Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi Ungkap Alasan Bubarkan Majelis Rendah Parlemen
PM Jepang Sanae Takaichi bubarkan parlemen dan serukan pemilu cepat. Ia ajak rakyat menentukan arah baru Jepang menuju ekonomi kuat dan stabil.
Saya sendiri juga mempertaruhkan jabatan saya sebagai Perdana Menteri.
Apakah rakyat bersedia mempercayakan pengelolaan negara kepada Sanae Takaiichi?
Saya ingin rakyat menilai secara langsung.
Jepang menganut sistem parlementer, sehingga rakyat tidak dapat memilih Perdana Menteri secara langsung.
Namun, pemilu parlemen disebut sebagai pemilu pemilihan pemerintahan.
Jika LDP dan Partai Inovasi Jepang memperoleh mayoritas kursi, maka Takaiichi akan tetap menjadi Perdana Menteri.
Jika tidak, maka Perdana Menteri bisa menjadi Noda, atau Saitō, atau pihak lain.
Secara tidak langsung, rakyat memilih siapa yang akan menjadi Perdana Menteri.
Baca juga: Lima Alasan Perusahaan Jepang Rekrut SDM Sopir Bus Indonesia
Saat ini, Ketua LDP—yang juga menjabat Perdana Menteri—memimpin pemerintahan tanpa mayoritas kursi baik di parlemen (majelis rendah) maupun di majelis Tinggi (Sangiin).
Dalam pemilu DPR sebelumnya, kami meminta penilaian rakyat dengan asumsi koalisi LDP–Kōmeitō.
Kini kerangka koalisi telah berubah.
Karena itu, bukan demi kepentingan politik, melainkan untuk menghadapkan pertanyaan kepada rakyat secara jujur, saya memilih jalan ini.
Saya terpilih sebagai Ketua LDP pada 4 Oktober tahun lalu, pada upaya saya yang ketiga.
Namun tak lama setelah itu, terjadi perpisahan mendadak dengan Kōmeitō yang selama 26 tahun menjadi mitra koalisi.
Walaupun saya menjadi Ketua LDP, partai kami tidak memegang mayoritas kursi di DPR maupun DPR Tinggi, sehingga saya harus menghadapi pemilihan perdana menteri di parlemen dalam situasi yang sangat sulit.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/pmjepang22221111111.jpg)