Pengadilan Tinggi di Tokyo Perintahkan Pembubaran Gereja Unifikasi
Pengadilan Tinggi Tokyo tolak banding Gereja Unifikasi dan perintahkan pembubaran, gereja siap ajukan perlawanan ke Mahkamah Agung
Salah satu korban, Tatsuo Hashida dari Prefektur Kochi, mengaku telah memperkirakan putusan tersebut. Ia menyebut keluarganya hancur setelah mantan istrinya memberikan donasi besar kepada gereja. Bahkan, putra sulungnya diketahui meninggal karena bunuh diri.
“Saya memang memperkirakan keputusan pembubaran ini akan keluar. Saya hanya berharap para pengikut benar-benar dapat diselamatkan ke depannya,” katanya.
Sikap Melunak Dipertanyakan
Menjelang putusan, gereja sempat menunjukkan sikap yang dinilai lebih lunak. Pada Oktober tahun lalu, mereka membentuk komite kompensasi independen yang terdiri dari para pengacara.
Pada Desember, mantan ketua organisasi Tomihiro Tanaka mengundurkan diri dan menyampaikan permintaan maaf terbuka.
Namun Profesor Yoshihide Sakurai, pakar studi agama dari Universitas Hokkaido, menilai langkah tersebut lebih bersifat formalitas.
“Saya melihatnya hanya sebagai bentuk formal. Mereka ingin menunjukkan bahwa organisasi memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri. Tetapi jika memang memiliki niat dan kemampuan itu, mengapa tidak dilakukan sejak jauh lebih awal?” ujarnya.
Akan Ajukan ke Mahkamah Agung Jepang
Pihak Gereja Unifikasi menyatakan akan mengajukan banding khusus ke Mahkamah Agung Jepang untuk menentang keputusan tersebut.
Dengan demikian, polemik panjang antara pemerintah Jepang dan organisasi keagamaan ini tampaknya masih akan berlanjut, meski arah putusan peradilan sejauh ini menunjukkan posisi tegas negara terhadap praktik yang dinilai merugikan masyarakat.
Diskusi beasiswa di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/krbanpelecehan111.jpg)