Cerita Pemagang Indonesia Jadi Peserta Upacara Kedewasaan di Jepang: 'Deg-degan'
Dua peserta magang Indonesia menghadiri upacara kedewasaan di Jepang, menandai langkah penting integrasi warga asing di Minamishimabara
Ringkasan Berita:
- Rusgi Anto dan Zul Fikri, peserta magang teknis di Jepang, menghadiri upacara kedewasaan Nijussai no Tsudoi di Minamishimabara.
- Kehidupan mereka di laut, bekerja di kapal rawai, membuat mereka diterima sebagai bagian keluarga oleh pemilik kapal dan masyarakat setempat.
- Kehadiran mereka menandai langkah kecil namun penting dalam integrasi komunitas asing di Jepang.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Richard Susilo
TRIBUNNEWS.COM, JEPANG – Dua peserta program magang teknis asal Indonesia menghadiri acara resmi Nijussai no Tsudoi atau Upacara Dua Puluh Tahun, seremoni tradisional Jepang yang menandai kedewasaan, Senin (12/1/2026).
Ini menandai hari kedewasaan di Jepang, dan Rusgi Anto (20) serta Zul Fikri (19) menjadi peserta asing pertama dari sektor perikanan yang hadir di acara tersebut.
Kedua pemuda tersebut datang mengenakan setelan jas baru dan tampil rapi saat menghadiri acara yang digelar Pemerintah Kota Minamishimabara.
“Deg-degan, tapi senang bisa ikut,” ujar Rusgi dan Fikri sambil tersenyum usai upacara.
Mereka telah berada di Jepang sejak Februari tahun lalu sebagai peserta magang di sektor perikanan dan bekerja di kapal rawai milik Kapten Onizuka Yoshihisa (68), pemilik kapal Juhachiwaka Ebisu Maru.
“Selalu bekerja dengan sungguh-sungguh. Sekarang rasanya seperti punya dua anak lagi,” kata Onizuka.
Baca juga: Pemagang Indonesia Hiasi Kapal Juara Bonito Jepang Jelang Tahun Baru
Kehidupan di Laut dan Kehidupan Dua Tempat
Kapal beroperasi di perairan sekitar Kepulauan Goto, sementara para awak tinggal dekat Pelabuhan Arakawa, Kota Goto.
Artinya, Rusgi dan Fikri harus menyesuaikan diri dengan kehidupan di dua tempat—sesuatu yang bahkan bagi orang Jepang sendiri tergolong berat.
Namun keduanya mengaku sudah terbiasa.
Sikap sopan dan ramah membuat mereka cepat diterima warga setempat.
“Penduduk sering bilang, ‘Anak-anak itu baik sekali,’” tutur Onizuka dengan bangga.
Kapal saat ini dioperasikan oleh lima orang, dan Rusgi serta Fikri memegang peran penting.
Pembimbing mereka adalah putra ketiga Onizuka, Kentaro (37), yang awalnya canggung menerima pekerja asing, namun kini menilai mereka cepat berbaur, jujur, dan termotivasi tinggi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/tenagakapal212222.jpg)