Pakar Ungkap Manfaat Kesehatan Tersembunyi di Balik Penerapan WFH
WFH ternyata memiliki sejumlah manfaat dari sisi kesehatan. Manfaat WFH ini tidak bersifat mutlak dan sangat bergantung pada konteks penerapannya.
Tanpa keharusan menghadapi kemacetan atau perjalanan panjang, pekerja memiliki ruang lebih untuk mengatur ritme hidup.
Dicky menyebut kondisi ini dapat menurunkan stres, bahkan berkontribusi pada penurunan burnout ringan hingga sedang.
WFH juga meningkatkan rasa kontrol terhadap pekerjaan (perceived autonomy) dan membantu menciptakan keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi (work-life balance).
Namun, manfaat ini tidak selalu terjadi pada semua orang, karena sangat bergantung pada kondisi individu dan lingkungan kerja.
Paparan Polusi Udara Menurun
Manfaat lain yang sering luput dari perhatian adalah berkurangnya paparan polusi udara.
Aktivitas commuting yang berkurang membuat paparan terhadap polutan seperti PM2.5 dan NO2 ikut menurun.
Kondisi ini berdampak langsung pada kesehatan.
Risiko penyakit kardiovaskular dapat berkurang, begitu juga dengan kekambuhan penyakit pernapasan seperti asma.
Selain itu, pengurangan mobilitas juga berdampak pada lingkungan secara luas.
Emisi karbon dari sektor transportasi menurun, yang turut berkontribusi pada kesehatan lingkungan atau planetary health.
Fenomena ini sempat terlihat jelas saat pandemi, ketika kualitas udara di berbagai kota besar dunia membaik secara signifikan.
Bantu Pengelolaan Penyakit Kronis
WFH juga memberi manfaat bagi individu dengan penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi.
Dengan lebih banyak waktu di rumah, mereka memiliki kesempatan lebih besar untuk mengatur pola makan, minum obat, dan menjaga gaya hidup.
Selain itu, angka ketidakhadiran kerja (absenteeism) cenderung menurun.
Meski demikian, kondisi ini juga bisa menjadi “pedang bermata dua” karena sebagian orang tetap bekerja meski dalam kondisi tidak optimal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/foto-ilustrasi-wfh-twt.jpg)