Indonesia berencana cabut status darurat Covid-19 menyusul WHO, akan seperti apa sikap masyarakat ke depannya?
Pemerintah berencana mencabut status darurat Covid-19 menyusul pengumuman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa Covid-19…
Lebih lanjut, ia melihat akan ada dua kelompok orang di masyarakat.
Sebagian yang tidak terlalu menghiraukan wabah Covid-19 alias ‘cuek’, dan sebagian lain yang masih khawatir terkena penyakit tersebut.
“Dengan pengalaman pahit Covid-19 ya orang berpendidikan akan punya normal life yang berbeda. Dan kemudian orang yang kurang pengetahuannya akan balik ke kehidupan lama, dia enggak akan peduli.
"Kalau saya pasti akan berubah normal life saya kalau dalam kondisi seperti ini,” kata Tri.
Sementara, pakar Epidemiologi dari Universitas Indonesia Pandu Riono mengatakan bahwa masyarakat telah mengadopsi kebiasaan-kebiasaan dari pandemi Covid-19.
“Pandemi selama tiga tahun ini akan banyak mengajarkan orang untuk berubah. Sekarang orang cuci tangan, itu bagus. Kemudian jangan kembali seperti sebelum pandemi. Orang akan menyesuaikan diri. Tiga tahun ini membuat mereka sadar tentang kebersihan,” kata Pandu.
Oleh karena itu, ia setuju bahwa vaksinasi dan masker tidak perlu menjadi hal yang wajib bagi masyarakat. Sebab, upaya perlindungan diri dari penyakit menular seharusnya diserahkan kepada individu masing-masing.
“Menurut ilmu Kesehatan Masyarakat, orang itu akan mengadopsi kesehatan masyarakat yang baik kalau dia melihat ada ancaman kepada dirinya.
“Kalau dipaksakan orang itu akan cenderung menentang atau enggak mau. Serahkan saja kepada masyrakat,“ kata Pandu.
‘Status darurat dicabut bukan berarti kita bebas dari Covid‘
Bagi Rinta, seorang warga Tangerang Selatan, keputusan pemerintah yang berencana mencabut status darurat Covid-19 merupakan langkah yang menurut dia tepat karena angka kasus memang sudah menurun dibandingkan dulu-dulu.
Namun, ia tidak sepenuhnya merasa lega. Sebab, virus Covid-19 masih akan tetap ada meski negara sudah tidak berada dalam keadaan darurat.
“Walaupun status darurat Covid-19 itu dicabut bukan berarti otomatis kita bebas dari Covid. Kita harus tetap menjaga diri.
“Bukannya 'oh Covid-19 sudah hilang', tidak. Cuma status itu yang diturunkan dari yang dulu,” ungkap Rinta.
Ia mengaku jikalau nantinya Indonesia sudah dianggap bebas dari status darurat Covid-19, ia tetap akan mengenakan masker ke manapun ia pergi.
Baca juga:
- Tren anak muda Korea Selatan memakai masker untuk gaya, bukan karena Covid-19
- Asal-usul Covid: Mengapa teori "kebocoran-lab" ditentang banyak ilmuwan?
“Karena sudah kebiasaan dan itu cara saya antisipasi kalau dari luar ada penyakit menular. Masih ada antisipasi, ada perlindungannya,” sebutnya.
Pada 2022, saudara laki-laki Rinta sempat tertular Covid-19. Akibatnya, Rinta dan ibunya saat itu khawatir bahwa mereka akan terjangkit penyakit itu juga.
Meski kakaknya kini sudah pulih, Rinta masih mengingat betul gejala-gejala yang dialami kakaknya.
“Karena dari pengalaman keluarga ada yang pernah kena Covid. Sekarang aku bingung cara membedakan antara penyakit Covid-19 atau flu biasa atau lainnya.
“Tapi kalau kita salah artikan itu, kami kira itu flu ternyata itu Covid, bagaimana? Jadi masih di pikiran saya itu,” ujar perempuan berusia 22 tahun itu.
Rinta sendiri sudah mendapatkan vaksin dosis 1 dan dosis 2. Ia tidak merasa ada keperluan untuk mendapatkan vaksin lanjutan karena ia merasa dua dosis sudah cukup untuk melindungi dirinya.
Namun, ia khawatir jika nanti vaksin Covid-19 berbayar, banyak warga yang enggan untuk vaksin karena harus mengeluarkan biaya.
“Kalau biayanya itu masih bisa terjangkau untuk mayarakat enggak apa-apa, tapi saya khawatir kalau ada masyarakat yang masih perlu divaksin tapi biayanya tidak sesuai dengan anggaran mereka. Mungkin itu akan jadi permasalahan.”
Perjalanan tiga tahun melewati pandemi global Covid-19
SARS-CoV-2 atau yang kini dikenal sebagai virus Covid-19 pertama kali terdeteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China pada Desember 2019.
Pemerintah China memberi tahu WHO tentang 27 kasus "pneumonia menular" di pusat Kota Wuhan. Pihak otoritas menutup pasar basah di Wuhan keesokan harinya, setelah menemukan beberapa pasien adalah pedagang.
Kemudian pada 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo mengumumkan dua kasus pertama Covid-19. Dua kasus itu adalah seorang ibu berusia 64 tahun beserta putrinya yang berumur 31 tahun.
WHO secara resmi menetapkan Covid-19 sebagai pandemi global yang telah merambat ke semua negara pada 11 Maret 2020
Hingga April 2020, wabah Covid-19 telah menyebar ke 34 provinsi dengan DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah sebagai provinsi dengan kasus Covid-19 terbanyak di Indonesia.
Seiring berjalannya waktu varian Covid-19 pun terus berevolusi menjadi varian Alpha, Delta hingga Arcturus atau Omicron XBB.1.16 yang terbaru.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.