Jumat, 22 Mei 2026

Ekonomi Kreatif Didorong Jadi Mesin Pertumbuhan Baru Berbasis Daerah

Seluruh daerah di Indonesia diharapkan dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan inovasi kreatif berbasis potensi lokal.

Tayang:
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Erik S
Tribunnews.com/Eko Sutriyanto
INDUSTRI KREATIF - Staf Ahli Menteri Bidang Pendanaan dan Pembiayaan Kementerian Ekonomi Kreatif RI, Restog Krisna Kusuma (kiri) dan Rektor Institut STIAMI, Sylviana Murni. (kanan) usai pembukaan Education, Ergonomics & Innovation Symposium 2026 di Jakarta, Kamis (21/5/2026).. Restog  menegaskan, ekonomi kreatif kini tidak lagi dipandang sebagai sektor pelengkap, melainkan telah menjadi new engine of growth bagi perekonomian Indonesia yang digerakkan dari daerah. 

Ringkasan Berita:
  • Ekonomi kreatif jadi new engine of growth berbasis daerah, dorong inovasi lokal dan kolaborasi lintas sektor di Jakarta
  • Sektor menyumbang 6,57 persen PDB 2024, investasi Rp183 triliun, ekspor 31,9 miliar dolar, dengan 27 juta pekerja milenial-Gen Z
  • Tantangan naik kelas dan adaptasi teknologi mendorong pentahelix, hilirisasi riset, serta Indonesia Emas 2045

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Staf Ahli Menteri Bidang Pendanaan dan Pembiayaan Kementerian Ekonomi Kreatif RI, Restog Krisna Kusuma, menegaskan bahwa ekonomi kreatif kini tidak lagi dipandang sebagai sektor pelengkap, melainkan telah menjadi new engine of growth bagi perekonomian Indonesia yang digerakkan dari daerah.

Restog Krisna Kusuma menyebut seluruh daerah di Indonesia diharapkan dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan inovasi kreatif berbasis potensi lokal.

“Hari ini ekonomi kreatif bukan sekadar alternatif, tetapi sudah menjadi new engine of growth yang didorong dari daerah. Karena itu kami berharap seluruh daerah dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Restog saat menjadi pembicara kunci Education, Ergonomics & Innovation Symposium 2026 di Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Acara melibatkan Indonesia Research Institute Japan  (IRIJ) dan Tsuciya Kaban yang menyerahkan grants riset kepada univesitas sebagai bentuk manifestasi komitmen mendukung inovasi melalui pendidikan.

Forum tersebut menjadi wadah lintas sektor yang mempertemukan pemerintah, akademisi, praktisi kesehatan, institusi pendidikan, dan industri untuk membahas pentingnya ergonomi dalam mendukung kualitas pendidikan serta tumbuh kembang anak di Indonesia.

Restog menekankan pentingnya peran talenta lokal yang jumlahnya mencapai sekitar 27 juta orang. Menurutnya, potensi besar tersebut dapat menjadi sumber inovasi yang berkontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Ia menilai tema simposium yang mengaitkan pendidikan, ekonomi, dan inovasi sangat relevan. Pendidikan membentuk talenta, ekonomi menciptakan efisiensi, sementara inovasi menghasilkan nilai tambah. Ketiganya menjadi fondasi ekosistem ekonomi kreatif yang produktif dan berdaya saing.

Restog menjelaskan, kontribusi ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2024 mencapai 6,57 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,03 persen.

Dari sisi investasi, sektor ini mencatat realisasi Rp183 triliun atau melampaui target RPJMN hingga 134 persen, serta menyumbang sekitar 10 persen dari total investasi nasional.

Sementara dari sisi ekspor, hingga November 2025 nilai ekspor bersih ekonomi kreatif mencapai 31,9 miliar dolar AS atau sekitar 12 persen dari total ekspor non-migas nasional—tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Baca juga: Wamendagri Bima Arya Ajak HIPMI Kolaborasi dengan Pemda Dorong Ekonomi Kreatif

Jumlah tenaga kerja di sektor ini juga mencapai sekitar 27,4 juta orang, dengan 57 persen di antaranya berasal dari generasi milenial dan Gen Z.

“Ekonomi kreatif bukan hanya tentang karya dan inovasi, tetapi juga penciptaan lapangan kerja, penguatan kelas menengah, dan masa depan generasi muda Indonesia,” ujarnya.

Ia menyebut industri kreatif kini berkembang dalam empat pilar utama, yakni kreativitas budaya, desain, medis, serta digital dan teknologi.

Restog menegaskan tantangan utama sektor ini adalah mendorong pelaku usaha naik kelas, dari tahap awal hingga menjadi pemain global yang kompetitif.

Perubahan teknologi seperti AI, blockchain, IoT, web3, big data, hingga ekonomi kreator dinilai turut mengubah pola produksi dan distribusi industri kreatif.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved