bisa dinikmati masyarakat dengan harga terjangkau, di tengah biaya operasional yang terus membengkak.

Karena kompleksitas regulasi dan teknis yang begitu besar—mulai dari aturan keselamatan kerja hingga kewajiban pascatambang—banyak korporasi yang akhirnya gagap.

Akibatnya, mayoritas perusahaan tambang masih memandang ESG sekadar beban kepatuhan (compliance) untuk menggugurkan kewajiban aturan, bukan sebagai strategi bisnis jangka panjang.

"Masih banyak yang memandang ESG sebagai program atau compliance, padahal seharusnya berbasis risiko dan peluang," tambah Ignatius.

Tantangan ini kian nyata mengingat ketimpangan pemahaman di lapangan. 

APBI saat ini menaungi 93 perusahaan aktif yang menguasai 66 persen produksi batu bara nasional. 

Namun, jika melihat total hampir 960 perusahaan tambang batu bara yang menjamur di Indonesia, tingkat literasi terhadap ESG masih sangat jomplang.

Baca juga: Merz Isyaratkan Kembalinya Energi Batu Bara di Jerman

Pasar Ekspor Jadi Penentu

Lambatnya penetrasi ESG secara substantif di tanah air juga dipengaruhi oleh struktur pasar. 

Asisten Peneliti Purnomo Yusgiantoro Center (PYC), Nur Hikmat, menyebutkan bahwa modal awal untuk menerapkan ESG (first hit cost) memang menjadi hantaman finansial yang berat bagi pelaku usaha.

Terlebih lagi, 65 persen produksi batu bara Indonesia dilempar ke pasar ekspor, dan hanya 35 persen yang diserap pasar domestik. 

Dua raksasa pemakan batu bara Indonesia adalah Tiongkok dan India.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved