Donald Trump Pimpin Amerika Serikat
Setelah Serang Iran, Trump Berencana Gempur Kuba: Negara Gagal
Trump berencana akan melakukan serangan ke Kuba setelah operasi militer di Iran rampung. Dia menyebut Kuba adalah negara gagal.
Ringkasan Berita:
- Trump berencana untuk menyerang Kuba setelah operasi militer di Iran rampung dilakukan.
- Hal ini dilakukan karena menurutnya Kuba adalah negara gagal dan perlu adanya rezim baru untuk menggantikan.
- Sebelum melakukan serangan, Trump telah membuat ultimatum untuk menyetop seluruh ekspor dari Veneuzela ke Kuba seperti minyak dan uang.
- Ultimatum serupa juga ditujukan bagi negara manapun yang mencoba untuk melakukan bantuan.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menyebut bakal melanjutkan invasi ke Kuba setelah operasi militer di Iran selesai.
Diketahui, Trump telah melakukan operasi militer di Iran setelah melakukan serangan perdana pada Sabtu (28/2/2026) bersama dengan Israel.
Serangan tersebut sampai mengakibatkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dan sejumlah pejabat tinggi turut meninggal dunia.
Dia mengatakan bahwa serangan terhadap Kuba 'tinggal menunggu waktu'.
"Apa yang terjadi di Kuba sungguh luar biasa. Kami berpikir bahwa kami ingin memperbaiki -- menyelesaikan yang ini (operasi militer di Iran) terlebih dahulu, tetapi itu hanya masalah waktu sebelum Anda dan banyak orang luar biasa lainnya akan kembali ke Kuba, semoga tidak untuk tinggal," katanya di Gedung Putih saat menerima kunjungan tim sepakbola, Inter Miami, Kamis (5/3/2026), dikutip dari CNBC.
Trump mengungkapkan rencananya tersebut di depan warga Miami yang mayoritas termasuk sebagai orang keturunan Kuba.
Baca juga: Trump Ngotot Mau Terlibat Pemilihan Pemimpin Baru Iran, Tak Terima Kalau Mojtaba Khamenei Terpilih
Dia tidak menjelaskan lebih lanjut soal detail serangan ke Kuba.
"Kami ingin kalian kembali dan kami tidak ingin kehilangan kalian. Kami tidak ingin membuatnya begitu nyaman sehingga mereka tinggal. Tapi beberapa orang mungkin memang ingin tinggal."
"Mereka sangat mencintai Kuba. Itu adalah hal lain yang tidak seharusnya terjadi," jelasnya.
Terpisah, saat diwawancarai media Politico pada Kamis pagi waktu setempat, Trump menyebut 'rezim di Kuba akan jatuh setelah rezim di Iran digulingkan'.
Dia juga mengeklaim telah membuat ekonomi di Kuba memburuk sehingga memaksa pemerintahan negara di Kepulauan Karibia itu harus berunding setelah penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, pada Januari 2026 lalu.
Adapun perundingan tersebut dilakukan karena Venezuela menjadi eksportir minyak utama bagi Kuba.
"Kami menghentikan semua pasokan minyak, semua uang, atau menghentikan semua yang masuk dari Venezuela, yang merupakan satu-satunya sumber. Dan mereka ingin membuat kesepakatan."
"Kami sedang berbicara dengan Kuba. Seberapa lama Anda mendengar tentang Kuba? Dan itu salah satu yang kecil bagi saya," jelasnya.
Di sisi lain, rencana Trump untuk menyerang Kuba setelah mengaku 'bangga' terhadap hasil operasi militer di Iran.