Iran Vs Amerika Memanas
Sikap Plin-plan Trump Hadapi Iran: Marah, Longgarkan Waktu, Ancam Kasar, Melunak Gencatan Senjata
Presiden Amerika Serikat menunjukkan sikap berubah-ubah dalam menghadapi Iran, mulai dari ancaman kehancuran total hingga menunda serangan.
Lantas pada 30 Maret 2026, Trump menyebut kemungkinan tercapainya kesepakatan, namun di saat yang sama mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital Iran.
“Kami akan mengakhiri ‘kunjungan’ kami yang menyenangkan di Iran dengan meledakkan dan melenyapkan sepenuhnya semua Pembangkit Listrik, Sumur Minyak, dan Pulau Kharg mereka (dan mungkin juga semua pabrik desalinasi!),” ujar Trump.
Ancaman terus meningkat mendekati tenggat waktu yang ditetapkan Trump.
Dalam unggahan yang disinyalir penuh amarah, Trump menulis:
“Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya digabung menjadi satu, di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka Selat sialan itu, kalian ba***gan gila, atau kalian akan hidup di Neraka.”
Sehari sebelum tenggat, Trump bahkan menyatakan:
“Seluruh negara itu bisa direbut dalam satu malam, dan malam itu mungkin besok malam.”
Dan pada hari Selasa (7/4/2026) Trump mengancam dengan mengatakan “seluruh peradaban akan mati malam ini,”
Trump Setuju Gencatan Senjata
Hingga akhirnya Trump menyatakan telah menyetujui gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran pada Selasa (7/4/2026).
Keputusan ini diambil dengan syarat utama bahwa Teheran bersedia membuka kembali jalur penting Selat Hormuz.
Kesepakatan tersebut juga mendapat persetujuan dari Israel, sebagaimana disampaikan oleh seorang pejabat Gedung Putih, mengutip CNN, Rabu (8/4/2026).
Hal ini menandai adanya upaya deeskalasi di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah dalam beberapa waktu terakhir.
Baca juga: Pakar: Donald Trump di Bawah Tekanan Saat Setujui Gencatan Senjata dengan Iran
Langkah menuju gencatan senjata ini tidak lepas dari peran diplomasi internasional.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif sebelumnya mengusulkan penghentian sementara konflik guna memberikan ruang bagi negosiasi antara Washington dan Teheran.
Usulan tersebut tampaknya menjadi salah satu faktor pendorong tercapainya kesepakatan awal ini.