Konflik Rusia Vs Ukraina
Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.260: Medvedev Tak Lagi Pegang Peran Penting di Kremlin
Hari ke-1.260 perang Rusia-Ukraina: Kremlin mulai pinggirkan Medvedev dari keputusan strategis, Belanda bantu €500 juta senjata untuk Ukraina.
TRIBUNNEWS.COM - Berikut rangkuman peristiwa penting dalam perang Rusia–Ukraina hari ke-1.260, Rabu (6/8/2025).
Awal mula konflik Rusia-Ukraina dimulai setelah runtuhnya Uni Soviet pada 1991, ketika Ukraina mendeklarasikan kemerdekaannya.
Ketegangan meningkat drastis setelah Revolusi Euromaidan 2014, yang mendorong Rusia mencaplok Krimea dan mendukung separatis di Donbas.
Konflik ini akhirnya meletus menjadi invasi skala penuh oleh Rusia pada Februari 2022.
Institute for the Study of War (ISW) turut melaporkan perkembangan terbaru di medan perang Ukraina.
Perkembangan terbaru, Institute for the Study of War (ISW) menyebut, Kremlin bereaksi defensif terhadap keputusan kontroversial Presiden AS Donald Trump, menandakan gejolak baru dalam dinamika global perang ini.
Lituania resmi meminta bantuan NATO untuk memperkuat sistem pertahanan udara, menyusul meningkatnya kekhawatiran akan potensi eskalasi serangan dari Rusia ke wilayah Baltik.
Kremlin juga dilaporkan mulai mengurangi keterlibatan Dmitry Medvedev dalam keputusan strategis Rusia.
Berikut adalah rincian lengkap peristiwa yang terjadi dalam perang Rusia-Ukraina hari ke-1.260:
Lituania Minta Bantuan NATO
Lituania telah meminta bantuan NATO untuk memperkuat pertahanan udaranya.
Lituania, sebagai anggota NATO dan Uni Eropa, mengambil sikap sangat pro-Ukraina dan anti-Rusia sejak awal invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.
Baca juga: Prajurit Garis Depan Ukraina Buat Gebrakan Lagi, Kali Ini Ciptakan Robot Penembak Pesawat Rusia
Permintaan ini diajukan setelah pesawat nirawak militer Rusia berulang kali melanggar wilayah udara negara itu.
"Senin lalu, sebuah pesawat nirawak militer Rusia melanggar wilayah udara Lituania," kata Menteri Luar Negeri Kęstutis Budrys di Vilnius, dikutip dari The Guardian.
"Ini menandai insiden kedua dalam waktu kurang dari sebulan."
Budrys menambahkan bahwa pelanggaran serupa juga baru-baru ini dialami oleh sekutu NATO lainnya.
Ia dan Menteri Pertahanan Dovilė Šakalienė telah meminta Sekretaris Jenderal NATO untuk "mengambil langkah-langkah segera."
Langkah yang dimaksud adalah memperkuat kemampuan pertahanan udara di Lituania dan mempercepat implementasi penuh model rotasi pertahanan udara.
"Pertahanan udara sangat penting bagi keamanan sekutu," kata Budrys.
"Mengamankan sisi timur NATO harus tetap menjadi prioritas utama aliansi."
Medvedev Kian Tersingkir dari Pengambilan Keputusan di Kremlin
Kremlin mulai mengurangi keterlibatan Dmitry Medvedev dalam keputusan strategis Rusia.
Dmitry Medvedev adalah seorang politikus senior Rusia yang pernah menjabat sebagai Presiden Rusia dari 2008 hingga 2012 dan Perdana Menteri dari 2012 hingga 2020.
Saat ini, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Keamanan Federasi Rusia, posisi strategis yang membuatnya tetap berpengaruh dalam kebijakan luar negeri dan pertahanan Rusia.
Langkah ini dilakukan di tengah pertikaian nuklir antara Donald Trump dan Medvedev, menurut Institute for the Study of War (ISW).
ISW menyebut, Medvedev digambarkan memiliki "penilaian yang berbeda" dari Presiden Vladimir Putin soal isu nuklir.
Baca juga: Perang Rusia-Ukraina Hari Ke-1259: Utusan Khusus Trump Akan Kunjungi Moskow
Penilaian itu menyebut, "Kremlin secara rutin menggunakan Medvedev untuk memperkenalkan ancaman nuklir ke ruang informasi Rusia dan internasional."
Medvedev, mantan perdana menteri dan eks-presiden Rusia, menuduh Trump mengambil "langkah menuju perang" dengan memperketat ultimatum.
Trump menanggapi bahwa ia telah mengerahkan dua kapal selam nuklir ke lokasi strategis sebagai bentuk peringatan.
"Untuk berjaga-jaga jika pernyataan bodoh dan menghasut ini lebih dari sekadar ancaman," tulis Trump di media sosial.
ISW: Rusia Abaikan Ancaman Kapal Selam AS
Institute for the Study of War (ISW) mengatakan, Kremlin merespons keputusan Donald Trump secara defensif.
ISW menyebut, tanggapan Kremlin terbagi dalam tiga kerangka utama.
Pertama, menggambarkan keputusan Trump mengerahkan kapal selam sebagai tindakan "emosional."
Kedua, mengabaikan ancaman militer nyata dari kebijakan tersebut.
Ketiga, mencoba memposisikan Rusia sebagai aktor internasional yang lebih bertanggung jawab daripada Amerika Serikat.
ISW menekankan bahwa respons ini menutup mata terhadap sejarah Kremlin yang kerap menggunakan ancaman nuklir demi menekan Barat.
Langkah Rusia dianggap sebagai upaya menciptakan kesan stabilitas sambil tetap mempertahankan strategi konfrontatif.
Ukraina Maju di Pokrovsk, Rusia Klaim Desa Baru
Institute for the Study of War (ISW) mengungkap pasukan Ukraina dilaporkan berhasil bergerak maju di dekat Pc
Baca juga: Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.258: Ajudan Trump Tuduh India Biayai Perang Lewat Impor Minyak Rusia
Wilayah itu telah menjadi target ofensif Rusia sejak Juli 2024.
Sementara itu, pasukan Rusia dilaporkan maju di sejumlah titik lain seperti Kupyansk, Siversk, Toretsk, dan Velykomykhailivka.
Rusia juga mengklaim telah merebut desa Sichneve di wilayah Dnipropetrovsk.
Kantor berita Reuters yang memuat klaim tersebut mengatakan tidak dapat mengonfirmasinya secara independen.
Pertempuran terus berlanjut di berbagai garis depan, tanpa tanda-tanda gencatan senjata yang segera terjadi.
Trump Tunggu Pertemuan untuk Putuskan Sanksi
Presiden AS Donald Trump menyatakan, akan memutuskan pemberlakuan sanksi terhadap negara-negara pembeli minyak Rusia setelah pertemuan penting pekan ini.
Keputusan tersebut, akan diambil setelah Steve Witkoff, utusan khusus Trump untuk Rusia, bertemu pejabat Moskow pada Rabu.
Steve Witkoff, yang dikenal sebagai utusan khusus Presiden AS Donald Trump, kini memainkan peran penting dalam diplomasi terkait perang Rusia-Ukraina.
Meskipun latar belakangnya adalah pengusaha real estat, ia dipercaya oleh Trump untuk menjalankan misi-misi diplomatik tingkat tinggi.
Bloomberg melaporkan bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin mungkin bersedia menerima gencatan senjata untuk serangan udara, tetapi tidak untuk pertempuran darat.
Sementara itu, Financial Times pada Selasa (5/8/2025) melaporkan bahwa pemerintahan Trump mempertimbangkan sanksi tambahan.
Baca juga: Serangan Balik Ukraina! Bus Tentara Chechnya Meledak, Rusia Kehilangan Sistem Perang Elektronik
Sanksi itu menyasar "armada bayangan" kapal tanker yang menyelundupkan minyak Rusia ke pasar global.
Langkah ini merupakan bagian dari tekanan baru Washington untuk memaksa Moskow menuju kesepakatan damai.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/mantan-pemimpin-rusia-dmitry-medvedev-7657ljpo.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.