Konflik Rusia Vs Ukraina
Zelenskyy Siap Kompromi untuk Akhiri Perang, Jamin Putin Tak Dipenjara
Zelenskyy menawarkan kompromi untuk mengakhiri perang, salah satunya menyebut Putin dan teman-temannya bisa saja tidak dipenjara atas invasinya.
Ringkasan Berita:
- Zelenskyy menawarkan kompromi untuk mengakhiri perang Rusia dan Ukraina, salah satunya tidak akan memenjarakan Putin dan teman-temannya atas invasinya.
- Zelenskyy menolak kompromi soal penyerahan wilayah Ukraina kepada Rusia.
- Perang Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.452 ketika Trump mendesak Zelenskyy untuk bertindak dalam upaya negosiasi.
TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.452 pada Sabtu (14/2/2026).
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan negaranya mengupayakan kompromi yang lebih baik bagi Rusia.
Berbicara di sela-sela Konferensi Keamanan Munich, Zelenskyy meyakini Rusia sebenarnya tidak ingin mengakhiri perang yang berlangsung sejak 2022 itu.
Amerika Serikat (AS) menawarkan Ukraina untuk berkompromi pada beberapa isu agar perang dapat berakhir.
"Kita telah membuat banyak kompromi. Putin dan teman-temannya tidak dipenjara. Ini adalah kompromi terbesar yang pernah dibuat dunia," kata Zelenskyy, Jumat (13/2/2026).
Ketika ditanya wartawan mengenai klaim teritorial Rusia terhadap wilayah Ukraina, Zelenskyy menolak kemungkinan tersebut.
Zelenskyy mencoba menyampaikan kepada para mitranya, khususnya Amerika Serikat, bahwa hal itu hanya akan menguntungkan ambisi Rusia.
Zelenskyy sebelumnya menekankan bahwa mencapai kesepakatan mengenai masalah teritorial tidak mungkin dilakukan melalui mediasi kelompok teknis — kontak langsung antara para pemimpin negara sangat dibutuhkan.
Dalam negosiasi perdamaian Rusia dan Ukraina, masalah teritorial menjadi salah satu hambatan dalam perundingan tersebut, lapor Suspilne.
Baca juga: Ambisi Akhir Rusia di Ukraina Jelang Pembicaraan Damai di Swiss, Bersikeras Soal Wilayah
Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina
Perang Rusia–Ukraina pecah pada 24 Februari 2022 ketika Moskow melancarkan invasi militer besar-besaran ke berbagai kota di Ukraina. Serangan itu bukan peristiwa yang muncul tiba-tiba, melainkan puncak dari ketegangan panjang antara kedua negara yang diwarnai rivalitas politik, isu keamanan, dan perebutan pengaruh di kawasan Eropa Timur.
Akar persoalan sesungguhnya telah terbentuk sejak bubarnya Uni Soviet pada awal 1990-an. Setelah merdeka, Ukraina dan Rusia menapaki arah politik yang kian berseberangan. Kiev secara bertahap mempererat hubungan dengan Barat—baik melalui kerja sama ekonomi dan politik dengan Uni Eropa maupun kemitraan strategis dengan Amerika Serikat—sebuah langkah yang dipandang Moskow sebagai pergeseran geopolitik yang mengkhawatirkan.
Rencana Ukraina untuk mendekat ke NATO menjadi titik sensitif bagi Rusia. Ketegangan semakin tajam pada 2014, ketika gelombang demonstrasi besar yang dikenal sebagai Revolusi Maidan menggulingkan pemerintahan pro-Rusia di Kiev. Pada tahun yang sama, Rusia menganeksasi Krimea dan konflik bersenjata pecah di wilayah Donbas antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Moskow.
Berbagai jalur diplomasi internasional sempat diupayakan, namun tak mampu meredakan konflik secara permanen. Situasi terus memburuk hingga Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengumumkan operasi militer skala penuh pada Februari 2022. Rusia menyebut langkah tersebut sebagai upaya melindungi warga di Donbas sekaligus mencegah ekspansi NATO ke perbatasannya.
Invasi itu segera memicu kecaman keras dari Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya. Sebagai respons, sanksi ekonomi besar dijatuhkan kepada Rusia, sementara dukungan militer dan bantuan finansial untuk Ukraina terus ditingkatkan.
Perang masih berlangsung, dan AS berupaya menengahi perundingan negosiasi untuk mengakhiri perang Rusia dan Ukraina. Berikut perkembangan terbaru yang dirangkum dari berbagai sumber.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Presiden-Ukraina-Zelensky-5y293u53u39.jpg)