Wawancara Eksklusif
VIDEO EKSKLUSIF Yani Panigoro: Kader Penyembuh TBC Bergerak Pakai Hati Meski Ekonomi Pas-pasan
“Betapa kader itu mulia hatinya. Walaupun secara ekonomi mungkin mereka kurang, tapi mau bergerak pakai hati”
Ringkasan Berita:
- Ir. Yani Yuhani Panigoro kini memegang tongkat estafet kepemimpinan di Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI).
- PPTI mengandalkan strategi TOSS (Temukan, Obati, Sampai Sembuh) untuk menekan angka penderita TBC di Indonesia.
- Yani Panigoro optimistis target eliminasi TBC 2030 bisa tercapai jika pemerintah, masyarakat, dan penderita bergerak bersama seperti saat menghadapi pandemi Covid-19.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyakit Tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia.
Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2024, Indonesia menjadi negara dengan kasus TBC tertinggi kedua di dunia. Jumlahnya diperkirakan mencapai 1,09 juta kasus dengan sekitar 125 ribu kematian setiap tahun.
Ketua Umum Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), Yani Yuhani Panigoro, mengatakan perjuangan melawan TBC tidak lepas dari peran para kader relawan yang mendampingi pasien setiap hari.
Yani Panigoro menceritakan perjuangan para kader PPTI dalam mendukung pemberantasan TBC di Indonesia beserta tantangannya.
Menurut dia, para kader rela datang dari rumah ke rumah untuk memastikan pasien minum obat rutin selama enam bulan tanpa putus.
“Betapa kader itu mulia hatinya. Walaupun secara ekonomi mungkin mereka kurang, tapi mau bergerak pakai hati,” ujar Yani Panigoro, saat sesi wawancara eksklusif bersama Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra, di Studio Tribunnews, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Ia menjelaskan, pengobatan TBC tidak mudah karena pasien harus disiplin minum obat setiap hari.
Jika berhenti di tengah jalan, penyakit bisa semakin parah dan menular ke orang lain.
Karena itu, kader memiliki tugas penting untuk terus mengingatkan pasien agar tetap menjalani pengobatan sampai sembuh.
Yani juga menyoroti kondisi banyak penderita TBC yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Tidak sedikit pasien yang kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, padahal mereka harus tetap menjaga kondisi tubuh selama pengobatan.
“Penderita TB itu berat. Berat badan menurun, harus minum obat tiap hari, tapi makan juga kadang tidak lengkap,” katanya.
Menurut Yani, persoalan TBC bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan kondisi ekonomi masyarakat.
Baca juga: Kisah Yani Panigoro Jadi Ketua Umum PPTI: Bukan Dokter, Tapi Terpanggil Urus Penyakit TBC
Ia menyebut banyak kasus TBC ditemukan di lingkungan padat penduduk dengan ventilasi rumah yang kurang baik dan akses makanan bergizi yang terbatas.
Selain pengobatan, Yani mengingatkan pentingnya pencegahan sederhana untuk mengurangi penularan TBC, seperti memakai masker hingga menjaga sirkulasi udara rumah.
“Kalau penderita pakai masker, penularan bisa dicegah. Bakteri TB juga bisa mati kalau kena sinar matahari,” ujarnya.
Di usia ke-58 tahun, PPTI terus melakukan edukasi ke masyarakat melalui kader, sekolah, kampus, hingga media sosial agar semakin banyak orang sadar bahwa TBC bisa disembuhkan jika ditangani dengan disiplin.
“Jangan pernah lelah membantu. TB bisa sembuh asal konsisten berobat,” kata Yani.
Strategi TOSS
Yani menekankan pentingnya peran kader di tingkat akar rumput untuk mendeteksi penderita TBC.
PPTI mengandalkan strategi ‘TOSS’ yakni Temukan, Obati, Sampai Sembuh, yang diadopsi dari program Kementerian Kesehatan.
Yani menyebut, garda terdepan dari program ini bukanlah dokter, melainkan para ibu rumah tangga yang menjadi relawan atau kader.
"Siapa yang menemukan penderita? Apakah saya yang door-to-door? Ya kapan saya tidurnya kalau begitu. Maka dari itu, kita punya banyak kader. Ibu-ibu biasa yang terpanggil hatinya untuk mencari orang-orang yang suspect TBC," kata Yani.
Tugas para kader ini tergolong berat dan membutuhkan ketelatenan tinggi.
Setelah menemukan warga yang diduga menderita TBC, mereka membawanya ke Puskesmas.
Jika terbukti positif, penderita harus menjalani pengobatan selama enam bulan berturut-turut tanpa boleh terputus satu hari pun.
"Kasih obat itu satu hal, tapi memastikan mereka minum obat setiap hari selama enam bulan itu tidak gampang. Di sinilah peran kader untuk mendampingi dan mengingatkan supaya disiplin. Kalau tidak tuntas, justru bisa menularkan ke yang lain," urai Yani.
Hingga saat ini, PPTI telah merambah ke 14 wilayah provinsi dengan 64 cabang tingkat kota dan 120 anak ranting.
Yani menekankan, edukasi yang dilakukan kader sangat krusial karena banyak penderita yang tidak menyadari dirinya sakit atau menganggap remeh gejala batuk.
"TBC itu beda dengan COVID. Kalau COVID deteksinya cepat dan orang takut. Kalau TBC, orang batuk-batuk dianggap nanti juga sembuh sendiri. Tiba-tiba sudah batuk darah dan terlambat. Maka pendampingan kader ini sangat menyentuh hati saya karena mereka mau berkorban waktu dan tenaga," jelasnya.
Tingginya angka penyakit TBC di Indonesia dinilai memiliki korelasi kuat dengan tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat.
Yani Panigoro membandingkan kondisi kesehatan masyarakat yang tinggal di perumahan layak dengan warga yang bermukim di kawasan padat penduduk.
"Penderita TBC di kota kalau hidup sehat, makan cukup, gizi lengkap, dan rumah ada jendelanya, biasanya aman. Tapi coba lihat di daerah yang rumahnya mepet-mepet, tidak ada jendela, tidak ada ventilasi. Satu rumah bisa diisi 10 orang," ujar Yani.
Optimis Target Eliminasi TBC 2030 Tercapai
Pemerintah Indonesia memasang target ambisius untuk mengeliminasi Tuberkulosis (TBC) pada tahun 2030 mendatang.
Menanggapi hal itu, Yani Panigoro menyatakan optimisme yang dibarengi dengan catatan penting.
Ia berkaca pada keberhasilan Indonesia menangani pandemi COVID-19 dalam waktu singkat.
Menurutnya, TBC juga bisa dihilangkan asalkan ada kerja sama multisektor yang solid.
"COVID kok bisa selesai? Karena semua pihak ikut, semua nurut. TBC juga bisa kalau penderita, pemerintah, dan masyarakat paham bahayanya. Tantangannya adalah membuat semua orang mengerti bahwa TBC bisa sembuh asal konsisten," kata Yani.
Kisah Yani Panigoro Jadi Ketua Umum PPTI
Sosok Yani Panigoro kini memegang tongkat estafet kepemimpinan di PPTI.
Organisasi nirlaba ini bukanlah lembaga baru, melainkan organisasi pemberantasan TBC tertua di tanah air yang lahir sejak 1968.
Yani menceritakan alasan di balik kesediaannya menjadi Ketua Umum PPTI meskipun dirinya bukan berlatar belakang medis.
Iai mengakui bahwa keterlibatannya merupakan bentuk menjaga legacy atau warisan perjuangan keluarga besar Panigoro.
"Kakak saya yang paling besar, Pak Arifin Panigoro, itu sejak tahun 1994 sudah sangat concern terhadap TBC ini. Beliau banyak memberikan donasi dan dukungan untuk pendirian gedung PPTI," ujar Yani.
Yani menjelaskan, perjuangan tersebut kemudian dilanjutkan oleh istri mendiang Arifin Panigoro, Raisis Panigoro, yang menjabat Ketua Umum PPTI selama 12 tahun.
Setelah keduanya tiada, para pengurus meminta Yani untuk memimpin organisasi.
"Background saya memang bukan dokter, saya engineer lulusan ITB. Tapi dengan pengalaman manajemen yang saya miliki, saya merasa terpanggil untuk meneruskan perjuangan ini," ucapnya.
Simak wawancara lengkap tentang perjuangan melawan TBC, kisah para kader, dan kondisi nyata penderita di Indonesia.
Saksikan kisah dan wawancara eksklusif selengkapnya hanya di YouTube Tribunnews!
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.