Rabu, 29 April 2026

Pekan ASI Sedunia 2025, Ini 5 Pekerjaan Rumah Indonesia dari WHO

Namun, masih banyak bayi yang belum mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan penuh.

Tayang:
dok WHO
PEKAN ASI SEDUNIA 2025 - Mardiana, seorang ibu yang baru saja melahirkan di Puskesmas Sakra, bersama suaminya, Khairul, dan Rihana, bayi mereka yang berusia 11 hari, di Puskesmas Sakra, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. 

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA - Organisasi kesehatan dunia atau WHO dan UNICEF menyoroti pentingnya pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif kepada bayi di Indonesia.

WHO adalah singkatan dari World Health Organization, atau dalam bahasa Indonesia disebut Organisasi Kesehatan Dunia.

Baca juga: Kumpulan Ucapan Pekan ASI Sedunia 2025, Berikut Sejarah Singkatnya

WHO adalah badan khusus di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertugas sebagai koordinator kesehatan umum internasional.

ASI merupakan sumber perlindungan dan nutrisi pertama bagi bayi.

UNICEF dan WHO merekomendasikan pemberian ASI dalam satu jam pertama setelah kelahiran dan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, tanpa tambahan makanan atau cairan lain.

Pekan ASI Sedunia diperingati di seluruh dunia setiap tanggal 1–7 Agustus yang pada tahun ini bertema: “Utamakan Menyusui: Wujudkan Sistem Dukungan yang Berkelanjutan.”

Di Indonesia, angka pemberian ASI eksklusif pada bayi usia di bawah enam bulan terus meningkat, dari 52 persen pada 2017 menjadi 66,4 persen pada 2024.

Namun, masih banyak bayi yang belum mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan penuh.

Melalui dukungan yang konsisten, para ibu akan lebih mudah memberikan ASI mereka di mana pun mereka berada—di tempat kerja, di rumah, maupun di lingkungan masyarakat.

Dukungan ini mencakup konseling dari tenaga kesehatan terlatih, kebijakan ramah ibu menyusui di tempat kerja, serta dukungan berkelanjutan dari jaringan masyarakat.

Perwakilan UNICEF Indonesia, Maniza Zaman menuturkan, jika perempuan dan bayi mereka berhasil menyusui dengan baik, hal ini akan menciptakan dampak positif berantai—tidak hanya bagi tumbuh kembang anak, tapi juga bagi ketahanan keluarga, kesehatan masyarakat, dan masa depan bangsa yang lebih baik.

"Peningkatan angka ASI eksklusif di Indonesia merupakan pencapaian luar biasa yang mencerminkan komitmen keluarga, komunitas, dan sistem kesehatan,” ungkap Perwakilan WHO untuk Indonesia Dr N. Paranietharan.

Baca juga: 3 Hal yang Diperhatikan Gritte Agatha untuk Tumbuh Kembang Anak

Sudah banyak bukti menunjukkan bahwa menyusui meningkatkan perkembangan kognitif anak-anak sebesar 3-4 poin IQ, mengurangi risiko kelebihan berat badan dan obesitas pada masa kanak-kanak dan memberikan perlindungan seumur hidup terhadap penyakit tidak menular.

Bayi yang tidak disusui berisiko hingga 14 kali lebih mungkin meninggal sebelum ulang tahun pertama mereka daripada bayi yang disusui secara eksklusif selama enam bulan pertama.

Berbeda dengan produksi susu formula, menyusui juga ramah lingkungan karena mengurangi emisi karbon dan limbah kemasan.

Halaman 1/2
Tags
WHO
ASI
bayi
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved