Iran Vs Amerika Memanas
Media Inggris: Situasi di Pentagon Kacau, Menhan Amerika Pete Hegseth Semakin Terisolasi
Pentagon dilaporkan mengalami kekacauan total setelah Menteri Pertahanan Pete Hegseth melakukan "pembersihan" besar-besaran terhadap para jenderal.
Dalam wawancara dengan The Guardian, orang dalam Pentagon menggambarkan Hegseth sebagai sosok yang semakin terisolasi di tengah birokrasi, dikelilingi hanya oleh lingkaran kecil teman dekat dan kerabat.
Bahkan, staf Pentagon sering terkejut melihat istrinya, Jennifer, hadir dalam pertemuan resmi militer.
Analis militer menyebut pembersihan ini sejalan dengan "Project 2025", sebuah cetak biru radikal dari Heritage Foundation.
Paul Eaton, purnawirawan Mayor Jenderal Angkatan Darat, memperingatkan bahwa langkah ini bertujuan menciptakan angkatan bersenjata yang tunduk secara ideologis kepada presiden, bukan kepada konstitusi.
"Mereka ingin menciptakan angkatan bersenjata yang patuh kepada presiden dan menteri pertahanannya, di mana sumpah setianya lebih kepada individu daripada konstitusi," kata Eaton.
Ia menambahkan bahwa kerusakan di tingkat atas militer AS saat ini sudah berada pada tahap yang sangat berbahaya.
Ketegangan semakin memuncak seiring ancaman Trump terhadap Iran.
Para veteran khawatir militer AS akan dipaksa melakukan kejahatan perang. Kevin Carroll, mantan kolonel Angkatan Darat, menyuarakan kegelisahannya atas retorika "tanpa ampun" yang sering dilontarkan oleh pihak Hegseth dan Trump.
"Semua pensiunan perwira yang saya kenal sangat prihatin terhadap dampak jangka panjang bagi pasukan saat pemimpin senior mengatakan hal-hal seperti 'tidak ada ampun' tanpa adanya teguran dari pejabat militer senior," ungkap Carroll.
Keraguan juga tertuju pada Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan yang baru. Ia dianggap tidak memiliki wibawa sebesar pendahulunya, Mark Milley, untuk menahan perintah gila dari Gedung Putih.
Eaton menyebut bahasa tubuh Caine saat mendampingi Hegseth menunjukkan sosok yang tidak nyaman dengan posisinya.
Kekhawatiran ini menjadi sangat mendesak menyusul laporan bahwa Trump sempat membahas kemungkinan penggunaan senjata nuklir terhadap Iran dalam rapat di Gedung Putih.
Meskipun ada yang menyebut Trump hanya "berpikir keras", rekam jejaknya menunjukkan ketertarikan yang besar pada kekuatan nuklir sebagai ekspresi ketangguhan.
Joe Cirincione, pakar non-proliferasi nuklir, memperingatkan bahwa keyakinan publik bahwa militer akan menolak perintah ilegal peluncuran nuklir adalah sebuah kekeliruan.
"Dalam setahun terakhir, kita telah melihat militer berulang kali melaksanakan perintah ilegal," tegasnya, merujuk pada operasi di Karibia dan Venezuela.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Menteri-Pertahanan-AS-Pete-Hegseth-mengurangi-setidaknya-20-persen-jenderal-dan-laksamana.jpg)