Senin, 18 Mei 2026

Markas Militer dan Istananya Dihancurkan Israel, Presiden Suriah Pilih Diam dan Menolak Perang

Alih-alih merespons Israel yang telah melanggar kedaulatan negaranya, Presiden interim Suriah Ahmad al-Sharaa justru memilih diam dan tidak membalas.

Tayang:
Ist/Twitter
TOLAK PERANGI ISRAEL - Presiden Suriah Abu Mohammed al-Jolani atau Ahmad Al-Sharaa. Ia memilih diam dan tidak membalas serangan Israel. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Israel telah membombardir markas militer dan kompleks kepresidenan Suriah di Damaskus.

Alih-alih merespons Israel yang telah melanggar kedaulatan negaranya, Presiden interim Suriah Ahmad al-Sharaa justru memilih diam dan tidak membalas.

Ahmad al-Sharaa menyatakan, dirinya lebih memilih membereskan persoalan dalam negeri Suriah yang tengah terpecah karena konflik kelompok Druze vs Badui.

Ahmad al-Sharaa, Presiden Suriah saat ini, naik ke tampuk kekuasaan pada Januari 2025 setelah menggulingkan Pemerintahan Bashar al-Assad dalam sebuah ofensif militer. 

Ia sebelumnya dikenal sebagai Abu Mohammad al-Julani, pemimpin kelompok militan Hay'at Tahrir al-Sham (HTS).

“Kami dihadapkan pada pilihan antara perang dengan Israel atau membiarkan para syekh Druze mencapai kesepakatan, jadi kami memilih untuk melindungi tanah air.” ujarnya Kamis waktu setempat (17/7/2025), mengenai pengeboman Israel di Damaskus.

Konflik Lokal menjadi Polemik Regional

Konflik Druze vs Badui di Suriah melebar hingga memicu kekerasan skala nasional, bahkan intervensi dari Israel.

Konflik antara komunitas minoritas Druze dan kelompok bersenjata dari suku Badui di Provinsi Suwayda, Suriah selatan, meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir.

Bentrok tersebut menewaskan sedikitnya 18 tentara Suriah dan mendorong Israel melancarkan serangan udara sebagai bentuk intervensi militer.

Menurut laporan Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), mereka tewas dalam baku tembak yang berlangsung selama dua hari terakhir.

Al Jazeera melaporkan, bentrokan pecah pekan ini setelah anggota komunitas Druze terlibat konfrontasi dengan kelompok Badui bersenjata yang dituduh mencuri ternak dan merampas tanah.

Persoalan menjadi semakin keruh ketika pemerintah Suriah mengirimkan pasukan keamanan ke wilayah tersebut untuk memadamkan konflik.

Kehadiran pasukan Suriah itu malah memicu pertempuran sengit di dalam dan sekitar Kota Suwayda.

“Situasinya sangat kacau. Tentara masuk dengan kendaraan lapis baja, tapi malah disergap oleh kelompok bersenjata lokal,” ungkap seorang aktivis lokal kepada Al Jazeera.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved