Jumat, 10 April 2026

Jangan Dianggap Remeh, Alergi Susu Sapi Bisa Ganggu Perkembangan Otak Anak

Selama ini, alergi susu sapi sering dianggap sekadar gangguan pencernaan ringan.  Padahal, dampaknya bisa jauh lebih kompleks.

|
HO/Istimewa
MINUM SUSU - Ilustrasi anak minum susu. Selama ini, alergi susu sapi sering dianggap sekadar gangguan pencernaan ringan.  Padahal, dampaknya bisa jauh lebih kompleks. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

Ringkasan Berita:
  • Data IDAI menunjukkan 2 hingga 7,5 persen anak di Indonesia mengalami alergi susu sapi (ASS) pada tahun pertama kehidupannya.
  • Alergi susu sapi sering dianggap sekadar gangguan pencernaan ringan.
  • Dampaknya bisa jauh lebih kompleks, mulai dari keterlambatan pertumbuhan hingga gangguan fungsi kognitif anak.

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Selama ini, alergi susu sapi sering dianggap sekadar gangguan pencernaan ringan. 

Padahal, dampaknya bisa jauh lebih kompleks, mulai dari keterlambatan pertumbuhan hingga gangguan fungsi kognitif anak.

Baca juga: Tidak Sama, Ketahui Beda Alergi Susu Sapi dan Intoleransi Laktosa pada Anak

Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menunjukkan, 2 hingga 7,5 persen anak di Indonesia mengalami alergi susu sapi (ASS) pada tahun pertama kehidupannya. 

Angka ini tergolong tinggi dibanding rata-rata global, yang hanya sekitar 2–3 persen.

Kondisi ini sering tidak disadari karena gejalanya mirip flu, kolik, atau iritasi kulit. 

Akibatnya, banyak anak baru terdiagnosis setelah menunjukkan tanda gangguan pertumbuhan atau berat badan yang sulit naik.

Baca juga: Serupa Tapi Tak Sama, Kenali Gejala Anak yang Alergi Susu Sapi dan Intoleran Laktosa

Menurut dr. Tiara Nien Paramita, Sp.A, gejala awal alergi susu sapi bisa muncul sangat halus.

“Setiap anak memiliki kondisi alergi yang berbeda, sehingga konsultasi dengan dokter anak menjadi langkah penting agar diagnosis dapat diberikan secara tepat,” jelas dr. Tiara pada Bicara Gizi Listen to The Little Sign: Saatnya Orang Tua SADAR Alergi Susu Sapi pada Anak di Jakarta Selatan, Senin (20/10/2025).

Penundaan diagnosis dapat menyebabkan anak kehilangan fase penting dalam tumbuh kembangnya, terutama pada masa otak sedang berkembang pesat. 

Kekurangan protein, zat besi, dan lemak sehat akibat alergi yang tidak ditangani dengan baik dapat memengaruhi fungsi kognitif, seperti kemampuan fokus, berbicara, dan mengingat.

Selain dampak fisik, alergi susu sapi juga memberi tekanan emosional bagi keluarga. 

ALERGI SUSU SAPI - Corporate Communications Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin (kiri) bersama Medical & Scientific Affairs Director Danone Indonesia, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH ( kanan), dan Dokter Spesialis Anak dr. Tiara Nien Paramita, SpA (tengah), dalam kegiatan edukasi “Bicara Gizi” bertema Listen to The Little Sign: Saatnya Orang Tua SADAR Alergi Susu Sapi pada Anak di Jakarta, Senin (20/10/2025).
ALERGI SUSU SAPI - Corporate Communications Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin (kiri) bersama Medical & Scientific Affairs Director Danone Indonesia, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH ( kanan), dan Dokter Spesialis Anak dr. Tiara Nien Paramita, SpA (tengah), dalam kegiatan edukasi “Bicara Gizi” bertema Listen to The Little Sign: Saatnya Orang Tua SADAR Alergi Susu Sapi pada Anak di Jakarta, Senin (20/10/2025). (tribunnews.com/Aisyah)

Penelitian Annals of Medical Research (2023) mengungkapkan, ibu dengan anak yang memiliki alergi susu sapi sering merasa cemas dan stres karena harus terus menyesuaikan pola makan anak dan mencari informasi yang valid.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved