Sabtu, 25 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Ada Kemungkinan Sabotase, Erdogan Ingatkan soal Ancaman dalam Gencatan Senjata AS dan Iran

Erdogan memperingatkan tentang ancaman dari kemungkinan provokasi dan sabotase terhadap kesepakatan gencatan senjata Iran dan AS.

Penulis: Nuryanti
Ringkasan Berita:
  • Menanggapi adanya gencatan senjata, Erdogan menyambut baik kesepakatan di menit-menit terakhir tersebut.
  • Dalam percakapan telepon dengan rekan sejawatnya dari AS, Donald Trump, Erdogan mendesak "kesepakatan perdamaian abadi" dengan Iran.
  • Erdogan juga menyerukan agar “proses ini tidak dikompromikan dalam keadaan apa pun”.

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memperingatkan tentang ancaman dari kemungkinan provokasi dan sabotase terhadap kesepakatan gencatan senjata yang disepakati oleh Iran dan Amerika Serikat (AS).

Menanggapi adanya gencatan senjata, Erdogan menyambut baik kesepakatan di menit-menit terakhir tersebut.

“Kami berharap gencatan senjata akan sepenuhnya diterapkan di lapangan tanpa memberikan kesempatan bagi kemungkinan provokasi dan sabotase," katanya, Rabu (8/4/2026), dilansir Arab News.

Sementara, dalam percakapan telepon dengan rekan sejawatnya dari AS, Donald Trump, Erdogan mendesak "kesepakatan perdamaian abadi" dengan Iran.

“Kesempatan selama dua minggu ini, yang terbuka setelah 40 hari ketegangan dan penderitaan yang cukup besar bagi seluruh dunia, harus dimanfaatkan untuk mencapai kesepakatan perdamaian yang langgeng,” kata Erdogan kepada Trump.

Erdogan juga menyerukan agar “proses ini tidak dikompromikan dalam keadaan apa pun” dan mengatakan Turki akan memberikan dukungan penuh untuk memastikan hal tersebut.

Israel Siap Kembali Berperang Lawan Iran

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Israel tetap siap untuk menghadapi Iran jika perlu, meskipun gencatan senjata telah tercapai antara Amerika Serikat dan Iran.

“Izinkan saya memperjelas: Kita masih memiliki tujuan yang harus diselesaikan, dan kita akan mencapainya – baik melalui kesepakatan atau melalui pertempuran yang kembali terjadi,” kata Netanyahu dalam pernyataan yang disiarkan televisi, Rabu, dikutip dari Al Arabiya.

“Kami siap kembali bertempur kapan pun diperlukan. Jari kami tetap berada di pelatuk. Ini bukanlah akhir dari kampanye, tetapi sebuah langkah menuju pencapaian semua tujuan kami.”

“Iran memasuki masa jeda ini dalam keadaan babak belur, lebih lemah dari sebelumnya," lanjutnya.

Baca juga: Trump Ngamuk! Negara yang Pasok Senjata ke Iran Siap Dikenai Sanksi Tarif 50 Persen

Netanyahu juga membalas kritik dari para pemimpin oposisi yang menegurnya karena menyetujui gencatan senjata sebelum Israel mencapai tujuannya dalam perang tersebut.

“Seperti yang Anda ketahui, tadi malam gencatan senjata sementara selama dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran mulai berlaku, sepenuhnya berkoordinasi dengan Israel,” kata Netanyahu dalam pernyataan yang disiarkan televisi.

“Tidak, kami tidak terkejut di saat-saat terakhir,” jelasnya.

Gencatan Senjata Terancam

Diberitakan AP News, kesepakatan gencatan senjata untuk menghentikan perang di Iran tampaknya berada di ujung tanduk pada hari Rabu setelah Republik Islam menutup Selat Hormuz lagi sebagai tanggapan atas serangan Israel di Lebanon.

Gedung Putih menuntut agar selat tersebut dibuka kembali dan berupaya menjaga agar pembicaraan perdamaian tetap berjalan.

AS dan Iran sama-sama mengklaim kemenangan setelah mencapai kesepakatan tersebut, dan para pemimpin dunia menyatakan lega, meskipun lebih banyak drone dan rudal menghantam Iran dan negara-negara Arab Teluk.

Pada saat yang sama, Israel mengintensifkan serangannya terhadap kelompok militan Hizbullah di Lebanon, menghantam daerah komersial dan perumahan di Beirut.

Setidaknya 182 orang tewas pada hari Rabu dalam hari pertempuran paling mematikan di sana.

Kekerasan terbaru mengancam akan menggagalkan kesepakatan yang oleh Wakil Presiden AS JD Vance disebut sebagai kesepakatan yang "rapuh".

Baca juga: Sambut Baik Gencatan Senjata AS-Iran, Pemerintah Harap Kapal Pertamina Sudah Bisa Lewat Selat Hormuz

TARGET SERANGAN - Proses produksi besi dan baja di sebuah pabrik di Iran. Fasilitas-fasilitas industri Teheran kini menjadi target serangan Israel.
TARGET SERANGAN - Proses produksi besi dan baja di sebuah pabrik di Iran. Fasilitas-fasilitas industri Teheran kini menjadi target serangan Israel. (HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni)

Rencana 10 Poin dari Iran

Donald Trump mengumumkan Washington telah menerima rencana 10 poin dari Iran untuk mengakhiri perang, Selasa.

Donald Trump menyampaikan rencana Iran itu terlihat seperti "dasar yang layak untuk bernegosiasi".

Ketika ditanya untuk memperjelas maksud Trump tentang proposal perdamaian Iran yang "dapat diterapkan", Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan:

"Kata-kata Presiden Trump sudah cukup jelas: ini adalah dasar yang dapat diterapkan untuk bernegosiasi, dan negosiasi tersebut akan terus berlanjut."

“Yang benar adalah Presiden Trump dan militer kita yang kuat telah berhasil membuat Iran setuju untuk membuka kembali Selat Hormuz, dan negosiasi akan terus berlanjut,” kata Leavitt dalam sebuah pernyataan.

Iran mengatakan rencana 10 poinnya untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat akan mengharuskan Washington untuk menerima program pengayaan uraniumnya dan pencabutan semua sanksi.

Setelah mengklaim kemenangan, Republik Islam Iran dalam sebuah pernyataan yang dirilis bersamaan dengan daftar 10 poin yang diterbitkan oleh media pemerintah, mengatakan rencana tersebut akan membutuhkan “kontrol Iran yang berkelanjutan atas Selat Hormuz, penerimaan pengayaan uranium, pencabutan semua sanksi primer dan sekunder.”

Tuntutan utama lainnya dalam rancangan tersebut, yang diajukan melalui mediator di Pakistan, mencakup penarikan militer AS dari Timur Tengah, penghentian serangan terhadap Iran dan sekutunya, pembebasan aset Iran yang dibekukan, dan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menjadikan kesepakatan apa pun mengikat.

“Perlu dicatat bahwa pengesahan resolusi tersebut akan menjadikan semua perjanjian ini mengikat di bawah hukum internasional dan akan menjadi kemenangan diplomatik yang signifikan bagi bangsa Iran,” kata Dewan Keamanan Nasional Tertinggi negara itu dalam sebuah pernyataan, Selasa (7/4/2026), dilansir The Times of Israel.

Baca juga: Trump Kecewa pada NATO, Pasal 5 Kembali Dipersoalkan di Tengah Konflik Iran

Yang terpenting, rencana tersebut juga menyerukan perluasan kendali Iran atas Selat Hormuz, jalur bagi sekitar seperlima minyak dunia yang secara efektif telah diblokir untuk lalu lintas maritim sejak dimulainya konflik pada Sabtu (28/2/2026).

Pengumuman ini disampaikan setelah Pakistan mengajukan proposal menit-menit terakhir untuk mencegah serangan besar-besaran AS terhadap Iran, dengan Trump memperingatkan "seluruh peradaban akan mati malam ini" kecuali kesepakatan tercapai.

Sejak perang dimulai, Trump berulang kali mengundur tenggat waktu tepat sebelum tenggat waktu tersebut berakhir.

Israel juga telah menyetujui persyaratan perjanjian gencatan senjata selama dua minggu, menurut seorang pejabat Gedung Putih yang tidak berwenang untuk berkomentar secara terbuka dan berbicara dengan syarat anonim.

Namun, ada kekhawatiran di Israel mengenai kesepakatan tersebut, menurut seseorang yang mengetahui situasi tersebut dan berbicara dengan syarat anonim karena tidak diizinkan berbicara kepada media.

Orang tersebut mengatakan Israel ingin mencapai lebih banyak lagi.

Persediaan uranium yang sangat diperkaya milik Iran masih terkubur di lokasi pengayaan.

Program tersebut merupakan salah satu isu utama yang dikutip oleh Israel dan AS dalam melancarkan perang.

(Tribunnews.com/Nuryanti)

Berita lain terkait Iran Vs Amerika Memanas

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved