Tak Cuma Biaya Berobat, Ini Beban Tersembunyi Pasien Kanker yang Sering Terabaikan
Mulai dari kehilangan penghasilan, biaya transportasi ke rumah sakit, hingga kebutuhan sehari-hari selama pengobatan.
Data menunjukkan dampak nyata dari beban biaya ini.
Sebagian pasien bahkan terpaksa menghentikan pengobatan karena tidak mampu menanggung biaya.
“16 persen dia tidak melanjutkan pengobatan,” ungkapnya.
Selain itu, banyak pasien kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan.
“56 persen income loss, 41 persen tidak dapat kerja,” tambahnya.
Di Indonesia, Kondisinya Lebih Berat
Situasi di Indonesia juga tidak kalah memprihatinkan.
Berdasarkan penelitian di RSCM, sebagian besar pasien mengalami beban biaya yang sangat berat.
“50-60 persen pasien kita mengalami yang namanya catastrophic spending,” jelasnya.
Artinya, pengeluaran mereka mencapai lebih dari 40 persen dari kapasitas finansial.
Bahkan, sekitar 70 persen pasien mengalami financial toxicity.
Baca juga: Netanyahu Diam-Diam Didiagnosis Kanker Prostat, Kini Sudah Jalani Operasi
Lingkaran Setan Kanker
Prof. Soehartati menggambarkan kondisi ini sebagai vicious circle atau lingkaran setan.
Saat seseorang terkena kanker, biaya meningkat, produktivitas menurun, dan tekanan ekonomi semakin besar.
“Morbidity cost itu adalah ketika sakit kan gak bisa kerja maksimal, kemudian harus hire orang, makanan spesial on cost dan sebagainya,” jelasnya.
Jika tidak tertangani, kondisi ini bisa berujung pada kehilangan nyawa akibat keterbatasan akses pengobatan.
Solusi: Bukan Hanya Mengobati, Tapi Memahami
Menurutnya, pendekatan penanganan kanker tidak bisa hanya fokus pada pasien secara individu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ILUSTRASI-KANKER-3124wdfsdfsd.jpg)