Wabah Campak
Libur Lebaran Rawan Penularan Campak, Dokter Anak Ingatkan Bayi yang Belum Divaksin Rentan
Para orang tua juga perlu lebih waspada terhadap risiko penularan penyakit infeksi pada anak saat libur Lebaran, termasuk campak.
Ringkasan Berita:
- Di balik kebahagiaan kumpul keluarga  risiko penularan penyakit infeksi pada anak perlu diwaspadai.Â
- Termasuk penularan campak.
- Daya tularnya pun sangat tinggi.Â
Â
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Libur Lebaran menjadi momen yang paling dinantikan banyak keluarga di Indonesia.Â
Selain berkumpul bersama sanak saudara, sebagian masyarakat juga memanfaatkan waktu ini untuk berwisata.
Baca juga: Selebgram Ruce Nuenda Keluyuran saat Campak Disorot, Pesan Menkes : Jangan Jalan-jalan Bisa Nulari
Namun di balik kebahagiaan tersebut, para orang tua juga perlu lebih waspada terhadap risiko penularan penyakit infeksi pada anak.
Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai adalah campak.
Daya Tular Campak
Dokter Spesialis Anak dr. Caessar Pronocitro, Sp. A, M.Sc, dari RS Pondok Indah – Bintaro Jaya menjelaskan bahwa mobilitas tinggi saat liburan dapat meningkatkan risiko penyebaran virus, termasuk virus campak yang sangat mudah menular.
Campak atau measles merupakan penyakit infeksi virus yang menyerang saluran pernapasan.Â
Penularannya terjadi melalui percikan liur atau droplets ketika penderita batuk, bersin, maupun berbicara.
Virus ini bahkan dapat menempel pada benda yang terkontaminasi dan tetap bertahan di udara dalam ruangan tertutup.
Baca juga: 11 Provinsi KLB Campak, Kemenkes Ingatkan Orang Tua Lengkapi Imunisasi Anak Sebelum Mudik
Daya tularnya pun sangat tinggi.Â
Seseorang yang terinfeksi campak dapat menularkan virus sejak beberapa hari sebelum gejala muncul hingga beberapa hari setelahnya.
Karena itu, risiko penularan dapat meningkat saat banyak orang berkumpul di satu tempat, seperti saat perjalanan mudik atau liburan keluarga.
Bayi Jadi Kelompok Paling Rentan
Campak sering kali dianggap sebagai penyakit biasa yang bisa sembuh sendiri.
Padahal, penyakit ini tidak boleh dianggap remeh, terutama jika menyerang bayi dan anak kecil.
Baca juga: Tren Campak di Indonesia Turun, Tapi Tetap Waspada Penularan saat Mudik dan Libur Lebaran
Menurut dr. Caessar, bayi memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna sehingga lebih rentan mengalami komplikasi serius.
Jika tidak segera ditangani, virus campak bisa menyerang berbagai organ penting dalam tubuh.
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi antara lain pneumonia atau radang paru, radang otak, hingga infeksi berat yang menyebar ke seluruh tubuh.
Pada kasus tertentu, kondisi ini bahkan dapat mengancam nyawa anak.
Kenali Gejala Awal Campak pada Anak
Orang tua perlu mengenali gejala awal campak agar dapat segera membawa anak ke fasilitas kesehatan.
Beberapa gejala yang sering muncul di awal antara lain demam, batuk kering, pilek, lemas, hingga penurunan nafsu makan.
Anak juga bisa mengalami muntah, diare, atau tampak tidak bertenaga.
Beberapa hari setelah gejala awal muncul, biasanya akan terlihat ruam kemerahan di wajah dan leher.
Ruam tersebut kemudian dapat menyebar ke hampir seluruh tubuh.
Ukuran ruam awalnya kecil, tetapi lama-kelamaan dapat menyatu menjadi ruam yang lebih besar.
Jika orang tua menemukan gejala tersebut pada anak, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat.
Vaksin Jadi Perlindungan Utama
Sampai saat ini, belum ada obat antivirus khusus untuk mengatasi campak.
Karena itu, penanganan yang dilakukan biasanya bersifat suportif, seperti memberikan istirahat cukup, menjaga asupan cairan dan gizi, serta pemberian vitamin sesuai rekomendasi dokter.
Hal inilah yang membuat pencegahan menjadi sangat penting.
Salah satu cara paling efektif melindungi anak dari campak adalah dengan melengkapi vaksinasi.
“Vaksin menjadi gerbang utama untuk melindungi si kecil dari campak dan komplikasinya,"ungkap dr Caessar pada keterangannya, Selasa (10/3/2026).Â
Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin MR pertama diberikan pada usia 9 bulan.
Kemudian dosis kedua diberikan pada usia 15 hingga 18 bulan, dan dosis ketiga saat anak berusia 5 hingga 7 tahun.
Jika anak belum mendapatkan vaksin MR hingga usia 12 bulan, vaksin tetap bisa diberikan dengan penyesuaian jadwal sesuai rekomendasi dokter.
Pentingnya Kekebalan Kelompok
Sayangnya, masih ada sebagian orang tua yang menolak vaksinasi karena berbagai alasan.
Padahal, rendahnya cakupan imunisasi dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit di masyarakat.
Satu anak yang tidak divaksinasi bahkan dapat menularkan virus kepada banyak orang yang belum memiliki kekebalan.
“Satu anak yang tidak divaksinasi dapat menulari hampir semua orang di sekitarnya yang belum memiliki kekebalan,"imbuhnya.Â
Kondisi ini sangat berbahaya bagi bayi di bawah usia 9 bulan yang belum cukup umur untuk menerima vaksin.
Bayi pada usia ini hanya dapat terlindungi jika lingkungan di sekitarnya memiliki kekebalan yang cukup melalui vaksinasi.
Konsep ini dikenal sebagai kekebalan kelompok atau herd immunity.
Peran Penting Orang Tua Melindungi Anak
Bagi bayi yang belum mencapai usia vaksinasi, orang tua perlu lebih berhati-hati dalam menjaga lingkungan sekitar anak.
Beberapa langkah sederhana dapat membantu mengurangi risiko penularan.
Misalnya dengan menggunakan masker saat bepergian, rajin mencuci tangan sebelum menyentuh bayi, serta menghindari kontak dengan orang yang sedang sakit.
Selain itu, menjaga daya tahan tubuh anak juga penting, terutama saat musim pancaroba ketika infeksi virus lebih mudah menyebar.
Dengan kesadaran bersama untuk melengkapi vaksinasi dan menjaga kesehatan anak, risiko penyebaran campak dapat ditekan.
“Campak lebih berbahaya jika dialami oleh bayi karena imunitas tubuhnya belum sempurna seperti orang dewasa,"sambungnya.Â
Karena itu, memastikan vaksinasi anak terpenuhi menjadi langkah penting untuk melindungi generasi masa depan dari penyakit yang sebenarnya bisa dicegah ini.
(Tribunnews.com/Aisyah Nursyamsi)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.