Rabu, 15 April 2026

WFH Bikin Nyaman, Tapi Jangan Abaikan Dampak Kesehatan yang Terjadi, Risiko Obesitas Mengintai

Kebijakan work from home (WFH) juga menyimpan risiko kesehatan yang kerap tidak disadari. Obesitas hingga gangguan mental mengancam.

Freepik
ILUSTRASI WFH - Foto ini diambil dari Freepik pada Minggu (31/8/2025). Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi Provinsi DKI Jakarta mengeluarkan Surat Edaran Nomor e-0014/SE/2025 tentang Himbauan Bekerja dari Rumah (Work From Home), 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

Ringkasan Berita:
  • Kebijakan work from home (WFH) juga menyimpan risiko kesehatan yang kerap tidak disadari.
  • Jika tidak dirancang dengan baik, WFH justru bisa memicu masalah kesehatan fisik maupun mental.

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di balik berbagai manfaatnya, kebijakan work from home (WFH) juga menyimpan risiko kesehatan yang kerap tidak disadari.

Jika tidak dirancang dengan baik, WFH justru bisa memicu masalah kesehatan fisik maupun mental.

Baca juga: Pakar Ungkap Manfaat Kesehatan Tersembunyi di Balik Penerapan WFH

Dokter, peneliti Global Health Security, dan pakar epidemiologi Dr. Dicky Budiman, B.Med., MD., MScPH., Ph.D, mengingatkan bahwa kebijakan ini tidak selalu berdampak positif.

“Dan ini juga krusial ya, karena banyak studi terbaru menekankan juga bahwa kalau desain kebijakannya tidak tepat, ya ini akan melahirkan yang disebut dengan heightened health risk ya,” ujarnya pada Tribunnews, Minggu (12/4/2026). 

Risiko Kesepian dan Gangguan Mental

Salah satu dampak yang paling sering muncul adalah gangguan kesehatan mental.

WFH membuat interaksi sosial berkurang, terutama interaksi informal yang biasanya terjadi di tempat kerja.

Kondisi ini dapat memicu rasa kesepian, isolasi sosial, hingga depresi ringan hingga sedang.

Selain itu, muncul juga fenomena digital fatigue akibat penggunaan perangkat digital secara terus-menerus.

Minimnya interaksi langsung membuat dukungan sosial (social buffering) berkurang, yang sebelumnya berperan penting dalam menjaga kesehatan mental pekerja.


Gaya Hidup Sedentari dan Risiko Obesitas

Ngemil atau snacking menjadi aktivitas yang kerap kali dilakukan saat orang butuh makanan untuk meningkatkan mood. Salah satu camilan sehat yang bisa dikonsumsi adalah mengandung multigrain kaya akan serat.
Ngemil atau snacking menjadi aktivitas yang kerap kali dilakukan saat orang butuh makanan untuk meningkatkan mood. Salah satu camilan sehat yang bisa dikonsumsi adalah mengandung multigrain kaya akan serat. (Dok. Freepik)

WFH juga berkaitan dengan perubahan gaya hidup yang lebih pasif.

Aktivitas fisik cenderung menurun karena pekerja lebih banyak duduk di depan layar.

“Nah selain itu pada beberapa individu ya ini bisa makin sedentary lifestyle ya jadi mager-mager ya. Risiko metabolik akhirnya meningkatkan,” jelas Dicky.

Kondisi ini meningkatkan risiko obesitas dan sindrom metabolik, yang saat ini menjadi salah satu masalah kesehatan global.

Peningkatan waktu layar (screen time) juga memperburuk kondisi tersebut, terutama jika tidak diimbangi dengan aktivitas fisik.

Masalah Nyeri Otot dan Postur Tubuh

Ilustrasi nyeri otot
Ilustrasi nyeri otot (eatthis.com)

Tidak semua rumah didesain sebagai tempat kerja.

Banyak pekerja menggunakan meja atau kursi yang tidak ergonomis.

Akibatnya, muncul berbagai keluhan seperti nyeri punggung, nyeri leher, hingga cedera akibat gerakan berulang (repetitive strain injury).

Masalah ini menjadi salah satu isu besar dalam kesehatan kerja (occupational health) sejak maraknya WFH.

 

Jam Kerja Tidak Jelas, Risiko Burnout Meningkat

Ilustrasi WFH.
Ilustrasi WFH. (Shutterstock)

WFH juga dapat membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi kabur.

Jam kerja yang tidak terdefinisi dengan jelas berpotensi membuat seseorang bekerja lebih lama dari seharusnya.

“Termasuk juga potensi blurring boundary atau ini work-life conflict ya. Jadi jam kerjanya jadi tidak terdefinisi, kadang tidak terbatas,” ujar Dicky.

Kondisi ini meningkatkan risiko kelelahan kronis atau burnout, yang justru berdampak negatif pada kesehatan dan produktivitas.

Potensi Ketimpangan Sosial

Tidak semua pekerjaan bisa dilakukan dari rumah.

Pekerja di sektor informal, manufaktur, atau layanan langsung tetap harus bekerja secara fisik.

Hal ini menciptakan kesenjangan dalam kebijakan.

“Ada potensi kerugian ataupun risiko ketimpangan sosial ya. Karena tidak semua pekerjaan itu bisa WFA,” jelasnya.

Jika tidak diimbangi dengan kebijakan yang adil, kondisi ini dapat memperlebar kesenjangan kesehatan (health gap) di masyarakat.

WFH Bukan Solusi Tunggal

Dicky menegaskan bahwa WFH tidak boleh dipandang sebagai solusi tunggal.

Kebijakan ini harus dirancang secara komprehensif dan berbasis risiko.

“Jadi kalau saya melihat ya WFA ini sebaiknya tidak dipandang sebagai kebijakan tunggal ya. Tapi sebagai public health intervention ataupun satu public intervention berbasis konteks ya,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya pedoman yang jelas, termasuk terkait ergonomi, kesehatan mental, hingga pengaturan jam kerja.

WFH tetap bisa menjadi solusi jika diterapkan dengan pendekatan yang tepat.

Model kerja hybrid yang fleksibel dinilai sebagai pilihan yang lebih ideal.

Dengan desain kebijakan yang matang, manfaat WFH dapat dimaksimalkan tanpa mengabaikan risiko yang ada.

Sebaliknya, tanpa pengaturan yang jelas, WFH justru berpotensi menciptakan masalah kesehatan baru di masyarakat.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved