Jumat, 29 Mei 2026

Amerika Versus Venezuela

Brasil Kerahkan Garda Nasional ke Roraima Perbatasan Venezuela Pascaserangan Militer AS

Brasil kirim Garda Nasional ke perbatasan Venezuela usai serangan AS, langkah untuk jaga ketertiban dan merespons militerisasi wilayah utara.

Tayang:
HO/IST/Tangkap Layar/BI
LEDAKAN DI VENEZUELA- Tangkap layar video yang beredar di media sosial dan terverifikasi terjadi di Caracas, Venezuela, Sabtu (3/1/2026) dini hari. Tampak ledakan terjadi saat pesawat dan helikopter Amerika Serikat (AS) yang melaksanakan penculikan Presiden Nicolas Maduro terbang seusai menjalanan misi. Brasil kirim Garda Nasional ke perbatasan Venezuela usai serangan AS, Kamis (8/1/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Brasil mengerahkan Garda Nasional ke Roraima di perbatasan Venezuela menyusul serangan militer Amerika Serikat (AS) dan penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan AS.
  • Pasukan dari FNSP ditempatkan di Pacaraima dan Boa Vista untuk mendukung keamanan dan menjaga ketertiban.
  • Belum terjadi gelombang pengungsi massal, namun ketegangan berdampak regional termasuk kesiagaan militer Kolombia.

 

TRIBUNNEWS.COM - Brasil merespons meningkatnya ketegangan regional setelah serangan militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela.

Pemerintah Brasil memutuskan mengerahkan pasukan Garda Nasional ke negara bagian Roraima, dekat perbatasan dengan Venezuela.

Keputusan ini dimuat dalam dekrit resmi yang diterbitkan pada Kamis (8/1/2026).

Menurut dekrit, sejumlah pasukan dari Pasukan Keamanan Publik Nasional (FNSP) akan ditempatkan di Pacaraima dan Boa Vista, ibu kota Roraima untuk mendukung aparat keamanan setempat.

Wilayah tersebut berjarak sekitar 213 kilometer dari perbatasan internasional.

Pasukan itu ditugaskan menjaga “ketertiban umum serta keselamatan warga dan harta benda”.

Langkah ini diambil setelah AS melakukan serangan udara besar-besaran di Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro, Sabtu (3/1/2026).

Tindakan AS telah memicu kecaman dari pemerintah Brasil dan negara-negara lain di kawasan.

Media Brasil melaporkan Venezuela memperkuat penjagaan militer di perbatasan karena banyaknya geng kriminal dan kelompok bersenjata yang beraksi di wilayah tersebut, termasuk colectivos Venezuela serta geng Brasil seperti Komando Ibu Kota Pertama (PCC) dan Komando Merah (CV).

Kehadiran kelompok-kelompok ini terkait dengan perdagangan narkoba dan penambangan ilegal di kedua sisi perbatasan.

Belum Ada Gelombang Pengungsi

Baca juga: Gagal Lindungi Kepala Negara, Komandan Paspampres Venezuela Didepak Pasca Operasi Kilat AS

Gimena Sanchez, direktur Andes dari Washington Office on Latin America (WOLA), menyebut pengerahan Garda Nasional Brasil sebagai “langkah yang tepat mengingat kekerasan yang dipicu oleh kelompok pemberontak Kolombia” yang aktif di Venezuela dan menyebabkan beberapa penduduk bergerak lebih jauh ke selatan menuju Brasil.

Meski begitu, menurut Sanchez, gelombang pengungsian massal ke Brasil belum terjadi.

Brasil secara terbuka mengkritik serangan militer AS tersebut.

Presiden Luiz Inacio Lula da Silva melalui media sosial menyatakan bahwa tindakan AS telah “melewati batas yang tidak dapat diterima”, sekaligus menyerukan penghormatan terhadap kedaulatan negara-negara Amerika Latin.

Meski demikian, analis mengatakan komentar presiden Brasil kemungkinan tidak akan memicu reaksi tajam dari Washington, karena fokus kebijakan luar negeri AS saat ini juga mencakup negara-negara seperti Kuba, Meksiko, dan Kolombia.

Ketegangan ini berpotensi berdampak lebih luas di kawasan.

Negara tetangga seperti Kolombia bahkan telah menyiagakan pasukan tambahan di perbatasannya dengan Venezuela untuk mengantisipasi potensi krisis pengungsi dan ketidakstabilan yang lebih besar.

Dengan pengerahan Garda Nasional, Brasil berupaya meredam potensi ancaman keamanan sambil memantau situasi di perbatasan utaranya yang semakin dinamis akibat eskalasi militer baru-baru ini.

Penangkapan Nicolas Maduro

Maduro ditangkap pasukan Amerika Serikat di Caracas pada Sabtu (3/1/2026) setelah diduga dikuntit sejak Agustus 2025.

Penangkapan dilakukan di kediamannya pada pukul 02.00 dini hari waktu setempat oleh pasukan elite Delta Force Angkatan Darat AS, bersama istrinya, Cilia Flores.

Media elnacional melaporkan, operasi ini didukung oleh dugaan keterlibatan orang dalam pemerintahan Venezuela yang membantu memantau pergerakan dan aktivitas Maduro beserta keluarganya selama berbulan-bulan.

Operasi rahasia tersebut mendapat persetujuan langsung Presiden AS Donald Trump dan diberi kode Operation Absolute Resolve.

Baca juga: Terungkap! Ini Alasan Trump Ngotot Kuasai Minyak Venezuela, Bukan Sekadar Bisnis Energi

Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine mengatakan operasi dimulai pada Jumat (2/1/2026) malam, dengan pengerahan pesawat dan helikopter dari sekitar 20 pangkalan militer.

Helikopter terbang rendah dan dilindungi jet tempur, pesawat pengebom, serta drone setelah sistem pertahanan udara Venezuela dilumpuhkan.

Saat tiba di Caracas, pasukan AS sempat menghadapi tembakan sebelum akhirnya FBI dan pasukan khusus memasuki kompleks kediaman Maduro.

Trump mengungkap Maduro sempat mencoba bersembunyi di ruang aman berbahan baja, namun gagal karena kecepatan pasukan AS.

Maduro dan istrinya kemudian dievakuasi ke Amerika Serikat dengan pengawalan ketat.

Caine menyebut operasi selesai saat pesawat keluar dari wilayah Venezuela sekitar pukul 03.29 waktu setempat.

Pemerintah AS menahan Maduro atas tuduhan perdagangan narkoba, senjata, dan bahan peledak.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved