Konflik Iran Vs Israel
Rudal Iran Menembus 28 Lapis Pertahanan Amerika, Inggris, Hingga Israel Sebelum Menghantam Tel Aviv
Sejak peluncuran, rudal-rudal Iran langsung masuk ke dalam ruang pengawasan berlapis yang dibangun Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya.
Ringkasan Berita:
- Konfrontasi militer antara Iran dan Israel pada Juni 2025 menjadi sorotan global karena menunjukkan kemampuan persenjataan Iran yang selama ini diragukan.
- Dalam pertempuran 12 hari, Teheran memamerkan rudal balistik hipersonik seperti Fattah-1 dan Sejjil yang mampu melesat dengan kecepatan tinggi dan menghantam sasaran strategis di Tel Aviv serta Haifa dengan akurasi presisi.
- Hal ini menandai peningkatan signifikan dalam teknologi militer Iran.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Konfrontasi militer antara Iran dan Israel yang pecah pada Juni 2025 membuka mata banyak pihak.
Teknologi persenjataan Teheran yang selama ini diragukan justru membuktikan sebaliknya.
Dalam palagan 12 hari tersebut, Iran memamerkan superioritas rudal balistik hipersonik terbarunya, seperti Fattah-1 dan Sejjil, yang mampu melesat dengan kecepatan ekstrem menuju sasaran-sasaran strategis di pusat kota Tel Aviv dan Haifa.
Kekuatan rudal Iran di tahun 2025 bukan lagi sekadar kuantitas, melainkan akurasi presisi yang mampu menghantam infrastruktur vital dalam hitungan menit pasca-peluncuran.
Menembus setiap lapisan pertahanan
Tak banyak yang menyadari, saat Iran menembakkan rudal ke arah Israel, yang terjadi setelahnya bukan sekadar lintasan balistik biasa, melainkan uji kekuatan terhadap jaringan pertahanan udara paling padat di dunia.
Sejak detik pertama peluncuran, rudal-rudal Iran langsung masuk ke dalam ruang pengawasan berlapis yang dibangun Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya.
Jalur dari Iran menuju Israel praktis bukan “ruang kosong”, melainkan koridor militer yang dipenuhi radar, kapal perang, pesawat tempur, dan sistem pencegat berteknologi tinggi.
Pada fase awal penerbangan, rudal Iran harus melewati jaring peringatan dini regional.
Kapal perang Amerika di Teluk Persia, radar Israel yang ditempatkan di Azerbaijan dan Turkmenistan, serta radar Amerika di Arab Saudi, Qatar, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Bahrain membentuk cincin deteksi jarak jauh.
Ditambah lagi radar Inggris di Oman dan sistem radar NATO di Turki, setiap perubahan lintasan hampir pasti terpantau sejak awal.
Pada tahap ini, rudal belum dicegat, tetapi posisinya telah “dikunci” secara digital oleh banyak pusat komando sekaligus.
Memasuki wilayah Irak, Suriah, dan Yordania, tantangan meningkat dari sekadar deteksi menjadi intersepsi aktif.
Sistem pertahanan udara pangkalan Amerika di Irak dan Suriah siaga, disokong jet tempur Amerika, Inggris, dan Prancis yang berpatroli di langit Yordania hingga Israel.
Armada Amerika di Laut Merah dan Mediterania menambah lapisan pencegat berbasis laut. Pada fase ini, rudal Iran menghadapi kombinasi sensor, komando, dan senjata yang dirancang untuk menghentikannya jauh sebelum mencapai sasaran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/hujan-rudal-iran.jpg)