Selasa, 21 April 2026

Konflik Palestina Vs Israel

Gaza Darurat Kesehatan, 18 Ribu Lebih Pasien Butuh Evakuasi Medis

Sistem kesehatan di Jalur Gaza menghadapi tekanan berat akibat konflik berkepanjangan, keterbatasan tenaga medis dan meningkatnya kebutuhan evakuasi

Rizek Abdeljawad/Xinhua
SITUASI DI GAZA - Sistem kesehatan di Jalur Gaza menghadapi tekanan berat akibat konflik berkepanjangan, keterbatasan tenaga medis dan meningkatnya kebutuhan evakuasi 

Ringkasan Berita:
  • Sistem kesehatan di Jalur Gaza menghadapi tekanan berat akibat konflik berkepanjangan, keterbatasan tenaga medis, dan meningkatnya kebutuhan evakuasi pasien.
  • Pembukaan kembali Penyeberangan Rafah pada awal Februari 2026 memungkinkan evakuasi medis terbatas untuk pertama kalinya dalam hampir 11 bulan.

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Sistem kesehatan di Jalur Gaza menghadapi tekanan berat akibat konflik berkepanjangan, keterbatasan tenaga medis, serta meningkatnya kebutuhan evakuasi pasien.

Pembukaan kembali Penyeberangan Rafah pada awal Februari memungkinkan evakuasi medis terbatas untuk pertama kalinya dalam hampir 11 bulan.

Evakuasi Medis dan Pasien Menunggu Perawatan

Antara 2 hingga 10 Februari, PBB dan mitranya mendukung evakuasi 142 pasien beserta pendamping. 

Sebanyak 91 pasien dievakuasi melalui Rafah dan 51 melalui Kerem Shalom.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, sejak Oktober 2023 hingga Januari 2026, sebanyak 10.762 pasien dan lebih dari 12.000 pendamping telah dievakuasi secara medis ke luar Gaza.

Namun ribuan pasien masih menunggu. Lebih dari 18.500 orang, termasuk sekitar 4.000 anak-anak, membutuhkan evakuasi medis karena layanan spesialis tidak tersedia di Gaza.

Save the Children memperkirakan proses evakuasi dengan kecepatan saat ini dapat memakan waktu lebih dari satu tahun.

Tekanan pada Infrastruktur Kesehatan

Sistem kesehatan lokal menghadapi kekurangan tenaga profesional akibat kerusakan infrastruktur dan hambatan pendidikan. 

"Sistem kesehatan Gaza terus menghadapi tekanan signifikan akibat kekurangan staf dan kerusakan infrastruktur," dilansir dari situs resmi United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (UN OCHA), Sabtu (14/2/2026). 

Banyak calon dokter dan tenaga kesehatan tidak dapat menyelesaikan pelatihan karena kendala finansial.

Program dukungan yang melibatkan Program Pembangunan PBB membantu 470 mahasiswa kesehatan tingkat akhir menyelesaikan pendidikan dan mempercepat sertifikasi mereka.

Upaya rehabilitasi fasilitas kesehatan dan perluasan kapasitas perawatan kritis terus dilakukan, meskipun sebagian pasokan medis menghadapi kendala persetujuan.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved