Rabu, 22 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Bisakah Donald Trump Diadili Atas Kejahatan Perang di Iran?

Terlepas dari meningkatnya kritik terhadap perang, sekutu-sekutu Partai Republik presiden AS sebagian besar tetap mendukungnya.

Editor: Hasanudin Aco
Tangkap Layar/Khaberni
BAHAS IRAN - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dalam sebuah pertemuan. Keduanya bertemu pada Rabu (11/2/2026) di Washington DC, AS, untuk membahas soal Iran. Netanyahu dan Trump disebut-sebut berbagai pihak terlibat kejahatan perang di Iran. 

“Anda tidak bisa membiarkan suatu negara sering menargetkan warga Amerika dan tidak membalas. Ayatollah dan para anteknya sudah lama pantas menerima ini,” tulis Bacon di X, merujuk pada Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, yang terbunuh pada hari pertama perang.

Perang AS-Israel telah menewaskan lebih dari 2.000 orang di Iran, menurut pejabat Iran yang mengatakan bahwa sebagian besar korban adalah warga sipil.

Terlepas dari meningkatnya korban sipil, Trump mengatakan pada hari Senin bahwa warga Iran menginginkan negara mereka dibom.

“Rakyat Iran, ketika mereka tidak mendengar bom meledak, mereka merasa kesal. Mereka ingin mendengar bom karena mereka ingin bebas,” katanya.

Kemudian pada hari itu, Trump menolak tuduhan bahwa pengeboman infrastruktur sipil akan sama dengan kejahatan perang.

"Saya harap saya tidak perlu melakukannya," katanya.

Ketika ditanya tentang kekhawatiran sebagian anggota Partai Demokrat mengenai kesehatan mentalnya, Trump berkata: “Jika memang demikian, akan ada lebih banyak orang seperti saya karena negara kita telah dirugikan dalam perdagangan dan segala hal selama bertahun-tahun, sampai saya muncul.”

Sumber: Al Jazeera/CNN

 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved