Sabtu, 11 April 2026

5 Populer Internasional: Gencatan Senjata AS-Iran - Daftar 37 Pesawat AS yang Hancur Selama Perang

Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran rapuh karena serangan Israel ke Lebanon memicu balasan rudal dari Iran.

Ancaman tarif 50 persen yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap negara pemasok senjata ke Iran turut menyeret perhatian pada dua kekuatan besar dunia, yakni China dan Rusia.

Meskipun tidak menyebutkan nama negara secara langsung, sejumlah analis menilai bahwa kebijakan tersebut secara implisit mengarah pada Beijing dan Moskow.

Keduanya selama ini kerap dituduh oleh Washington memiliki peran dalam memperkuat kapasitas militer Iran di tengah tekanan geopolitik kawasan.

BACA SELENGKAPNYA >>>

4. Israel Klaim Membunuh Keponakan dan Sekretaris Pribadi Pemimpin Hizbullah Naim Qassem

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengklaim telah membunuh keponakan sekaligus sekretaris pribadi pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, dalam serangan pada Rabu (8/4/2026) di Beirut, Lebanon.

Mengutip The Guardian, dalam unggahan di media sosial pada Kamis (9/4/2026), IDF menyatakan:

“Kemarin (Rabu), IDF menyerang wilayah Beirut dan menewaskan Ali Yusuf Harshi, sekretaris pribadi sekaligus keponakan Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem.”

Harshi disebut sebagai rekan dekat dan penasihat pribadi Qassem yang berperan penting dalam mengelola serta mengamankan aktivitas kantornya.

Hingga kini, Hizbullah belum memberikan komentar atas klaim tersebut.

Israel Gempur Lebanon

Sebelumnya, kelompok militan yang didukung Iran, Hizbullah, mengaku telah menembakkan roket ke arah Israel sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata AS-Iran.

Hizbullah menyatakan memiliki hak untuk membalas serangan Israel di wilayah Lebanon.

“Sebagai tanggapan atas pelanggaran perjanjian gencatan senjata oleh musuh, kami menargetkan kibbutz Israel di Manara dekat perbatasan Lebanon dengan rentetan roket pada Kamis pagi,” ujar Hizbullah dalam sebuah pernyataan, dikutip dari NDTV.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam gencatan senjata antara AS dan Iran.

Namun, Pakistan sebagai mediator memiliki pandangan berbeda.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut juga mencakup penghentian pertempuran di Lebanon.

BACA SELENGKAPNYA >>>

5. 2 Kapal Tanker China Bergabung dalam Antrean untuk Menguji Jalur Keluar Selat Hormuz

Dua kapal tanker minyak milik China yang bermuatan penuh tengah menunggu di dekat Selat Hormuz, menempatkan mereka pada posisi untuk menjadi kapal pertama yang meninggalkan Teluk Persia di bawah gencatan senjata AS-Iran yang baru berlaku sehari.

Dilansir Bloomberg, Cospearl Lake, kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar (VLCC) yang terkait dengan perusahaan pelayaran milik negara China, Cosco Shipping Corp., dan He Rong Hai, yang dimiliki entitas lebih kecil, terlihat berlayar ke timur pada Kamis (9/4/2026) pagi dengan kecepatan tinggi berdasarkan data pelacakan kapal, sebelum akhirnya berhenti.

Kedua kapal tersebut menunjukkan identitas kepemilikan China dalam sistem pelacakan mereka, langkah yang biasanya dilakukan untuk alasan keselamatan selama transit yang disetujui Iran.

Kapal-kapal ini merupakan bagian dari armada yang semakin besar yang berkumpul di pintu masuk selat, di lepas pantai Uni Emirat Arab.

Sebuah VLCC berbendera Arab Saudi, Jaham, juga bergerak ke timur menuju area penampungan di lepas pantai Dubai.

Mereka bergabung dengan dua kapal tanker super berbendera India yang telah berada di kawasan tersebut sejak akhir Maret, yakni Desh Vibhor di lepas pantai Ras Al Khaimah dan Desh Vaibhav di dekat Dubai.

Iran dan AS sebenarnya telah sepakat menghentikan pertempuran sementara sebagai imbalan atas pembukaan selat, tetapi detail implementasinya masih belum jelas.

Serangan yang terus berlanjut, terutama oleh Israel di Lebanon, menimbulkan keraguan terhadap efektivitas gencatan senjata.

Sejak pengumuman gencatan senjata dan rencana pembukaan selat sehari sebelumnya, lalu lintas kapal masih hampir tidak berubah.

Pergerakan kapal-kapal China dan Saudi di sepanjang Teluk menunjukkan niat untuk melintasi selat setelah terjebak selama berminggu-minggu, tetapi kelanjutan perjalanan mereka masih belum pasti.

Para pemilik kapal mengatakan pada Kamis bahwa mereka masih menunggu kejelasan mengenai prosedur pelayaran yang aman.

BACA SELENGKAPNYA >>>

(Tribunnews.com)

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved