Sabtu, 16 Mei 2026

Konflik Palestina Vs Israel

78 Tahun Nakba: Warga Palestina Sebut Perang Gaza Lebih Parah dari 1948

Warga Palestina memperingati 78 tahun Nakba di tengah kehancuran besar akibat perang Gaza.

Tayang:
Editor: Tiara Shelavie
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
AKSI SOLIDARITAS PALESTINA - Pengunjuk rasa dari berbagai elemen masyarakat menggelar aksi solidaritas 'Indonesia Lawan Genosida, Dukung Palestina Merdeka'di Jakarta, Minggu (12/10/2025). Warga Palestina memperingati 78 tahun Nakba di tengah kehancuran besar akibat perang Gaza. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

Kota Rafah di Gaza selatan, yang dulu dihuni sekitar 250.000 orang, juga ikut hancur, bersama desa dan lingkungan lain di separuh wilayah Gaza yang kini dikuasai Israel. Militer Israel mengatakan penghancuran dilakukan untuk menargetkan posisi Hamas dan mempersiapkan area bagi rekonstruksi. Foto satelit menunjukkan hampir semua bangunan berubah menjadi puing.

Selama 31 bulan perang, keluarga Abu Jarad dan enam putri mereka telah mengungsi lebih dari belasan kali akibat serangan dan operasi militer Israel. Kini mereka tinggal di kamp pengungsian di Khan Younis. Tenda mereka nyaris tak memberi perlindungan dari angin dingin musim dingin maupun panas musim panas, kata Majida.

Anak-anak perempuan mereka juga sudah lebih dari dua tahun tidak bersekolah.

“Nakba 1948 rasanya tak bisa dibandingkan dengan Nakba kami,” kata Majida. “Pada 1948, orang-orang mengungsi sekali lalu menetap di satu tempat hingga sekarang. Tapi Nakba kami lebih berat karena kami sudah berkali-kali mengungsi. Tidak ada stabilitas.”

Sekitar 90?ri lebih 2 juta penduduk Gaza kehilangan rumah mereka, menurut perkiraan PBB. Sebagian besar kini tinggal di kamp tenda besar dengan infestasi tikus dan genangan limbah, serta bergantung pada bantuan untuk bertahan hidup.

Serangan Israel telah menewaskan lebih dari 72.700 warga Palestina, menurut pejabat kesehatan setempat. Serangan ini dipicu oleh serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 ke Israel selatan yang menewaskan sekitar 1.200 orang. Kelompok militan juga menculik 251 sandera.

Di Tepi Barat bagian utara, puluhan ribu warga Palestina memasuki bulan ke-15 pengungsian setelah militer Israel memerintahkan mereka keluar dari kamp pengungsi saat meluncurkan operasi terhadap kelompok militan.

Sejak saat itu, pasukan Israel telah menghancurkan atau merusak berat sedikitnya 850 bangunan di kamp pengungsi Nur Shams, Jenin, dan Tulkarem, menurut analisis citra satelit Human Rights Watch yang dirilis Desember lalu.

Menyelamatkan yang hilang, berulang kali

Nakba 1948 juga menyebabkan hilangnya sejarah pribadi warga Palestina, karena mereka yang melarikan diri kesulitan membawa dokumen dan barang-barang yang menghubungkan mereka dengan rumah asal.

Salah satu arsip dokumen Palestina terbesar sejak masa Nakba dimiliki oleh UNRWA.

Staf UNRWA yang meninggalkan kantor mereka di Gaza setelah Israel memerintahkan evakuasi Gaza utara harus meninggalkan arsip besar tersebut.

Para staf kemudian menjalankan misi penyelamatan dokumen-dokumen penting seperti akta kelahiran, kematian, pernikahan, dan kartu registrasi pengungsi, menurut Juliette Touma, mantan pejabat senior UNRWA.

Tanpa dokumen tersebut, warga Palestina berisiko kehilangan hak dan status pengungsi. Para staf membawa dokumen itu dalam koper pribadi melewati pos pemeriksaan hingga keluar wilayah, kata Touma.

Perang saat ini juga membuat warga Gaza kehilangan sisa sejarah pribadi mereka. Rumah orang tua Majida di Beit Hanoun hancur, bersama foto-foto keluarga.

“Tidak ada yang tersisa,” katanya.

Abu Hamam juga mengatakan semuanya telah hilang.

“Ketika perang ini datang, ia melahap pohon, batu, dan manusia,” katanya. “Seluruh keluarga terhapus dari catatan sipil. Ratusan keluarga masih terkubur di bawah reruntuhan.”

(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved