Sabtu, 11 April 2026

Beda Osteoporosis pada Anak dengan Dewasa, IDAI Jelaskan Penyebab dan Cara Deteksinya

Ikatan Dokter Anak Indonesia jelaskan perihal osteoporosis yang bisa menyerang anak-anak. Mulai dari gejala hingga cara mencegahnya.

Tribunnews/Jeprima
ILUSTRASI ANAK - Seorang siswa diukur tinggi badannya oleh petugas kesehatan sebelum imunisasi di balai warga Pademangan Timur, Jakarta Utara, Jumat (23/10/2020). IDAI menjelaskan terkait osteoporosis di kalangan anak-anak. 
Ringkasan Berita:
  • Osteoporosis tidak hanya bisa menyerang lanjut usia (lansia), namun juga anak-anak
  • Dokter IDAI menekankan adanya perbedaan penyebabnya serta gejala osteoporosis antara lansia dengan anak-anak
  • Osteoporosis pada anak dapat dicegah sejak dini sehingga dapat optimalkan tumbuh kembangnya

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Selama ini osteoporosis dikenal sebagai penyakit yang menyerang orang lanjut usia (lansia), terutama perempuan setelah menopause. 

Namun ternyata, kondisi rapuh tulang juga bisa dialami anak-anak, meski dengan mekanisme yang sangat berbeda.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Endokrinologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Frieda Susanti, SpA, Subsp. Endo(K), PhD, menjelaskan bahwa osteoporosis pada anak tidak bisa disamakan dengan osteoporosis pada orang dewasa. 

Perbedaan ini bukan hanya dari penyebabnya, tetapi juga dari cara diagnosis hingga gejalanya.

“Osteoporosis pada anak, apakah sama dengan osteoporosis pada orang dewasa? Tidak. Beda,” tegas dr. Frieda dalam paparannya pada media briefing virtual, Selasa (21/10/2025).

Baca juga: Risiko Osteoporosis Meningkat Setiap Dekade, Ini Saran Dokter untuk Mencegahnya

Tak Bisa Gunakan T-Score, Anak Diukur dengan Z-Score

Menurut dr. Frieda, osteoporosis pada orang dewasa umumnya diukur melalui pemeriksaan Bone Mineral Density (BMD) menggunakan T-score. 

Nilai T-score ini menunjukkan seberapa jauh kepadatan tulang seseorang dibandingkan dengan nilai rata-rata orang dewasa muda yang sehat.

Namun, metode itu tidak bisa diterapkan pada anak-anak. 

Sebab, anak belum mencapai peak bone mass atau puncak kepadatan tulang yang biasanya baru tercapai di usia sekitar 20 tahun.

“Kalau T-score itu berdasarkan peak bone mass, sementara anak belum mencapainya. Jadi tidak bisa pakai T-score. Pada anak kita pakai Z-score, yaitu perbandingan terhadap kelompok usia sebaya,” jelasnya.

Artinya, dalam menilai kepadatan tulang anak, dokter akan membandingkan hasil BMD dengan nilai rata-rata anak-anak seusianya, bukan orang dewasa. 

Karena itu, kriteria diagnosis osteoporosis pada anak jauh lebih kompleks.

Satu Fraktur Bisa Jadi Tanda Osteoporosis Anak

Osteoporosis pada orang dewasa biasanya ditentukan dari nilai T-score kurang dari -2,5. 

Sedangkan pada anak, kriteria diagnosis tidak hanya mengacu pada angka, tetapi juga pada riwayat patah tulang atau fraktur.

Menurut dr. Frieda, jika seorang anak mengalami fraktur tulang belakang (vertebra) meski hanya satu kali, itu sudah bisa dikategorikan sebagai osteoporosis anak. 

Begitu juga jika anak mengalami dua kali patah tulang panjang (seperti di lengan atau tungkai) pada usia di bawah 10 tahun, atau tiga kali patah tulang panjang sebelum usia 19 tahun, dan hasil BMD menunjukkan Z-score di bawah -2.

“Jadi, berbeda sekali. Kalau orang dewasa cuma berdasarkan BMD, kalau anak harus dilihat juga ada tidaknya fraktur di tulang belakang atau tulang panjang,” ujarnya.

Baca juga: 75 Persen Lansia di Indonesia Berisiko Osteoporosis, Pakar Ingatkan Jaga Tulang Sejak Dini

Dua Jenis Osteoporosis Anak: Primer dan Sekunder

dr. Frieda membagi osteoporosis anak menjadi dua jenis besar, yaitu primer dan sekunder.

Osteoporosis primer biasanya disebabkan oleh kelainan genetik yang membuat tulang rapuh sejak lahir. 

Kondisi paling umum disebut osteogenesis imperfecta (OI), yaitu gangguan pembentukan kolagen yang menyebabkan tulang mudah patah bahkan tanpa benturan.

Yang lebih sering ditemukan kini adalah osteoporosis sekunder, yaitu kerapuhan tulang yang muncul akibat penyakit lain atau efek samping obat tertentu.

Seperti penggunaan steroid jangka panjang, kelainan ginjal kronis, atau penyakit autoimun seperti lupus.

“Yang primer itu bawaan dari lahir, disebabkan kelainan genetik. Tapi yang sekunder makin lama makin banyak, karena penyakit kronik pada anak juga makin meningkat,” terang dr. Frieda.

Tulang Anak Bisa Patah Spontan

Pada anak dengan osteogenesis imperfecta, tulang bisa patah bahkan tanpa sebab yang jelas. Kadang hanya karena aktivitas ringan seperti duduk, berdiri, atau bahkan di dalam kandungan.

Dr. Frieda menceritakan, ia pernah menangani kasus bayi yang sudah mengalami patah tulang saat masih dalam rahim. Hal ini diketahui melalui pemeriksaan USG sebelum lahir.

“Bahkan, waktu di dalam kandungan aja bisa patah spontan,” katanya.

Selain tulang yang bengkok dan mudah patah, anak dengan kelainan ini juga sering memiliki bentuk kepala yang lebih besar, gigi rapuh, dan warna putih mata (sklera) yang agak kebiruan.

Baca juga: Konsumsi Tinggi Protein Bisa Berujung Osteoporosis? Begini Kata Dokter

Mengapa Kasusnya Meningkat?

Perubahan gaya hidup modern turut berperan dalam meningkatnya risiko osteoporosis pada anak. 

Kurangnya aktivitas fisik, minimnya paparan sinar matahari, serta pola makan yang rendah kalsium dan vitamin D membuat tulang anak tidak tumbuh optimal.

Banyak anak kini lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan, terpaku pada gawai, dan jarang berolahraga. 

Padahal, aktivitas fisik seperti berlari, melompat, dan bermain di luar ruangan merupakan cara alami tubuh untuk merangsang pembentukan tulang baru.

Selain itu, anak-anak dengan penyakit kronis yang memerlukan terapi jangka panjang juga rentan kehilangan massa tulang. 

Obat steroid, misalnya, bisa menghambat proses pembentukan tulang bila digunakan terus-menerus.

Pencegahan Sejak Dini

Kesadaran orangtua menjadi kunci dalam mencegah gangguan kepadatan tulang pada anak. 

Pemeriksaan dini penting dilakukan jika anak menunjukkan gejala seperti mudah pegal, sering jatuh dan patah tulang, atau memiliki bentuk kaki yang tidak normal (misalnya kaki O atau X).

Pola makan seimbang yang kaya kalsium, vitamin D, serta olahraga teratur perlu diterapkan sejak dini. 

Paparan sinar matahari pagi selama 10–15 menit juga membantu tubuh memproduksi vitamin D secara alami.

“Kalau tulangnya kuat, anak bisa beraktivitas optimal, tumbuh dengan baik, dan siap menghadapi masa depannya dengan tubuh yang sehat,” tutupnya. 

(Tribunnews.com/Aisyah Nursyamsi)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved