Rekor Pecah, 274 Pendaki Taklukkan Puncak Gunung Everest dalam Sehari
Rekor fantastis terjadi setelah 274 pendaki Gunung Everest berhasil mencapai puncak tertinggi di dunia tersebut hanya dalam waktu satu hari.
Namun, harga mahal ini terbukti tidak menyurutkan minat. Buktinya, izin pendakian musim semi 2026 mencetak rekor baru dengan terbitnya 492 izin resmi.
Everest Alami Overtourism
Di balik gemerlap rekor baru ini, tersimpan kekhawatiran besar mengenai kondisi overtourism atau kedatangan turis yang berlebihan di kawasan Gunung Everest.
Akibat fenomena ini, risiko overcrowding atau kemacetan parah di jalur pendakian yang sempit pun kian membesar.
Kondisi ini sangat berbahaya, terutama saat pendakian berlangsung di wilayah death zone atau zona kematian.
Istilah ini digunakan untuk menamai wilayah di atas ketinggian 8.000 meter di mana kadar oksigen sangat menipis dan tubuh manusia mulai sekarat secara biologis.
Antrean panjang di zona ini bisa berakibat fatal karena meningkatkan risiko hipotermia, kelelahan ekstrem, dan kehabisan tabung oksigen darurat.
Selain keselamatan nyawa, masalah penumpukan sampah di base camp dan sepanjang jalur pendakian juga menjadi isu lingkungan akut yang terus disorot.
Pihak berwenang Nepal kini terus menggodok regulasi yang lebih ketat, seperti kewajiban menyertakan sertifikat pengalaman mendaki gunung lain sebelum ke Everest, serta keharusan menggunakan jasa Sherpa profesional.
Pada akhirnya, rekor 274 pendaki dalam sehari ini bukan sekadar pamer kekuatan manusia melawan alam.
Momen ini menjadi bukti pentingnya kesiapan fisik yang matang, akurasi teknologi prediksi cuaca modern, serta peran krusial komunitas Sherpa lokal yang menjadi roda penggerak ekonomi utama bagi sektor pariwisata Nepal.
(Tribunnews.com/Bobby)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/seorang-pemandu-gelje-sherpa-dari-nepal-evakuasi-pendaki-malaysia-di-gunung-everest-8.jpg)