Minggu, 26 April 2026

Gangguan Irama Jantung Bisa Picu Stroke di Kalangan Generasi Muda

Prosedur ini menggunakan bius lokal, luka yang minimal serta pasien biasanya bisa pulang dalam waktu singkat. Irama jantung sering menyerang anak muda

Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: willy Widianto
Independent.co.uk
ILUSTRASI SERANGAN JANTUNG - Seorang ibu hampir meninggal karena serangan jantung setelah mencoba membantu anaknya mengerjakan PR Matematika. 

Ringkasan Berita:
  • Gangguan irama jantung bisa meningkatkan risiko stroke, terutama pada orang muda.
  • Penanganan dini dengan prosedur minimal invasif membantu menenangkan jantung dan mencegah komplikasi.
  • Kecepatan penanganan stroke juga penting agar pasien bisa pulih dan kembali beraktivitas normal.

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Atrial fibrilasi atau gangguan irama jantung menjadi kondisi yang harus diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko stroke hingga 40 persen terutama pada orang muda dan usia produktif. Kondisi ini membuat jantung berdetak tidak teratur sehingga aliran darah terganggu dan bekuan darah dapat terbentuk.

Baca juga: Jantung Amerika Diguncang Teror, Tersangka Penembakan Garda Nasional Bekerja Buat CIA di Afghanistan

Penanganan sejak dini dengan ablasi yakni tindakan untuk menenangkan jaringan jantung yang terlalu aktif, disebut dapat menurunkan risiko stroke dan meningkatkan harapan hidup pasien.

Saat ini, teknologi ablasi sudah berkembang dan menjadi standar dalam menangani gangguan irama jantung.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di Siloam Hospitals TB Simatupang, Prof Dr dr Yoga Yuniadi menjelaskan bahwa prosedur ablasi dilakukan dengan memasukkan selang kecil melalui pembuluh darah ke jantung.

Dokter kemudian memetakan area jantung yang bermasalah dan memberikan energi khusus untuk menenangkan jantung agar berdetak normal.

“Kami juga melakukan tindakan untuk pasien yang sering pingsan karena saraf tertentu terlalu aktif. Setelah prosedur, pasien bisa beraktivitas normal kembali,” ujar Prof Yoga di Jakarta belum lama ini.

Prosedur ini menggunakan bius lokal, luka yang minimal dan pasien biasanya bisa pulang dalam waktu singkat.

Hingga kini, tim di Siloam TB Simatupang telah melakukan lebih dari 100 tindakan ablasi, termasuk untuk menenangkan saraf yang mengganggu irama jantung.

Selain penanganan jantung, unit stroke di Siloam TB Simatupang juga mencatat prestasi.

Baca juga: Mengenal Atrial Fibrillation: Gangguan Irama Jantung Senyap yang Bisa Picu Stroke

Rumah sakit ini mendapatkan penghargaan ANGELS Awards sejak 2020 karena penanganan stroke yang cepat dan tepat sesuai standar internasional.

Dokter spesialis saraf, dr Peter Gunawan Ng  menyebutkan, pihaknya mampu menangani pasien stroke dalam waktu kurang dari 60 menit sejak kedatangan. Salah satu prosedur unggulannya adalah pelarutan bekuan darah, untuk mengembalikan aliran darah dan mencegah kerusakan otak.

“Capaian tercepat penanganan pasien stroke di tempat kami hanya 13 menit sejak pasien datang,” ujar dr Peter.

Kecepatan penanganan sangat penting karena otak hanya memiliki waktu sekitar 4,5 jam sejak gejala muncul untuk dicegah kerusakan permanen.

Baca juga: Varises Bukan Sekadar Masalah Penampilan, Risikonya Berkaitan dengan Penyakit Jantung? 

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved