Senin, 13 April 2026

WFH Bikin Nyaman, Tapi Jangan Abaikan Dampak Kesehatan yang Terjadi, Risiko Obesitas Mengintai

Kebijakan work from home (WFH) juga menyimpan risiko kesehatan yang kerap tidak disadari. Obesitas hingga gangguan mental mengancam.

Freepik
ILUSTRASI WFH - Foto ini diambil dari Freepik pada Minggu (31/8/2025). Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi Provinsi DKI Jakarta mengeluarkan Surat Edaran Nomor e-0014/SE/2025 tentang Himbauan Bekerja dari Rumah (Work From Home), 

Kondisi ini meningkatkan risiko obesitas dan sindrom metabolik, yang saat ini menjadi salah satu masalah kesehatan global.

Peningkatan waktu layar (screen time) juga memperburuk kondisi tersebut, terutama jika tidak diimbangi dengan aktivitas fisik.

Masalah Nyeri Otot dan Postur Tubuh

Ilustrasi nyeri otot
Ilustrasi nyeri otot (eatthis.com)

Tidak semua rumah didesain sebagai tempat kerja.

Banyak pekerja menggunakan meja atau kursi yang tidak ergonomis.

Akibatnya, muncul berbagai keluhan seperti nyeri punggung, nyeri leher, hingga cedera akibat gerakan berulang (repetitive strain injury).

Masalah ini menjadi salah satu isu besar dalam kesehatan kerja (occupational health) sejak maraknya WFH.

 

Jam Kerja Tidak Jelas, Risiko Burnout Meningkat

Ilustrasi WFH.
Ilustrasi WFH. (Shutterstock)

WFH juga dapat membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi kabur.

Jam kerja yang tidak terdefinisi dengan jelas berpotensi membuat seseorang bekerja lebih lama dari seharusnya.

“Termasuk juga potensi blurring boundary atau ini work-life conflict ya. Jadi jam kerjanya jadi tidak terdefinisi, kadang tidak terbatas,” ujar Dicky.

Kondisi ini meningkatkan risiko kelelahan kronis atau burnout, yang justru berdampak negatif pada kesehatan dan produktivitas.

Potensi Ketimpangan Sosial

Tidak semua pekerjaan bisa dilakukan dari rumah.

Pekerja di sektor informal, manufaktur, atau layanan langsung tetap harus bekerja secara fisik.

Hal ini menciptakan kesenjangan dalam kebijakan.

“Ada potensi kerugian ataupun risiko ketimpangan sosial ya. Karena tidak semua pekerjaan itu bisa WFA,” jelasnya.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved