Iran Vs Amerika Memanas
Diplomasi AS dan Iran Temui Titik Terang, Bakal Dilanjut Minggu Ini? PM Pakistan Optimis
Meski hubungan keduanya memanas, AS dan Iran dilaporkan bakal melanjutkan perundingan di Pakistan pada minggu ini. PM Pakistan beri sinyal optimis.
Ringkasan Berita:
- Perundingan antara AS dengan Iran menemui titik terang setelah sebelumnya diplomasi di Islamabad, Pakistan terhenti karena tidak saling mencapai kesepakatan.
- Sumber-sumber mengatakan, AS dan Iran dapat kembali melakukan pembicaraan paling cepat pada akhir pekan ini.
- Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengaku bahwa Iran telah menghubungi pihaknya dan ingin mencapai kesepakatan.
TRIBUNNEWS.COM - Hubungan Amerika Serikat (AS) dengan Iran kembali menjadi sorotan setelah terdapat informasi bahwa keduanya bakal melanjutkan perundingan di Pakistan pada minggu ini.
Sumber-sumber yang berbicara kepada Reuters mengatakan, AS dan Iran dapat kembali melakukan pembicaraan paling cepat pada akhir pekan ini.
Proposal pembicaraan, kata sumber-sumber tersebut, telah diserahkan kepada AS dan Iran.
"Belum ada tanggal pasti yang ditetapkan, dan delegasi akan membuka waktu dari Jumat hingga Minggu," kata seorang sumber senior Iran, Selasa (14/4/2026).
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengaku bahwa Iran telah menghubungi pihaknya dan ingin mencapai kesepakatan.
Trump menambahkan, ia tidak akan memberikan sanksi terhadap perjanjian apa pun yang memungkinkan Teheran untuk memiliki senjata nuklir.
Kabar mengenai berlanjutnya komunikasi antara AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, menjadi angin segar bagi ekonomi global.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengonfirmasi bahwa meski negosiasi akhir pekan lalu sempat buntu, upaya untuk mendamaikan kedua negara masih terus diupayakan di balik layar.
Kini, harga minyak mentah dunia terpantau melandai di bawah level $100 per barel.
Meski begitu, Trump tetap melontarkan ancaman bahwa ia tidak akan segan-segan menghancurkan kapal Iran yang berani mendekati zona blokade.
"Setiap kapal 'serang cepat' Iran yang mendekat akan dieliminasi," tegasnya.
Baca juga: Situasi Memanas! Iran Siagakan Pasukan Elit Untuk Perkuat Kendali Militer di Selat Hormuz
Di sisi lain, Teheran tidak tinggal diam.
Militer Iran menjuluki blokade AS ini sebagai aksi "pembajakan modern".
Mereka memperingatkan bahwa jika akses mereka ditutup, maka keamanan seluruh pelabuhan di kawasan Teluk dan Teluk Oman akan terancam.
"Jika pelabuhan kami tidak aman, jangan harap pelabuhan tetangga akan merasa aman," bunyi pernyataan keras dari pihak militer Iran.
Isyarat Akhiri Perang
Wakil Presiden AS, JD Vance, mengklaim bahwa pemerintahannya telah berhasil mencapai target strategis dalam operasi terhadap Iran.
Vance memberikan sinyal kuat bahwa Washington siap menurunkan tensi dan mulai menarik diri dari operasi militer di wilayah tersebut.
Dalam wawancara eksklusif bersama Fox News pada Senin (13/4/2026), Vance menyebut negosiasi yang berlangsung di Pakistan telah menunjukkan progres signifikan, meski tim utusan AS meninggalkan lokasi tanpa kesepakatan formal.
Menurutnya, hasil perundingan kini sepenuhnya bergantung pada respons pemerintah Iran.
"Kami merasa sudah berada di posisi yang tepat karena target-target kami telah tercapai."
"Kami bisa mulai mengakhiri ini (operasi militer), dan tentu saja kami lebih memilih penyelesaian melalui negosiasi besar yang sukses," ungkap Vance.
Baca juga: Gangguan di Selat Hormuz Bisa Picu Bencana Pangan Global, Pengiriman Terblokir Imbas Perang Iran
Vance menyoroti kemajuan krusial dalam pembicaraan di Islamabad akhir pekan lalu, khususnya mengenai pembersihan material nuklir dan penghentian pengayaan uranium.
Ia mengklaim posisi Iran mulai melunak dan mengikuti kemauan AS.
Namun, ia menyebut para delegasi Iran belum bisa mengetuk palu karena harus berdiskusi terlebih dahulu dengan otoritas tertinggi di Teheran.
Klaim Vance ini muncul di tengah situasi panas di Selat Hormuz.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump memerintahkan pemblokiran kapal-kapal di pelabuhan Iran guna memaksa negara tersebut kembali ke meja perundingan.
Kebijakan ini diambil setelah gangguan jalur minyak di kawasan tersebut memicu lonjakan harga energi global.
"Jika 'garis merah' kami mengenai program nuklir dipatuhi, maka ini akan menjadi kesepakatan yang menguntungkan bagi kedua belah pihak," tambah Vance.
(Tribunnews.com/Whiesa)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.