Sabtu, 16 Mei 2026

Mengenal aHUS, Penyakit Ginjal Langka yang Bisa Bikin Pasien Cuci Darah Seumur Hidup

aHUS bisa sebabkan gagal ginjal dalam hitungan minggu. Diagnosis cepat jadi kunci cegah pasien cuci darah seumur hidup.

Tayang:
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Eko Sutriyanto
dok Tribun Jogja
ILUSTRASI CUCI DARAH - Penyakit ginjal langka seperti atypical hemolytic uremic syndrome (aHUS) bisa membuat pasien harus cuci darah seumur hidup jika terlambat didiagnosis 
Ringkasan Berita:
  • Penyakit ginjal langka seperti atypical hemolytic uremic syndrome (aHUS) dapat merusak fungsi ginjal hanya dalam hitungan minggu 
  • Tanpa diagnosis cepat, hampir setengah pasien dewasa berisiko mengalami gagal ginjal stadium akhir dan harus cuci darah seumur hidup 
  • Deteksi dini dan terapi tepat waktu menjadi kunci mencegah kerusakan permanen

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak orang mengira gagal ginjal terjadi perlahan, bertahun-tahun, akibat diabetes atau hipertensi. 

Padahal ada jenis penyakit ginjal langka yang bisa menghancurkan fungsi ginjal hanya dalam hitungan minggu.

Salah satunya penyakit ginjal langka seperti atypical hemolytic uremic syndrome (aHUS) 

Penyakit ini, bisa membuat pasien harus cuci darah seumur hidup jika terlambat didiagnosis.

Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal-Hipertensi, dr. Dina Nilasari, Ph.D, Sp.PD, KGH, mengingatkan bahwa kunci keselamatan pasien ada pada kecepatan diagnosis.

Baca juga: RSUD Cimahi Tetap Layani Pasien Cuci Darah Meski Status BPJS Nonaktif, RS Edukasi untuk Reaktivasi

“Untuk penyakit ini, kalau kita tidak diagnosis secara cepat, delay diagnosis itu akan membawa pasien harus cuci darah seumur hidup. Jadi begitu pentingnya,"ungkapnya dalam sesi edukasi media diselenggarakan AstraZeneca dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Jaya, Sabtu (28/2/2026). 

Penyakit ginjal langka seperti atypical hemolytic uremic syndrome (aHUS) dapat muncul mendadak dengan kondisi berat. 

Pasien sering kali tidak datang langsung ke dokter ginjal, melainkan masuk IGD atau bahkan ICU karena kondisinya sudah gawat.

Gejalanya bukan sekadar gangguan buang air kecil. 

Pasien bisa mengalami penurunan hemoglobin, gangguan pembekuan darah (trombosis), serta penurunan fungsi ginjal yang sangat cepat. Dalam satu minggu saja, pasien bisa langsung membutuhkan dialisis.

Data menunjukkan dampaknya tidak main-main.

“Nah ini 46 persen pasien dewasa akan mengalami gagal ginjal stadium akhir. Kalau tidak diterapi dengan cepat, sehingga perlu cuci darah,"imbuhnya. 

Artinya, hampir setengah pasien dewasa berisiko masuk tahap gagal ginjal permanen jika terlambat ditangani.

Cuci darah bukan hanya prosedur medis, tetapi perubahan besar dalam hidup. 

Pasien harus datang ke rumah sakit dua hingga tiga kali seminggu. Kualitas hidup menurun drastis. 

Aktivitas kerja terganggu. Biaya meningkat. Tekanan psikologis pun besar.

Transplantasi ginjal pun bukan jaminan akhir masalah. 

Jika penyakit dasarnya tidak terdiagnosis sejak awal, penyakit dapat muncul kembali bahkan setelah cangkok ginjal dilakukan.

Karena itu, diagnosis dini menjadi krusial. Kini pengobatan sudah tersedia, sehingga bila dikenali lebih cepat, peluang keberhasilan terapi jauh lebih baik.

Baca juga: Warga Kaget saat Berobat BPJS PBI Dinonaktifkan, Pasien Gagal Ginjal Tak Bisa Cuci Darah Rutinan

Penyakit ini bisa terjadi pada siapa saja, baik anak-anak maupun dewasa. Bahkan bisa muncul pada momen yang tak terduga, seperti saat melahirkan. 

Dalam kondisi tersebut, pasien sering kali lebih dulu ditangani oleh bagian lain sebelum akhirnya dirujuk ke spesialis ginjal.

Pesannya jelas: ketika terjadi gangguan darah mendadak disertai penurunan fungsi ginjal yang cepat, jangan anggap sepele. 

Pada penyakit ginjal langka, setiap hari sangat menentukan apakah pasien akan pulih, atau harus menjalani cuci darah seumur hidup.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved