Israel Laporkan Wabah Flu Burung di Peternakan, Terdeteksi pada 2.000 Bebek, 90 Ekor Burung Mati
Influenza unggas strain H5N1 telah terdeteksi pada peternakan bebek komersial di moshav Sde Ya'akov di Lembah Jezreel, Israel utara.
Ringkasan Berita:
- Influenza unggas strain H5N1 telah terdeteksi pada peternakan bebek komersial di moshav Sde Ya'akov di Lembah Jezreel, Israel utara.
- Wabah tersebut terdeteksi pada kawanan 2.000 bebek.
- Wabah ini menyebabkan kematian 90 ekor burung.
TRIBUNNEWS.COM - Israel melaporkan wabah flu burung H5N1 yang sangat patogen di sebuah peternakan di utara negara itu.
Hal ini sebagaimana disampaikan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) pada Selasa (6/1/2026).
Influenza unggas strain H5N1 telah terdeteksi pada peternakan bebek komersial di moshav Sde Ya'akov di Lembah Jezreel, Israel utara.
Penyebaran influenza unggas, yang biasa disebut flu burung, telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan pemerintah dan industri unggas setelah menghancurkan kawanan unggas di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir, mengganggu pasokan, memicu kenaikan harga pangan, dan meningkatkan risiko penularan ke manusia.
Wabah tersebut, yang pertama dalam setahun di Israel, terdeteksi pada kawanan 2.000 bebek di desa Sde Yaakov.
"(Flu burung) menyebabkan kematian 90 ekor burung," kata WOAH mengutip laporan dari otoritas Israel.
Burung-burung yang tersisa kemudian dimusnahkan sebagai tindakan pencegahan.
Pernyataan Kementerian Pertanian Israel
Ini adalah kasus flu burung pertama yang dikonfirmasi di fasilitas unggas komersial pada musim 2025-2026.
Dilansir YnetNews, wabah tersebut teridentifikasi setelah tercatat angka kematian yang tidak biasa di peternakan tersebut, yang menampung sekitar 2.000 ekor bebek berusia 41 minggu.
Sampel yang dikirim ke laboratorium kementerian mengonfirmasi keberadaan virus tersebut.
Layanan veteriner menetapkan zona karantina dengan radius 10 kilometer (6 mil) di sekitar lokasi yang terdampak.
Baca juga: Waspadai Serangan Flu Burung pada Sapi Perah dan Kucing, Berikut Gejalanya
Kementerian tersebut mengatakan pihaknya bertindak sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut.
Langkah-langkah itu meliputi pembatasan pergerakan unggas, larangan pengisian kembali kandang di dalam zona karantina, dan penegakan persyaratan biosekuriti yang ketat.
Pemantauan aktif terus dilakukan di semua fasilitas unggas di daerah tersebut.
Kementerian memperingatkan, flu burung menimbulkan risiko bagi peternakan penghasil telur dan mendesak pemilik unggas rumahan, burung hias, dan unggas yang dilepasliarkan untuk menjaga unggas di dalam ruangan dan mencegah kontak dengan area terbuka, sehingga mengurangi risiko infeksi dari burung liar selama musim migrasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/flu-burung-di-cimahi.jpg)