Minggu, 31 Agustus 2025

Konflik Palestina Vs Israel

Kekuatan Hamas Bertambah, Tentara Israel Dilema: Tak Cukup Personel Perang di Gaza atau Tepi Barat

Pasukan pendudukan Israel harus mundur dari Gaza karena tidak ada cukup pasukan untuk bertempur di beberapa front pada saat yang sama

Via JPost
Tentara IDF beroperasi di Jalur Gaza, Januari 2024. Situasi di Tepi Barat membuat IDF terbagi fokusnya dalam perang multi-front. Krisis personel membuat IDF harus memutuskan fokus di palagan yang mana. 

Kekuatan Hamas Bertambah, Tentara Israel Dilema: Tak Cukup Personel Perang di Gaza atau Tepi Barat

TRIBUNNEWS.COM - Media Israel mengutip sumber keamanan Israel mengonfirmasi kalau "Hamas telah berhasil memulihkan kemampuannya di Jalur Gaza utara."

Laporan menunjukkan kalau ada sekitar 3.000 petempur baru Hamas dan "telah melanjutkan operasi di Jalur Gaza utara dan secara aktif bekerja untuk meningkatkan kemampuan operasional organisasi."

Baca juga: Media Israel: Hamas Pulihkan Kekuatan, Merekrut 3.000 Petempur Baru

Perkiraan ini menunjukkan kalau hal tersebut menunjukkan perekrutan anggota baru Hamas dalam beberapa bulan terakhir, dan bukan perpindahan petempur dari bagian selatan ke bagian utara Jalur Gaza.

Atas hal tersebut, pejabat senior di lembaga keamanan dan militer Israel telah menyatakan kalau serangan skala besar ke Jalur Gaza utara menjadi hal yang tak terelakkan.

Baca juga: Divisi David, 40 Ribu Prajurit Baru Tentara Israel Buat Perang Multi-Front di Tengah Krisis Personel

Pasukan Pendudukan Israel (IDF) mengevakuasi rekan mereka yang terluka.
Pasukan Pendudukan Israel (IDF) mengevakuasi rekan mereka yang terluka. (khaberni)

Bukan Hamas yang Runtuh, Melainkan Israel

Dalam sebuah artikel berjudul "Bukan Hamas yang runtuh, melainkan Israel," yang diterbitkan di Haaretz, Brigadir Jenderal pensiunan tentara Israel (IDF) Yitzhak Brik memberikan penilaian kritis terhadap pertempuran yang sedang berlangsung di Jalur Gaza. Ia menggarisbawahi kerugian yang signifikan dan terus meningkat yang dihadapi Israel.

Hal itu dia nyatakan dengan menyebut kalau perang Gaza justru memberikan dampak yang jauh lebih besar pada Israel sendiri daripada pada Hamas.

Ia berpendapat kalau para prajurit IDF kelelahan dan kehilangan keterampilan mereka karena kurangnya pelatihan; terutama karena banyak yang meninggalkan kursus mereka sebelum menyelesaikannya.

"Beberapa pihak berpendapat bahwa menarik pasukan militer dari Gaza setelah menandatangani kesepakatan penyanderaan dengan Hamas sama saja dengan kalah dan menyerah... Klaim ini didasarkan pada kesalahpahaman mendasar tentang apa yang terjadi di Jalur Gaza," kata Brik.

"Klaim ini dipicu oleh klise yang disebarkan oleh eselon politik dan militer untuk membenarkan tindakan mereka dan mendapatkan dukungan publik serta legitimasi untuk melanjutkan perang yang gagal... orang-orang yang sama yang menyatakan bahwa penghentian permusuhan berarti kekalahan dan penyerahan diri kitalah yang membawa militer semakin dekat ke kehancuran dan negara ke kejatuhannya," tambahnya.

Baca juga: Analis Militer Israel: IDF Tempur di Multi-Front dengan Tentara yang Ngos-ngosan di Gaza dan Lebanon

Pasukan Israel (IDF) dalam agresi militer di Gaza. IDF dilaporkan membagikan dokumen ke para para wali kota di wilayah utara pendudukan berisi skenario yang akan dihadapi Israel jika berperang besar-besaran melawan pasukan Hizbullah, Lebanon.
Pasukan Israel (IDF) dalam agresi militer di Gaza. IDF dilaporkan membagikan dokumen ke para para wali kota di wilayah utara pendudukan berisi skenario yang akan dihadapi Israel jika berperang besar-besaran melawan pasukan Hizbullah, Lebanon. (khaberni)

Disarankan Mundur dari Gaza

Ia menunjukkan perlunya memusatkan pasukan pendudukan Israel di sektor lain, yaitu di utara dan Tepi Barat karena eskalasi yang sedang berlangsung.

"Pasukan pendudukan Israel harus mundur dari Gaza karena tidak ada cukup pasukan untuk bertempur di beberapa front pada saat yang sama," katanya

"Dengan kata lain, suatu hari nanti IDF tidak akan bisa lagi bertahan di Jalur Gaza karena Hamas akan menguasai sepenuhnya – baik di kota terowongan bawah tanah yang membentang ratusan kilometer maupun di atas tanah," jelas Brik.

Ia menambahkan: "Jika kita menghentikan penyerbuan karena militer lemah dan karena kita tidak punya pilihan lain, atau jika kita memindahkan pasukan kita ke daerah lain, musuh kita akan mengumumkan dengan gembar-gembor bahwa militer Israel telah menyerah, meninggalkan Gaza dan meninggalkan negara itu."

Meski demikian, Brik menyarankan agar dengan mendahului keadaan dan menyetujui kesepakatan untuk memulangkan tawanan dan tahanan, pertempuran di Gaza harus diakhiri.

Tentara Israel dikerahkan di perbatasan Erez dengan senjata berat dan kendaraan militer di Erez, Israel pada 29 Februari 2024.
Tentara Israel dikerahkan di perbatasan Erez dengan senjata berat dan kendaraan militer di Erez, Israel pada 29 Februari 2024. (Mostafa Alkharouf – Anadolu Agency)

Jengah dan Kelelahan di Perang Multi-Front

Halaman
1234
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan