Konflik Iran Vs Israel
Rusia Ogah-ogahan Bantu Iran Saat Dibombardir Israel: Antara Perang Ukraina dan Takut Dicontek China
Iran telah berulang kali mengajukan permintaan ke Rusia untuk S-400 Triumf, sistem yang jauh lebih modern untuk menghadapi Israel
Rusia Ogah-ogahan Bantu Iran Saat Dibombardir Israel: Antara Perang Ukraina dan Takut Dicontek China
TRIBUNNEWS.COM - Perang 12 hari yang terjadi pada Juni silam melawan Israel menjadi tampaknya bukti ketangguhan Iran yang dalam balutan sanksi masih mampu mengimbangi dominasi udara negara musuh bebuyutannya tersebut.
Dibayangi sanksi ketat, Iran selama dua dekade terakhir rupanya mampu membangun kekuatan pertahanannya menjadi lebih hybrid, mandiri, dan adaptif.
Baca juga: Data Satelit Tunjukkan Iran Mampu Jangkau Langsung 5 Pangkalan Militer Israel, Pakai Taktik Apa?
Hanya, perlu dicatat, Iran tetap saja tidak bisa melakukannya sendiri. Ada peran dukungan dua negara besar dalam upaya Iran membangun pertahannya tersebut, Rusia dan China.
Negara Asia yang disebutkan terakhir bahkan semakin dominan dalam beberapa tahun terakhir dalam menyokong militer Iran.
Kabar kalau Iran secara intensif tengah melobi China untuk mendapatkan jet tempur Chengdu J-10C —kemungkinan dalam jumlah 24 unit pada tahap awal—menjadi sinyalemen penting kalau Teheran perlahan berpaling dari Moskow ke Beijing.
Terlebih, suara-suara dari petinggi militer Iran yang mengeluhkan kalau Rusia cuma 'omdo' alias omong doang dalam memberi bantuan ke Teheran dalam perang melawan Israel, menjadi indikasi lanjutan kalau peran China kini memang lebih dominan dalam pertahanan Teheran.
Baca juga: NATO Nyalakan Alarm, Kekuatan Militer Besar China Akan Seret Rusia Saat Serangan ke Taiwan
Rusia, Tadinya Penolong Kini Jadi Penghalang
Sebagai informasi, selama lebih dari satu dekade, Rusia adalah penyuplai utama sistem pertahanan udara Iran.
Pada 2016, Rusia akhirnya mengirimkan S-300PMU-2, sistem rudal permukaan-ke-udara jarak menengah ke jauh, setelah penundaan hampir satu dekade akibat tekanan negara Barat.
Sistem pertahanan rudal ini membantu Iran menciptakan lapisan pertahanan udara yang lebih kredibel, terutama setelah peristiwa seperti penembakan drone RQ-4A Global Hawk AS pada 2019.
Namun, sejak saat itu, kerjasama militer antara keduanya berjalan tidak merata.
Iran telah berulang kali mengajukan permintaan ke Rusia untuk S-400 Triumf, sistem yang jauh lebih modern dengan jangkauan lebih dari 400 km dan kemampuan mendeteksi serta menyerang pesawat siluman.
Hal itu dilaporkan juga terjadi saat perang 12 hari melawan Israel di mana Teheran dilaporkan dalam status urgent membutuhkan S-400 namun hanya dibalas Rusia dengan janji.
Tapi Moskow—meskipun menjalin kerja sama drone dengan Teheran selama perang Ukraina—terus menahan diri untuk menjual S-400.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Sistem-pertahanan-udara-S-400-Triumf-buatan-Rusia.jpg)