Kamis, 23 April 2026

Konflik Iran Vs Israel

Pakistan Disebut Berada di Posisi Dilematis dalam Konflik Iran, Ini Sebabnya

Islamabad cenderung menghindari keterlibatan militer langsung, sambil mencoba berperan sebagai mediator untuk menjaga keseimbangan kepentingan.

Editor: Wahyu Aji
Akun ofisial Menhan Arab Saudi Khalid bin Salman di X/@kbsalsaud
MENHAN PAKISTAN SAUDI - Menteri Pertahanan Arab Saudi, Pangeran Khalid bin Salman, (kanan) menggelar pertemuan strategis dengan Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan, Asim Munir, (kiri) pada Sabtu (7/3/2026). Islamabad cenderung menghindari keterlibatan militer langsung, sambil mencoba berperan sebagai mediator untuk menjaga keseimbangan kepentingan. 
Ringkasan Berita:
  • Pakistan berada dalam dilema karena tekanan berbeda dari China yang menahan diri dan Arab Saudi yang ingin sikap tegas terhadap Iran.
  • Islamabad cenderung menghindari keterlibatan militer langsung, sambil mencoba berperan sebagai mediator untuk menjaga keseimbangan kepentingan.
  • Tantangan domestik seperti ketegangan sektarian, konflik wilayah, dan tekanan ekonomi memperumit posisi geopolitik Pakistan saat ini.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Posisi Pakistan dinilai semakin rentan di tengah meningkatnya keterlibatan Islamabad dalam dinamika konflik Iran dan negara-negara Arab.

Dikutip dari Global Strat View, Selasa (7/4/2026), kondisi ini dipengaruhi oleh perbedaan kepentingan antara dua mitra utama Pakistan, yakni China dan Arab Saudi.

Sejumlah analis menilai bahwa pihak-pihak di Iran yang mendukung perubahan rezim berpotensi bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk membatasi pengaruh China di Timur Tengah.

Dalam konteks tersebut, China disebut menginginkan Pakistan menahan diri dari keterlibatan dalam kampanye militer terhadap Iran.

Sementara hubungan Pakistan dengan Arab Saudi menghadapi dinamika yang berbeda.

Arab Saudi, yang merupakan sekutu penting Pakistan, memandang Iran sebagai ancaman bagi keamanan kawasan Teluk dan mendorong respons yang lebih tegas terhadap Teheran.

Riyadh dilaporkan menekan Islamabad untuk berpihak dalam menghadapi Iran, termasuk dengan merujuk pada Perjanjian Pertahanan Bersama Strategis antara kedua negara. Tekanan tersebut meningkat setelah Iran meluncurkan rudal dan drone ke arah wilayah Saudi.

Namun, hingga saat ini Pakistan dinilai masih berupaya menghindari keterlibatan militer langsung terhadap Iran.

Sejumlah faktor disebut memengaruhi sikap ini, termasuk tekanan dari China, potensi ketegangan sektarian di dalam negeri, serta dinamika keamanan di wilayah perbatasan.

“Pakistan berada dalam dilema klasik karena sangat bergantung pada China dan Arab Saudi untuk kelangsungan ekonomi dan geopolitiknya,” tulis laporan tersebut.

Peran sebagai Mediator

Sejumlah pengamat menilai posisi Pakistan sebagai mediator atau pihak yang mendorong perdamaian juga memiliki dimensi strategis, termasuk untuk mengelola tekanan dari kedua pihak.

Di dalam negeri, isu keterlibatan dalam konflik Iran juga memicu reaksi di wilayah Gilgit-Baltistan.

Laporan tersebut menyebutkan adanya penolakan dari sebagian masyarakat terhadap potensi keterlibatan Pakistan dalam konflik tersebut.

Wilayah ini memiliki posisi strategis karena berbatasan langsung dengan China dan menjadi jalur penting dalam konektivitas ekonomi kedua negara.

Selain itu, komposisi demografis dan dinamika sosial di wilayah tersebut turut memengaruhi sensitivitas terhadap konflik Iran.

Dalam beberapa waktu terakhir, laporan juga mencatat meningkatnya ketegangan di wilayah tersebut, termasuk penahanan sejumlah aktivis, tokoh masyarakat, dan anggota kelompok politik.

Selain Gilgit-Baltistan, Pakistan juga menghadapi tantangan keamanan di wilayah lain. Di Balochistan, kelompok separatis dilaporkan meningkatkan aktivitasnya, sementara di wilayah perbatasan barat, ketegangan dengan kelompok bersenjata masih berlangsung.

Tekanan dari Berbagai Arah

Dalam perkembangan lain, China juga disebut mendorong Pakistan untuk meredakan ketegangan di Afghanistan, termasuk melalui upaya negosiasi dengan kelompok Taliban. Hal ini dikaitkan dengan kepentingan China dalam menjaga stabilitas kawasan yang berdampak pada investasi dan keamanan regional.

Media juga melaporkan bahwa Pakistan telah mendekati China untuk mendapatkan dukungan keuangan, termasuk dalam upaya mengelola kewajiban utang luar negeri.

Secara keseluruhan, laporan tersebut menggambarkan Pakistan berada dalam tekanan dari berbagai arah, baik eksternal maupun domestik.

Baca juga: Pakistan Gratiskan Transportasi Umum tapi Naikkan Harga BBM hingga 54 Persen

 

Ketergantungan pada mitra strategis yang memiliki kepentingan berbeda dinilai menjadi tantangan utama dalam menentukan arah kebijakan luar negeri Pakistan.

Sejumlah pengamat menilai bahwa kemampuan Pakistan dalam menyeimbangkan hubungan dengan para mitranya akan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas politik dan keamanan di dalam negeri.

SUMBER

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved